
🏥 Rumah Sakit 🏥
Malam ini, rembulan bersinar sangat terang. Bintang-bintang pun ikut bersinar menemani sang rembulan. Membuat siapapun sangat bahagia menikmati keindahan malam ini. Tapi, hal tersebut tidak terjadi dengan Gibran. Sosok tampan tersebut masih setia menunggu dokter keluar memeriksa kondisi Fresa. Entah apa yang mereka lakukan di sana, yang pasti sesuatu hal yang membuat Gibran menitikkan air mata.
Tepukan di bahu Gibran membuat sosok tersebut menengok ke sampingnya. Di sana kedua orangtuanya berdiri.
"Fresa kuat!" Ucapan itu yang selalu dia dengar dari beberapa orang. Bahkan Gibran tidak yakin apakah benar Fresa kuat? Bahkan Faza yang saudara sedarahnya saja tidak percaya jika Fresa kuat. Siapakah yang harus Gibran percayai?
"Gibran hanya mau dengar apa yang terjadi dengan Fresa." Balasan Gibran membuat semua yang ada di sana saling pandang. Bahkan kedua orangtua Fresa juga melakukan hal yang sama.
"Kami tidak bisa memberi tahu, karena ini kemauan Fresa. Jika kamu ingin, cari tahu sendiri. Dan jika kamu mendapatkan jawabannya jangan kaget." Ucap Frederick dingin.
Gibran tidak tahu, seberapa parah penyakit Fresa sampai harus dirahasiakan. Apa dia tidak berhak? Bukankah mereka akan menikah nantinya?
Di saat Gibran tengah asik dengan pikirannya. Fanisa dan Fano tiba dengan nafas memburu. Keduanya sama-sama panik saat mendapati pesan dari Gibran. Mau tidak mau mereka langsung ke rumah sakit.
"Gimana Fresa?!" Perkataan Fanisa membuat siapapun langsung menatap Fanisa.
"Fan jangan teriak-teriak." Bisik Fano, membuat Fanisa langsung mendelik ke arah cowok tampan tersebut.
Melihat Fresa sedang di periksa melalui kaca, membuat Fanisa paham pasti hal buruk benar-benar terjadi kepada Fresa.
"Fresa mana?!" Bentak Mahda membuat Fanisa dan yang lain langsung menengok ke arahnya.
Mahda bingung kenapa semuanya terdiam, namun saat Evan menunjukkan sesuatu. Saat itu juga Mahda terdiam kaku. Mesin denyutan jantung sudah terpasang di tubuh sahabatnya, begitupun dengan alat bantuan nafas.
Di seberang Mahda ada kedua orang tua Fresa. Di sana mama Fresa sedang menangis di pelukan suaminya, sama halnya dengan ibunda Gibran. Mahda dan Fanisa saling tatap.
"Fresa sakit apa Tante?" Pertanyaan Mahda membuat isak tangis Fresca dan Gisca terhenti.
"Jangan tanyakan hal yang tidak bisa di jelaskan. Mungkin sekarang belum saatnya kalian tahu." Kata Faza dingin.
Mahda yang masih bingung mencoba menerka-nerka apa yang terjadi dengan Fresa, sedangkan Evan sudah menghubungi Arkan untuk segera ke rumah sakit.
Di saat semua terdiam, Gibran memulai aksinya. Ia sudah tidak kuat melihat apa yang dokter lakukan pada Fresa.
"Kenapa harus nanti?! Apa tunggu Fresa mati baru kalian menjelaskan semuanya?!" Bentak Gibran.
"Gibran! Ucapan lu itu--"
"Kenapa sama ucapan gue Fan?! Salah? Gak! Sekarang lu pikir Fan, seandainya di sana Fresa tiada apa yang akan lu lakukan? Dan lu juga da! Gue heran lu sebodoh apa, liat ponsel Fresa di sana lu akan menemukan jawabannya!" Lepas mengeluarkan unek-uneknya, pintu ruangan Fresa terbuka. Gibran langsung mendekati Felly.
"Gimana Fresa?" Pertanyaan tersebut membuat Felly diam. Karena jika dia menjelaskan semuanya di sini, itu sama saja membongkar rahasia Fresa.
"Dia baik, hanya butuh penanganan khusus saat ini. Bisa kita bicara om.. tante?" Perkataan Felly kepada Fresca dan Frederick membuat Gibran menatap mereka tajam.
"Gue punya hak untuk tau nona Felly Alexander!" Bentak Gibran.
"Gue tahu lu itu tunangannya! Tapi ada kalanya lu cukup pura-pura gak tahu apa-apa. Kalau lu cerdas lu bisa tahu dengan sendirinya." Balas Felly dingin. Felly tidak bisa berbasa-basi dengan orang lain. Yang dia butuhkan saat ini adalah keluarganya.
"Sejak gue dan Fresa pergi bersamaan dan sejak saat lu terlalu fokus sama pacar sialan lu itu!" Balas Gibran ketus. Entah kenapa, malam ini Gibran akan membenci Mahda, karena ulah Mahda Fresa jadi sulit beristirahat. Gibran sangat tahu, jika Fresa pasti sedang mengumpulkan berbagai bukti. Terlihat jelas di dalam ponselnya. Ponsel?!
