
Camping 1
Lamanya persahabatan tidak di ukur dengan waktu.
Tapi seberapa besar rasa peduli, dan nyaman kita akan hal tersebut.
***
Langit biru menampakkan senyumnya setelah langit
malam kembali ke peraduannya. Matahari mulai melepaskan kerinduannya pada
dunia. Awan-awan putih saling memeluk erat. Burung-burung mulai bernyanyi,
pohon-pohon pun bergoyang, dan udara dingin yang malu-malu membuat suasana pagi
ini terlihat sangat indah.
Namun, keindahan pagi ini tidak bisa terasa oleh
Galmoners. Mahda dan kedua sahabatnya, tengah duduk lesu di pinggir lapangan
sekolah.
Hari ini, mereka semua akan pergi camping. Murid
baru dan anak-anak lainnya mulai memasuki bis mereka. Tapi, tidak dengan
Galmoners.
Hari ini, ketiga gadis cantik tersebut tengah galau
masal. Alasan kesedihan mereka adalah, Fresa Aditya. Sahabat mereka yang satu
itu, kemarin di bawa ke Jerman oleh Faza dan Felly. Entah alasannya apa, mereka
pun tidak tahu. Bahkan Gibran dan Fanisa yang sahabat Fresa sejak kecil tidak
tahu menahu akan hal tersebut.
"Gue tau kalian sedih. Tapi kalau gue kasih
tau alasan dia pergi gue yakin kalian akan lebih sedih. Biarkan Fresa di
Jerman. Berdoa saja semoga dia kembali dalam waktu dekat. Ya, terkadang ada
sebuah rahasia yang tidak bisa kita jelaskan. Bukan karena kita tidak percaya,
melainkan takut akan kesedihan yang dirasakan setelah menjelaskan semuanya. Gue
yakin setelah Fresa kembali, dia akan menceritakan semuanya sama kalian. Karena
gue pun tidak tahu alasan dia ke Jerman. Bahkan bonyoknya tidak mau menjelaskan
apapun. Jadi, kalian sudah tahu bukan? Gue gak tahu apa-apa tentang Fresa.
Sejak kita berpisah, semua terasa aneh. Bahkan gue rasa Fresa selalu
menyembunyikan rahasianya dengan baik. Buktinya kejadian beberapa hari ini ia
tidak mau menyampaikan apapun. Ya, gue harap sepulangnya dari sana kita semua
mendengar penjelasan darinya." Penjelasan Gibran membuat Mahda dan
kawan-kawannya sedikit tenang. Semua yang Gibran ucapkan ada benarnya. Tidak
semua rahasia bisa kita bagi apalagi jika itu menyangkut sebuah luka. Ya,
Galmoners berharap. Fresa kembali dengan baik-baik saja dan semua yang Fresa
sembunyikan akan dijelaskan olehnya.
Gibran dan Galmoners mulai menaiki bis mereka,
dengan wajah tidak bersemangat mereka duduk di bangku masing-masing. Melihat
Galmoners galau, FEGA langsung mengambil tempat duduk di samping mereka.
Sedangkan Gibran? Dia lebih asik mendengarkan lagu-lagu yang Fresa cover. Ya,
setidaknya itu pengobat rindunya saat ini.
"Mahda! Kenapa si lu diam aja? Sariawan? Bibir
pecah-pecah? Ah! Atau tenggorokan kering? Adam sari aja!" Celetuk Evan.
"Lu cocok jadi sales. Sangat berbakat!"
Balas Mahda sinis.
Mahda tidak tahu sejak kapan Evan duduk di
sampingnya. Apa karena ia kepikiran Fresa jadi lupa sekitar? Ah! Menyebalkan. Padahal
sehari Fresa pergi ia sudah seperti ini. Ternyata perpisahan itu berat ya.
"Mahda, gue tau lu lagi sedih karena Fresa
tidak bisa gabung. Tapi, jangan gini juga dong! Gue sedih liatnya. Lu seperti
raga tanpa jiwa. Baru sahabat aja lu begini, apalagi doi." Kata Evan.
"Terkadang perlakuan kita ke sahabat itu bisa
melebihi perlakuan kita kepada kekasih. Kenapa? Karena sahabat sejati tidak
akan pernah pergi di saat kita terjatuh, dia tidak akan pernah pergi di saat
kita mengusirnya. Bahkan, dia ikut sakit saat kita merasa sakit. Jadi lu tahu
kan? Fresa itu sangat berarti buat gue dan yang lain. Lebay ya?" senyuman
sendu Mahda membuat Evan menyadari satu hal. Ya, di saat dirinya terjatuh
ketiga sahabatnya selalu setia menemaninya. Sekarang Evan mengerti arti sebuah
quote yang ia lihat. Kalau sahabat tidak akan pernah meninggalkan kita di saat
sulit.
