Galmoners

Galmoners
6



Camping 1


 


 


Lamanya persahabatan tidak di ukur dengan waktu.


Tapi seberapa besar rasa peduli, dan nyaman kita akan hal tersebut.


 


 


***


 


 


Langit biru menampakkan senyumnya setelah langit


malam kembali ke peraduannya. Matahari mulai melepaskan kerinduannya pada


dunia. Awan-awan putih saling memeluk erat. Burung-burung mulai bernyanyi,


pohon-pohon pun bergoyang, dan udara dingin yang malu-malu membuat suasana pagi


ini terlihat sangat indah.


 


 


Namun, keindahan pagi ini tidak bisa terasa oleh


Galmoners. Mahda dan kedua sahabatnya, tengah duduk lesu di pinggir lapangan


sekolah.


 


 


Hari ini, mereka semua akan pergi camping. Murid


baru dan anak-anak lainnya mulai memasuki bis mereka. Tapi, tidak dengan


Galmoners.


 


 


Hari ini, ketiga gadis cantik tersebut tengah galau


masal. Alasan kesedihan mereka adalah, Fresa Aditya. Sahabat mereka yang satu


itu, kemarin di bawa ke Jerman oleh Faza dan Felly. Entah alasannya apa, mereka


pun tidak tahu. Bahkan Gibran dan Fanisa yang sahabat Fresa sejak kecil tidak


tahu menahu akan hal tersebut.


 


 


"Gue tau kalian sedih. Tapi kalau gue kasih


tau alasan dia pergi gue yakin kalian akan lebih sedih. Biarkan Fresa di


Jerman. Berdoa saja semoga dia kembali dalam waktu dekat. Ya, terkadang ada


sebuah rahasia yang tidak bisa kita jelaskan. Bukan karena kita tidak percaya,


melainkan takut akan kesedihan yang dirasakan setelah menjelaskan semuanya. Gue


yakin setelah Fresa kembali, dia akan menceritakan semuanya sama kalian. Karena


gue pun tidak tahu alasan dia ke Jerman. Bahkan bonyoknya tidak mau menjelaskan


apapun. Jadi, kalian sudah tahu bukan? Gue gak tahu apa-apa tentang Fresa.


Sejak kita berpisah, semua terasa aneh. Bahkan gue rasa Fresa selalu


menyembunyikan rahasianya dengan baik. Buktinya kejadian beberapa hari ini ia


tidak mau menyampaikan apapun. Ya, gue harap sepulangnya dari sana kita semua


mendengar penjelasan darinya." Penjelasan Gibran membuat Mahda dan


kawan-kawannya sedikit tenang. Semua yang Gibran ucapkan ada benarnya. Tidak


semua rahasia bisa kita bagi apalagi jika itu menyangkut sebuah luka. Ya,


Galmoners berharap. Fresa kembali dengan baik-baik saja dan semua yang Fresa


sembunyikan akan dijelaskan olehnya.


 


 


Gibran dan Galmoners mulai menaiki bis mereka,


dengan wajah tidak bersemangat mereka duduk di bangku masing-masing. Melihat


Galmoners galau, FEGA langsung mengambil tempat duduk di samping mereka.


Sedangkan Gibran? Dia lebih asik mendengarkan lagu-lagu yang Fresa cover. Ya,


setidaknya itu pengobat rindunya saat ini.


 


 


"Mahda! Kenapa si lu diam aja? Sariawan? Bibir


pecah-pecah? Ah! Atau tenggorokan kering? Adam sari aja!" Celetuk Evan.


 


 


"Lu cocok jadi sales. Sangat berbakat!"


Balas Mahda sinis.


 


 


Mahda tidak tahu sejak kapan Evan duduk di


sampingnya. Apa karena ia kepikiran Fresa jadi lupa sekitar? Ah! Menyebalkan. Padahal


sehari Fresa pergi ia sudah seperti ini. Ternyata perpisahan itu berat ya.


 


 


"Mahda, gue tau lu lagi sedih karena Fresa


tidak bisa gabung. Tapi, jangan gini juga dong! Gue sedih liatnya. Lu seperti


raga tanpa jiwa. Baru sahabat aja lu begini, apalagi doi." Kata Evan.


 


 


"Terkadang perlakuan kita ke sahabat itu bisa


melebihi perlakuan kita kepada kekasih. Kenapa? Karena sahabat sejati tidak


akan pernah pergi di saat kita terjatuh, dia tidak akan pernah pergi di saat


kita mengusirnya. Bahkan, dia ikut sakit saat kita merasa sakit. Jadi lu tahu


kan? Fresa itu sangat berarti buat gue dan yang lain. Lebay ya?" senyuman


sendu Mahda membuat Evan menyadari satu hal. Ya, di saat dirinya terjatuh


ketiga sahabatnya selalu setia menemaninya. Sekarang Evan mengerti arti sebuah


quote yang ia lihat. Kalau sahabat tidak akan pernah meninggalkan kita di saat


sulit.