Mengingat itu, Gibran langsung merebut ponsel yang tadi dia berikan pada Mahda. Tidak menunggu lama lagi dia langsung membuka semua tempat yang Fresa sembunyikan. Sampai suatu folder menarik perhatiannya. Folder tersebut berisi foto rekam medis. Tidak perlu bertanya lagi, Gibran sudah paham dengan semua ini. Gibran menghapus folder tersebut dan kembali memberikan ponsel tersebut pada Mahda.
"Gue cuma kasih tahu sekali. Jangan libatkan Fresa dalam masalah setelah ini. Jika lu gak percaya dengan kejujuran Fresa ya sudah. Gue cuma bilang, jangan sampai lu nyesel suatu saat nanti!" Perkataan dingin Gibran membuat siapapun yang mendengarnya bisa merasakan emosi di dalam sana. Tepat saat Gibran meninggalkan mereka, Kiki dan Arkan tiba.
"Gibran kenapa?" Tanya Arkan.
"Dia kacau dan parahnya keluarga Fresa tidak ingin kita semua tahu tentang penyakit Fresa. Dan hal tersebut membuat Gibran murka." Balas Evan membuat Arkan mengangguk paham.
Di sisi lain Mahda dan gengnya sedang melihat semua hasil jepretan kamera Fresa dan terakhir yang membuat Mahda shock adalah foto Alex dan Cheryl di tempat yang sama dengannya. Mereka lagi-lagi melakukan hal yang membuat Mahda terlihat bodoh!
"Gue gak percaya. Silakan kalian hujat gue, gue gak peduli." Ucap Mahda langsung meninggalkan rumah sakit. Evan yang bingung langsung menyusul Mahda. Karena apapun yang terjadi Mahda tanggung jawabnya sekarang.
"Biarin si bodoh itu menenangkan diri." Kata Fanisa dingin.
"Tapi sampai kapan Fan?! Mahda itu sudah terlalu buta dengan Alex." Balas Kiki.
"Itulah cinta Ki, entah dia yang bodoh karena cinta atau memang dasarnya dia tidak pernah percaya sama kita? Who know?" Ucapan Fanisa membuat Kiki terdiam. Namun anehnya Kiki merasa perasaan aneh. Perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan.
"Kok gue ngerasa akan kehilangan seseorang ya Fan?" Pertanyaan Kiki membuat Fanisa menengok. Sama halnya dengan Kiki Fanisa juga merasakan hal yang sama. Entah Fresa yang akan pergi atau Mahda. Karena hanya dua orang tersebut yang berkesempatan untuk pergi.
"Kalian pulang saja sudah larut, besok kalian bisa ke sini." Kata Fresca kepada Fanisa dan Kiki.
"Sebenarnya saya mau stay Tante. Tapi, karena belum izin dan nanti gak enak sama Fano. Ya udah deh saya pulang dulu. Kalau ada apa-apa tolong kabari Fanisa ya Tante" perkataan Fanisa membuat Fresca tersenyum.
"Pasti Tante kabari." Balas ibu dua anak tersebut.
"Tante aku memang baru jadi teman Fresa, aku percaya apa yang Fresa sembunyikan dari kami itu demi kebaikan kami. Kami tahu Fresa kuat dan kami harap Tante berkenan untuk memberikan informasi mengenai keadaan Fresa." Kata Kiki. Senyum sendu mulai Kiki lihat dari wajah wanita dewasa di depannya. Kiki yakin penyakit Fresa bukan penyakit biasa.
"Baiklah Tante, kalau gitu kami pamit. Permisi semuanya." Ucap Arkan.
Di saat keempat orang tersebut meninggalkan rumah sakit, mereka tidak sengaja mendengar seseorang berdiri tidak jauh dari mereka seseorang tersebut tengah membelakangi mereka. Sehingga, sosok itu tidak tahu jika ada mereka.
"Kita lanjutkan permainan, karena Fresa sedang sakit. Jadi kita mulai adu domba Mahda dengan yang lain. Gue harap jangan ada kecacatan dalam hal ini. Jika iya? Gue bakal buat hidup lu menderita. Karena nyawa keluarga lu ada di tangan gue." Perkataan sosok di depannya membuat keempat orang tersebut menatap penuh kebencian, di saat Fanisa ingin mendekat Fano menahannya dan menarik Fanisa untuk bersembunyi. Sama halnya dengan Arkan dia juga melakukan hal yang sama sampai...
"Waktu kamu akan berakhir Aditya!" Ucap sosok dengan masker di wajahnya setelah itu, sosok tersebut hilang di balik kegelapan malam.
Fanisa dan yang lain keluar dari persembunyiannya, baru saja Fanisa ingin berucap sosok lain muncul di hadapan mereka.
"Gue pikir kalian bukan tipe orang yang kepo ternyata"
Mereka langsung memutar tubuhnya dan....
"Gibran?!" Teriak mereka.
"Gak usah kaget gitu, alasan gue pergi tadi mau ngejar dia dan ternyata gue menemukan jawabannya. Sekarang, yang bisa kita lakukan hanya satu. Pura-pura diam sampai rencana mereka berhasil, setelah itu kita putar keadaan gimana?" Ucapan Gibran yang membingungkan membuat Arkan memutuskan untuk bertemu kembali esok. Karena membuat rencana untuk menjebak orang jahat sangat sulit, apalagi jika dia memiliki mata-mata. Jadi mau tidak mau mereka menahan semua hal tersebut.
❤️❤️❤️❤️