
Pasar malam versi Fanisa Wijaya.
**
Di sebuah perumahan elit, Fanisa tengah asik menyaksikan videoklip dari salah satu boyband terkenal di Korea, siapa lagi jika bukan Bangtan Boys? Boyband yang terkenal dengan sebutan BTS tersebut sudah mulai ke mancanegara. Bahkan mereka menempati Billboard. Sangat membanggakan bukan?
Sambil memuja wajah tampan ke tujuh personil tersebut, Fanisa menghiraukan suara ketukan pintu. Sampai....
"Sayang di bawah ada cowok, katanya teman kamu."kata wanita cantik dengan dress rumahan, Fara.
"Ah? Cowok? Aku gak ada janji mah. Eh ada deng. Tapi nanti ketemuan di pasar malam. Mungkin dia salah alamat kali mah." Balas Fanisa malas.
Ya, ada hal yang membuat Fanisa badmood. Menstruasi, orang yang ganggu dia menulis, dan orang yang ganggu dia menyaksikan film atau video kesukaannya.
"Aduh sayang, gak mungkin. Cowoknya ganteng banget loh. Lebih ganteng dari mantan kamu itu." Celetuk Fara membuat Fanisa mendengus. Tidak bisakah mamanya tidak membahas hal tersebut? Bukan masalah dia belum move on tapi, hal tersebut membuat Fanisa teringat masa lalu. Ahhh sudahlah lupakan!
"Mama aku gak ada janji sama cowok." Balas Fanisa kekeuh.
"Temuin aja dulu si Fan. Kasian itu cowok di teror sama papa kamu." Ucap Fara memaksa.
"Ihh! Mama gak boleh maksa tahu. Nanti aku kabur loh!" Celetuk Fanisa membuat Fara mendengus.
"Kabur aja sana! Nanti mama cari anak lagi. Ah! Kalau bisa temen kamu yang cowok itu aja jadi anak mama. Lumayan lah wajahnya ganteng pas sama mama dan papa." Balas Fara menggoda anaknya.
"Mama ihh! Awas aja kalau kangen sama aku!" Ucap Fanisa kesal.
Dengan perasaan dongkol Fanisa turun dari kasur kesayangannya. Padahal jika Fanisa boleh memilih, ia lebih baik menunggu janjian ke pasar malam dengan menyaksikan videoklip BTS, menyebalkan!
"Kamu gak mau ganti baju?" Pertanyaan Fara membuat Fanisa menatap mamanya bingung. Fanisa menatap pakaiannya.
"Sopan kok mah! Lagian juga biasanya kaya gini kan?" Fanisa bertanya balik kepada mamanya.
Fanisa menatap apa yang dia gunakan saat ini. Baju tidur sepasang, dengan gambar Doraemon kesayangannya. Tidak ada yang salah bukan? Toh selama sopan dia akan berani saja keluar dari kamarnya. Dasar mama aneh!
Tanpa menunggu balasan mamanya, Fanisa langsung turun dari lantai dua. Melihat papanya asik berbincang dengan sosok yang tidak ia kenal membuat rasa penasarannya muncul.
"Fanisa?! Kenapa kamu pakai baju tidur?" Pertanyaan Farhan membuat Fanisa bingung. Kenapa papa sama mamanya mempermasalahkan hal yang sama? Lagi pula nanti dia akan berganti pakaian saat waktunya tiba.
"Ihh kan aku perginya nanti pah. Mama sama papa kenapa si nanya hal yang sama? Terus itu siapa? Aku gak ngerasa punya janji" balas Fanisa dengan raut wajah cemberut.
"Tau tuh pah! Sudah mama kasih tahu buat ganti baju malah gak mau" ucapan Fara membuat Fanisa mendengus kesal.
"Aduin aja mah aduin." Balas Fanisa ketus.
"Ganti baju sana kasian Fano datang jauh-jauh buat jemput kamu." Perintah Farhan di hiraukan oleh Fanisa. Gadis cantik itu malah berjalan mendekati papanya.
"Fano siapa si pah, aku gak punya tem-- Fano?!" Bentak Fanisa saat melihat sosok yang tidak ia inginkan di rumahnya.
"Katanya gak kenal, liat mukanya histeris. Dasar anak muda." Celetuk Fara.
"Sut! Mama jangan berisik! Siapa yang suruh lu ke sini?!" Tanya Fanisa sengit.