 


 


"Gak kok, maaf gue gak tau kalau lu lagi sedih


banget." Balas Evan menyesal.


 


 


"It's okay. Gue mau tidur dulu, kalau sampai


bangunin gue ya! Dari pada kepikiran sama Fresa lebih baik gue tidur."


Setelah Mahda berucap, Evan langsung melihat wajah tenang Mahda yang mulai


tenggelam dalam mimpi. Tidak tega melihat posisi Mahda saat ini, Evan langsung


memindahkan kepala Mahda ke bahunya berharap dengan itu Mahda bisa tenang.


 


 


Jika Mahda tertidur, maka Fanisa sedang menatap


pepohonan hijau melalui kaca bisnya. Fano yang duduk di sampingnya sangat


mengerti jika Fanisa merindukan sahabatnya. Terlihat jelas saat Fanisa melihat


sebuah video, di sana Fanisa tersenyum lalu tiba-tiba ia sedih. Hal itu membuat


Fano khawatir.


 


 


"Terkadang, semua yang kita inginkan tidak


sejalan dengan garis takdir. Tapi, jangan karena tidak sejalan kita bersedih.


Karena apa yang direncanakan olehnya pasti yang terbaik untuk kita."


Fanisa menatap Fano dengan wajah sendunya. Tidak terasa, air mata mengalir di


pipi tirusnya. Entah kenapa, Fanisa ingin menangis saat ini. Seperti sesuatu


buruk terjadi pada Fresa.


 


 


Fano menghapus air mata Fanisa melalui jari-jari


besarnya. Dengan sebuah senyuman, Fano harap Fanisa mengerti. Semua yang akan


terjadi akan baik-baik saja.


 


 


Kiki Rahardja, sedang asik menyaksikan video


rekaman saat mereka jalan-jalan. Di sana ia melihat senyum bahagia Fresa.


Namun, sekarang senyum itu sudah jarang ia lihat. Fresa berubah sejak kejadian


ia hampir di lecehkan. Jarang sekali Fresa tersenyum di depannya. Hanya sebuah


senyum tipis atau paksaan yang biasa Kiki lihat.


 


 


"Tanyakan yang ingin kamu tanyakan dan tunggu


di saat kamu memang harus menunggunya. Karena tidak selamanya sesuatu yang kita


rasakan harus di umbar kepada orang lain." Ucapan Arkan membuat Kiki yang


sedari tadi merenung langsung tersenyum.


 


 


"Jika salah satu sahabat kamu menyembunyikan


rahasia, apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Kiki.


 


 


"Menunggu. Kadang ada masalah yang gak bisa


kita paksakan. Jadi lebih baik menunggu," balas Arkan.


 


 


Setelah Arkan membahas ucapannya, suara pesan masuk


menarik perhatian Kiki.


 


 


Galmoners


 


 


Fresa


 


 


Eh cuyy! Di sini sepi. Kangen kalian deh gue. 🙃


 


 


Fanisa


 


 


Tuh kan Ca, gue bilang apa! Lebih baik lu gak usah


ikut Faza. Ah! Gue tau, jangan-jangan Faza nikah ya?😌


 


 


Fresa


 


 


Nikah sama siapa? Kambing? Kakak gue tuh gengsinya


tinggi.😪


 


 


Kiki


 


 


Sama kaya lu! Gengsi tapi mau kan sama Gibran? 😏


 


 


Fresa


 


 


Jangan bahas dia okey! Gue jadi ke ingat dia nyium


gue. Aishh menyebalkan! 😤


 


 


Kiki


 


 


Menyebalkan tapi suka. By the way Mahda kemana ya?


 


 


Fanisa


 


 


Dia bobo di bahunya Evan lohhh


 


 


Fanisa


 


 


 


 



 


 


(Anggap di dalam bis, dan itu Evan sama Mahda)


 


 


Fresa


 


 


*****! Mahda


 


 


Kiki


 


 


Maklumlah Fan, gue kan di belakang lu. Jadi gue


tahu kalau si Mahda lagi modus.


 


 


Fanisa


 


 


Mahda kaga modus *****, tapi Evan terlalu perhatian


sama Mahda. Doakan saja dia the next Fresa.


 


 


Fresa


 


 


The next Fresa apaan?! Gue sama Gibran gak ada


apa-apa ya! Emang aja tuh brengsek ngeselin!


 


 


Fanisa


 


 


Ngeselin atau ngangenin?


