Galmoners

Galmoners
Part 39



Extra Part



Wanita cantik dengan gaun pengantin berlarian memasuki rumah sakit di ikuti oleh beberapa orang di belakangnya.


Sambil menggendong anak laki-laki berusia satu tahun lebih, wanita tersebut terus menangisi seseorang yang tengah di bawa masuk ke dalam ICU.


Tiga brankar masuk ke dalam ICU. Entah apa yang akan terjadi nantinya, mereka semua tidak tahu akankah salah satu dari mereka tiada? Ataukah keduanya tiada? Atau keduanya selamat? Semua hanya jadi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otak kecil mereka.


Bahkan, seorang Mahda Adijaya yang biasanya terlihat tegar kali ini dia benar-benar kehilangan jiwanya. Fresa, selaku sahabatnya langsung mengambil alih anak kecil dalam gendongan Mahda. Karena ia tahu Mahda butuh waktu untuk meluapkan semua emosinya.


"Kenapa gak dia bunuh gue aja?! Kenapa harus mereka? Kenapa mereka mengorbankan dirinya buat gue?! Kenapa?! Kenapa Ca... Kenapa?! Hiksss...."


Tangisan Mahda membuat yang lain ikut merasakan kesedihan tersebut. Bahkan Fanisa dan Kiki langsung mendekap erat tubuh Mahda. Mereka harap, Mahda mengerti jika semua yang terjadi hari ini adalah takdir yang sudah di gariskan untuk kehidupannya.


Sejauh atau sekeras apapun kita menolak jika takdir sudah mengatakan seperti itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya doa yang bisa mengurangi nasib buruk kita.


"Karena mereka yakin, lu wanita yang kuat Da. Apapun yang terjadi hari ini jadikan pembelajaran. Dari pada nangis gak jelas, mending lu berdoa buat keselamatan mereka." Jawab Fresa.


Anak kecil di gendongan Fresa tersenyum tipis. Membuat Mahda dan yang lain saling pandang.


"Kenapa Alex mau sama lu Ca? Tadi sama gue diem aja. Bahkan gak tersenyum sedikitpun. Apa dia nurunin bapaknya, yang benci sama gue?" Pertanyaan Mahda membuat Fresa mendengus sebal.


"Lu pikir dia bayi apaan! Mungkin di takut melihat wajah lu yang amburadul itu." Sindir Fresa.


"Ihh kok lu ngeselin si Ca, gue lagi berduka ni." Balas Mahda sedih.


Fresa tidak merespon ucap Mahda, ia memilih berbincang dengan anak kecil yang ada di gendongannya.


"Udah lah Ca, lu cocok jadi mamah muda. Kapan lagi ye kan?" Suara tengil tersebut membuat Mahda langsung memutar tubuhnya, ia pikir Evan ternyata Gibran.


"Lu pikir jadi ibu itu mudah! Kalau ngomong sekate-kate." Dengus Fresa.


"Ih aku gak bohong sayang, cocok kok. Apa perlu kita menikah juga hari ini?" Ledek Gibran.


"Wahhhh... Ngajak ribut ni orang!!!" Ucapan Fresa membuat Alex menangis.


"Cupcupcuppp... Maaf ya, kakak gak sengaja serius deh. Jangan nangis lagi ya anak tampan."


Mendengar Fresa memuji Alex membuat Gibran mendengus kesal.


"Bisa banget modusnya tuh anak kecil." Gerutu Gibran namun di khiraukan oleh Fresa.


Pintu ruang ICU terbuka. Di sana dokter dan suster berdiri dengan raut wajah tidak mengenakan.


"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan mereka, tapi--"


"Mahda!"


Teriak Galmoners, mereka langsung membawa Mahda ke ruang perawatan sedangkan anak laki-laki? Mengurus pemakaman di bantu oleh para orang tua. Kepolisian yang seharusnya menangkap Alex gagal, karena sang pelaku memilih bunuh diri daripada menebus kejahatannya. Sungguh tidak adil bukan.



Seminggu sudah berlalu sejak kejadian memilukan tersebut. Mahda memilih mengurung diri daripada harus bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya.


Entah kenapa, Mahda belum siap untuk bertemu dengan mereka semua. Apalagi, melihat Alex kecil membuat Mahda teringat akan rasa sakitnya seminggu lalu.


"Kenapa harus seperti ini? Apa ini karma karena aku sering menolak kamu Van? Apa ini balasan untukku karena aku selalu menyia-nyiakan kamu? Kenapa Van?! Kenapa semua terasa tidak adil. Kenapa harus aku? Kenapa tidak orang lain saja?! Kenapa Van?! Hiksss...."


Tangisan Mahda terdengar begitu memilukan. Bahkan Fresa yang berdiri di depan kamar sahabatnya tidak berani membuka pintu tersebut.


"Kita pulang saja Alex, Tante Mahda sedang sedih." Kata Fresa kepada anak kecil yang ada di dalam gendongannya.


Sejak kejadian seminggu yang lalu, Fresa memutuskan untuk mengangkat Alex sebagai anaknya. Bahkan Gibran setuju dengan keputusan Fresa. Membuat gadis tomboi itu tersenyum lega.


"Sudah?" Tanya Gibran yang menunggu mereka di luar.


"Belum, Mahda masih sama seperti biasanya." Balas Fresa.


"Ya sudah lebih baik kita pulang, toh jika waktunya tiba dia akan menjelaskan semuanya." Ucap Gibran membuat Fresa menatap bingung.