"Gak kok, maaf gue gak tau kalau lu lagi sedih
banget." Balas Evan menyesal.
"It's okay. Gue mau tidur dulu, kalau sampai
bangunin gue ya! Dari pada kepikiran sama Fresa lebih baik gue tidur."
Setelah Mahda berucap, Evan langsung melihat wajah tenang Mahda yang mulai
tenggelam dalam mimpi. Tidak tega melihat posisi Mahda saat ini, Evan langsung
memindahkan kepala Mahda ke bahunya berharap dengan itu Mahda bisa tenang.
Jika Mahda tertidur, maka Fanisa sedang menatap
pepohonan hijau melalui kaca bisnya. Fano yang duduk di sampingnya sangat
mengerti jika Fanisa merindukan sahabatnya. Terlihat jelas saat Fanisa melihat
sebuah video, di sana Fanisa tersenyum lalu tiba-tiba ia sedih. Hal itu membuat
Fano khawatir.
"Terkadang, semua yang kita inginkan tidak
sejalan dengan garis takdir. Tapi, jangan karena tidak sejalan kita bersedih.
Karena apa yang direncanakan olehnya pasti yang terbaik untuk kita."
Fanisa menatap Fano dengan wajah sendunya. Tidak terasa, air mata mengalir di
pipi tirusnya. Entah kenapa, Fanisa ingin menangis saat ini. Seperti sesuatu
buruk terjadi pada Fresa.
Fano menghapus air mata Fanisa melalui jari-jari
besarnya. Dengan sebuah senyuman, Fano harap Fanisa mengerti. Semua yang akan
terjadi akan baik-baik saja.
Kiki Rahardja, sedang asik menyaksikan video
rekaman saat mereka jalan-jalan. Di sana ia melihat senyum bahagia Fresa.
Namun, sekarang senyum itu sudah jarang ia lihat. Fresa berubah sejak kejadian
ia hampir di lecehkan. Jarang sekali Fresa tersenyum di depannya. Hanya sebuah
senyum tipis atau paksaan yang biasa Kiki lihat.
"Tanyakan yang ingin kamu tanyakan dan tunggu
di saat kamu memang harus menunggunya. Karena tidak selamanya sesuatu yang kita
rasakan harus di umbar kepada orang lain." Ucapan Arkan membuat Kiki yang
sedari tadi merenung langsung tersenyum.
"Jika salah satu sahabat kamu menyembunyikan
rahasia, apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Kiki.
"Menunggu. Kadang ada masalah yang gak bisa
kita paksakan. Jadi lebih baik menunggu," balas Arkan.
Setelah Arkan membahas ucapannya, suara pesan masuk
menarik perhatian Kiki.
Galmoners
Fresa
Eh cuyy! Di sini sepi. Kangen kalian deh gue. 🙃
Fanisa
Tuh kan Ca, gue bilang apa! Lebih baik lu gak usah
ikut Faza. Ah! Gue tau, jangan-jangan Faza nikah ya?😌
Fresa
Nikah sama siapa? Kambing? Kakak gue tuh gengsinya
tinggi.😪
Kiki
Sama kaya lu! Gengsi tapi mau kan sama Gibran? 😏
Fresa
Jangan bahas dia okey! Gue jadi ke ingat dia nyium
gue. Aishh menyebalkan! 😤
Kiki
Menyebalkan tapi suka. By the way Mahda kemana ya?
Fanisa
Dia bobo di bahunya Evan lohhh
Fanisa

(Anggap di dalam bis, dan itu Evan sama Mahda)
Fresa
*****! Mahda
Kiki
Maklumlah Fan, gue kan di belakang lu. Jadi gue
tahu kalau si Mahda lagi modus.
Fanisa
Mahda kaga modus *****, tapi Evan terlalu perhatian
sama Mahda. Doakan saja dia the next Fresa.
Fresa
The next Fresa apaan?! Gue sama Gibran gak ada
apa-apa ya! Emang aja tuh brengsek ngeselin!
Fanisa
Ngeselin atau ngangenin?