 


 


Kiki


 


 


Ngeselin atau ngangenin? 999+


 


 


Fresa


 


 


Ngangenin


 


 


Eh salah ngeselin maksudnya


 


 


Itu typo


 


 


Fanisa


 


 


Ada ya typo gitu wwkwkw


 


 


Kiki


 


 


Biarkan Fresa bahagia, dia jadian kita palakin dia


makan-makan di Dago.


 


 


Fanisa


 


 


Setuju!


 


 


Arkan dan Fano tersenyum lega, saat melihat orang


yang di cintai mereka sudah kembali seperti sediakala.


 


 


***


 


 


Acara camping hari pertama dimulai. Galmoners dan


FEGA mulai mempersiapkan apa saja yang akan mereka lakukan untuk kegiatan hari


ini. Di bantu dengan senior dan anak OSIS lainnya.


 


 


Fanisa dan Fano di tugaskan untuk melihat jalur


yang akan mereka gunakan untuk jerit malam. Kiki dan Arkan menyiapkan apa saja


yang harus di butuhkan untuk kebutuhan tubuh anak-anak. Sedangkan Mahda dan


Evan? Keduanya tengah berjalan memasuki hutan guna mencari kayu bakar. Sampai,


Evan melihat Alex tengah melakukan hal tidak pantas untuk anak SMA dengan


Cheryl. Membuat dia mau tidak mau langsung berdiri di hadapan Mahda.


 


 


"Gue tau apa yang mereka lakukan. Mungkin


sekarang gue tau alasan dia mutusin gue." Ucap Mahda lirih.


 


 


Melihat kesedihan di mata Mahda membuat Evan


refleks memeluk tubuh Mahda. Gadis yang selalu ceria di matanya, ternyata lebih


rapuh dari yang terlihat.


 


 


"Sakit Van... Sakit sekali. Jika dia butuh


seseorang untuk memenuhi keinginannya, kenapa harus gue jadi pacarnya. Gue


bahkan pernah bentak Fresa karena gak percaya dengan ucapannya. Dan sekarang


gue nyesel Van. Harusnya gue percaya dengan sahabat gue, bukan cowok brengsek


itu! Hikss..."


 


 


"Udah jangan nangis, terkadang kita memang


sulit mempercayai suatu hal padahal sebenarnya baik untuk kita. Lupakan


kejadian tadi! Kita harus cari kayu bakar, biasa anak tiri selalu melakukan


pekerjaan berat." Evan mengurai pelukannya pada Mahda. Kalau lama-lama


memeluk Mahda nanti di cepat is dead. Because, jantungnya berdebar sangat


kencang saat ini.


 


 


"Woii! Jangan ciuman mulu! Lu kata orang


barat. Lari dikit aja ngos-ngosan sok ciuman. Dasar kids jaman now!"


Teriak Evan membuat Mahda tertawa. Ingatkan Mahda untuk berterima kasih pada


Evan nanti.


 


 


***


 


 


Kini, Galmoners sedang merapikan tas mereka.


Setelah melakukan tugasnya, mereka beristirahat di tenda mereka.


 


 


"Tadi gue lihat Alex sama Cheryl." Kata


Mahda.


 


 


"Terus lu cemburu?! Udahlah Da! Lupakan si


brengsek itu!" Omel Fanisa.


 


 


"Bukan itu Fres!" Balas Mahda spontan.


 


 


"Fres?! Gue Fanisa Da!" Balas Fanisa


kesal. Ini bukan kali pertama Mahda salah menyebutkan nama, tapi sering! Dan


kadang membuat Fanisa dan Fresa bingung.


 


 


"Lagi nama samaan! Jangan salahin gue."


Ucap Mahda acuh tak acuh.


 


 


"Sama apaan si Da! Fanisa dan Fresa tidak


ad--"


 


 


"I know! Tapi ada yang lebih penting dari


kebodohan gue!" Ucap Mahda serius.


 


 


"Apaan?" Balas Fanisa dan Kiki.


 


 


"Gue u--"


 


 


"Ke lapangan sekarang yang lain udah nunggu."


Perintah Arkan memotong pembicaraan Mahda.


 


 


"Arkan sialan! Bisa gak si datangnya nanti


aja?! Arghhh..." Ucap Mahda kesal. Ia pergi meninggalkan Arkan dan kedua


sahabatnya dengan perasaan dongkol.


 


 


Melihat Mahda kesal membuat Fanisa tertawa,


setidaknya kekesalannya terbalas oleh Arkan.


 


 


"Jangan mikirin si Mahda. Obatnya habis."


Kata Fanisa.


 


 


Melihat kebahagiaan di wajah Galmoners membuat dua


sosok yang bersembunyi tidak jauh dari mereka geram. Ia bersumpah akan membuat


permainan yang ia buat semakin menegangkan. Tidak peduli apa yang keduanya


dapatkan nanti. Yang terpenting mereka hancur itu sudah membuat bahagia.


 


 


❤️❤️❤️