"Aku ingat. Jangan di jelaskan kembali." Balas Fresa ketus.


Gibran menghela nafasnya, ia tidak bermaksud menyinggung Fresa tentang penyakitnya. Ia hanya ingin Fresa baik-baik saja.


"Lusa aku ke Jerman. Selama aku di sana jangan pernah dekat-dekat dengan pria manapun." Ancam Gibran.


"Hemm.. seharusnya aku bukan yang berbicara demikian? Sudahlah. Aku malas. Hati-hati di jalan." Pamit Fresa. Namun belum juga ia menginjakkan kakinya ke luar, Gibran menarik tangannya beruntung Fresa sigap jadi Alex kecil tidak kenapa-kenapa.


Cuppp...


"I love you." Kata Gibran


"Hemm.. too." Balas Fresa lirih namun masih di dengar oleh Gibran.


Melihat mobil tunangannya menghilang dari pelataran rumah, memutuskan Fresa untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok di depannya.


"Lu-- kok?!"



Mahda bangun dari tidurnya, entah kenapa saat ini Mahda merasa sangat pusing sekali. Bahkan rasanya ia sulit untuk bangun. Apa dirinya sakit?


Mahda menggelengkan kepalanya, ia mencoba berjalan ke arah luar. Namun bukannya berjalan dengan baik, Mahda hampir terjatuh dari tangga. Beruntung pria yang baru sampai di sana melihat. Jika tidak? Mungkin Mahda akan kehilangan nyawanya saat ini.


"Kamu hampir buat aku jantungan Da," bisik pria tersebut saat ia tengah mengompres Mahda dengan handuk kecil di tangannya.


"Gue bilang juga apa, ini gak baik buat Mahda!" Omel Fresa. Beruntung Alex ia tinggal jika tidak? Mungkin bayi tampan itu akan menangis.


"Bisa diem gak si lu?! Gue butuh bantuan lu bukan butuh omelan lu." Jawab si pria ketus.


"Serah dah, yang penting alasan lu akurat aja." Kata Fresa.


Nada dering ponsel Fresa mengalun begitu nyaring membuat Mahda yang terlelap langsung bangun seketika. Awalnya Mahda ingin sekali mengusir Fresa dari sana, karena sahabatnya itu mengangkat anak dari seseorang yang membunuh suaminya. Tapi, melihat sosok lain di sana membuat Mahda terdiam kaku.


"Ca, gue kayanya gila deh. Buktinya gue halusinasi Sekarang." Kata Mahda lirih.


"Lebay lu! Gue pulang ya, bebeb lu sudah sadar! Bye." Pamit Fresa. Toh alasan Fresa pulang karena Gibran mencari dirinya jadi dia memilih kembali ke rumahnya daripada menganggu waktu sahabatnya.


Kedua orang tersebut masih diam. Bahkan tidak ada yang berani membuka suara. Sampai...


"Kenapa berbohong? Jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini katakan. Kita bisa menunda pernikahan kita sampai waktu yang kita tentukan. Bukan malah kamu bermain api dengan Fresa!" Omel Mahda.


"Apa karena Alex kamu membenci Fresa? Sedangkal itukah pikiran kamu? Aku tidak meninggal Mahda, aku sudah siuman sehari setelah pemakaman mereka. Tapi aku memutuskan untuk tidak muncul di hadapan kalian semua kenapa? Karena aku takut Papaku akan membawaku kembali dengan cepat. Dan aku takut meninggalkan kamu dengan cepat." Mendengar penjelasan tersebut membuat Mahda bingung.


"Maksudnya?" Tanya Mahda kepada suaminya, Evan Laksono.


"Keluargaku sedang terlibat masalah, dan kami membutuhkan banyak dana. Solusi yang orangtuaku berikan adalah dengan menikahi anak dari salah satu rekan bisnisnya. Aku menolak, dan mereka mengancam akan membahayakan kamu. Aku harus apa Mahda?!" Tangisan Evan membuat Mahda sadar jika dirinya salah. Mahda tidak menyangka jika orang tua Evan tega melakukan semua itu. Mahda pikir mereka akan menerima Mahda dengan baik.


"Kenapa tidak meminta bantuan Papa? Aku yakin Papa akan membantu kamu. Jangan menangis, maaf aku sudah egois." Ucap Mahda.


"Kamu tahu siapa anak rekan bisnis papaku?"tanya Evan serius.


"Siapa?" Balas Mahda penasaran.


"Mahda Adijaya." Balas Evan dengan wajah tengilnya.


"Kyaa!!!! Evan si--emmhhh"


Evan mencium bibir Mahda dengan lembut. Awalnya Mahda hanya diam, namun saat Mahda membuka bibirnya. Evan mulai mengeksplor semua yang ada di dalam mulutnya. Tangan Evan tidak tinggal diam, ia mulai merasakan betapa halusnya kulit sang istri. Desahan yang Mahda lontarkan membuat malam itu menjadi malam yang membahagiakan untuk keduanya.


"I love you Mahda Laksono." Bisik Evan.


"I love you too, Evan Laksono."


Sebuah kata yang selalu ingin Evan dengar dari mulut sang istri. Mungkin ini adalah awal dimana kehidupan baru mereka di mulai. Entah apa yang mereka hadapi kedepannya. Yang pasti, mereka memiliki sahabat dan keluarga yang hebat. Apapun kesusahan mereka pasti mereka saling bahu membahu. Karena sahabat sejati bukan ada disaat suka melainkan ada di saat duka.


\=====•END•=====