Kiki
Ngeselin atau ngangenin? 999+
Fresa
Ngangenin
Eh salah ngeselin maksudnya
Itu typo
Fanisa
Ada ya typo gitu wwkwkw
Kiki
Biarkan Fresa bahagia, dia jadian kita palakin dia
makan-makan di Dago.
Fanisa
Setuju!
Arkan dan Fano tersenyum lega, saat melihat orang
yang di cintai mereka sudah kembali seperti sediakala.
***
Acara camping hari pertama dimulai. Galmoners dan
FEGA mulai mempersiapkan apa saja yang akan mereka lakukan untuk kegiatan hari
ini. Di bantu dengan senior dan anak OSIS lainnya.
Fanisa dan Fano di tugaskan untuk melihat jalur
yang akan mereka gunakan untuk jerit malam. Kiki dan Arkan menyiapkan apa saja
yang harus di butuhkan untuk kebutuhan tubuh anak-anak. Sedangkan Mahda dan
Evan? Keduanya tengah berjalan memasuki hutan guna mencari kayu bakar. Sampai,
Evan melihat Alex tengah melakukan hal tidak pantas untuk anak SMA dengan
Cheryl. Membuat dia mau tidak mau langsung berdiri di hadapan Mahda.
"Gue tau apa yang mereka lakukan. Mungkin
sekarang gue tau alasan dia mutusin gue." Ucap Mahda lirih.
Melihat kesedihan di mata Mahda membuat Evan
refleks memeluk tubuh Mahda. Gadis yang selalu ceria di matanya, ternyata lebih
rapuh dari yang terlihat.
"Sakit Van... Sakit sekali. Jika dia butuh
seseorang untuk memenuhi keinginannya, kenapa harus gue jadi pacarnya. Gue
bahkan pernah bentak Fresa karena gak percaya dengan ucapannya. Dan sekarang
gue nyesel Van. Harusnya gue percaya dengan sahabat gue, bukan cowok brengsek
itu! Hikss..."
"Udah jangan nangis, terkadang kita memang
sulit mempercayai suatu hal padahal sebenarnya baik untuk kita. Lupakan
kejadian tadi! Kita harus cari kayu bakar, biasa anak tiri selalu melakukan
pekerjaan berat." Evan mengurai pelukannya pada Mahda. Kalau lama-lama
memeluk Mahda nanti di cepat is dead. Because, jantungnya berdebar sangat
kencang saat ini.
"Woii! Jangan ciuman mulu! Lu kata orang
barat. Lari dikit aja ngos-ngosan sok ciuman. Dasar kids jaman now!"
Teriak Evan membuat Mahda tertawa. Ingatkan Mahda untuk berterima kasih pada
Evan nanti.
***
Kini, Galmoners sedang merapikan tas mereka.
Setelah melakukan tugasnya, mereka beristirahat di tenda mereka.
"Tadi gue lihat Alex sama Cheryl." Kata
Mahda.
"Terus lu cemburu?! Udahlah Da! Lupakan si
brengsek itu!" Omel Fanisa.
"Bukan itu Fres!" Balas Mahda spontan.
"Fres?! Gue Fanisa Da!" Balas Fanisa
kesal. Ini bukan kali pertama Mahda salah menyebutkan nama, tapi sering! Dan
kadang membuat Fanisa dan Fresa bingung.
"Lagi nama samaan! Jangan salahin gue."
Ucap Mahda acuh tak acuh.
"Sama apaan si Da! Fanisa dan Fresa tidak
ad--"
"I know! Tapi ada yang lebih penting dari
kebodohan gue!" Ucap Mahda serius.
"Apaan?" Balas Fanisa dan Kiki.
"Gue u--"
"Ke lapangan sekarang yang lain udah nunggu."
Perintah Arkan memotong pembicaraan Mahda.
"Arkan sialan! Bisa gak si datangnya nanti
aja?! Arghhh..." Ucap Mahda kesal. Ia pergi meninggalkan Arkan dan kedua
sahabatnya dengan perasaan dongkol.
Melihat Mahda kesal membuat Fanisa tertawa,
setidaknya kekesalannya terbalas oleh Arkan.
"Jangan mikirin si Mahda. Obatnya habis."
Kata Fanisa.
Melihat kebahagiaan di wajah Galmoners membuat dua
sosok yang bersembunyi tidak jauh dari mereka geram. Ia bersumpah akan membuat
permainan yang ia buat semakin menegangkan. Tidak peduli apa yang keduanya
dapatkan nanti. Yang terpenting mereka hancur itu sudah membuat bahagia.
❤️❤️❤️