"Fanisa bahasa kamu kok kasar?" Pertanyaan papanya membuat Fanisa sadar, jika kepala rumah tangga tersebut sangat tidak suka mendengarkan perkataan kasar dari mulutnya.
"Mianhe papa. Lagian aku gak ken--"
Ucapan Fanisa terpotong saat mendengar ucapan papanya.
"Gak kenal? Tapi Fano bilang kalian sering makan bersama." Kata Farhan.
Skakmat! Adalah hal yang pantas di dapatkan Fanisa saat ini. Karena dia tidak bisa membalas ucapan papanya. Menyebalkan bukan makhluk es di depannya?
"Tapi aku punya janji sama Fresa papa. Jadi Fano suruh pulang aja." Balas Fanisa mengusir.
"Kamu kok jahat banget si Fan sama cowok ganteng?" Pertanyaan mamanya membuat Farhan mendengus.
"Sudah ganti baju sana! Tadi Fresa nelpon pakai telpon rumah katanya kamu harus on the way. Katanya hp kamu gak bisa di hubungi kenapa?" Tanya Farhan serius.
"Paling dia chat sama mantannya pah, dia kan gagal move on." Cibir Fara.
"Mama! Apaan si! Aku tuh habis nonton konsernya BTS dan data ponsel aku matikan. Lagian kenapa Fresa gak sms atau telpon?" Balasan Fanisa membuat Farhan mengangkat bahunya. Karena ia sendiri tidak tahu.
"Kamu nanya mulu kaya wartawan! Udah sana ganti baju. Malu udah gede pakai Doraemon." Kata Farhan.
"Biarin aja!" Dengus Fanisa sambil menghentakkan kakinya. Fano yang sedari tadi menyaksikan hanya bisa tersenyum tipis. Baginya, Fanisa versi di luar lebih menggemaskan.
"Maafin anak om ya." Kata Farhan.
"Ya tidak apa om."
Kini ketiganya asik tengelam dalam obrolan. Sampai tidak menyadari ada sosok cantik yang sudah rapi dengan jeans dan kaos hitamnya. Bahkan dehaman gadis cantik tersebut di hiraukan mereka. Sampai akhirnya suara pintu di banting membuat ketiganya tertawa.
"Saya susul Fanisa dulu. Dan saya janji akan kembalikan Fanisa dalam keadaan utuh." Kata Fano serius.
"Saya percaya kamu. Jaga anak saya! Jika kamu membuatnya menangis saya tidak segan menghancurkan kamu!" Ancam Farhan.
"Om bisa pegang janji saya." Balas Fano.
Setelah mendapatkan izin dari kedua orangtua Fanisa, Fano langsung menyusul Fanisa yang asik menghubungi seseorang sambil mengeluarkan umpatan kasarnya.
"Udah selesai pencitraannya?! Lu kenapa si ke rumah gue?! Gue kan gak ada janji sama lu. Kalau lu cuma mau modus jangan ke gue, ke cewek lain aja. Lagi pula gue bakal pesen Gobang! Udah sana pergi!" Usir Fanisa.
"Udah?" Tanya Fano sambil memberikan helmnya.
"Pidatonya udahkan? Sekarang pakai helm dan naik ke motor gue" perintah Fano membuat Fanisa menatap malas cowok di depannya. Ya, walaupun ada perubahan sedikit dari Fano. Tetap saja kejadian kemarin masih membuat Fanisa gondok.
"Gak mau! Nah abang Gobang udah datang. Dah Fano!" Baru saja Fanisa ingin berjalan ke arah tukang Gobang, Fano langsung menahan tangan Fanisa. Cowok tampan tersebut terpaksa turun dari motornya lagi dan memberikan satu lembar uang berwarna biru kepada driver Gobang. Lepas itu Fano langsung menggendong Fanisa dan mendudukkan gadis cantik tersebut di motornya. Gerakan tiba-tiba tersebut membuat jantung Fanisa berdebar tidak karuan. Bahkan saat mereka meninggalkan perumahannya, jantung Fanisa masih berdebar. Bersyukur Fano tidak cerewet saat di jalan. Kalau iya? Fanisa tidak tahu harus merespon apa pertanyaan-pertanyaan Fano.
"Bang kiri bang!" Kata Fanisa saat melihat keramaian di depannya.
"Emang gue ojek!" Umpat Fano sambil mematikan motornya.
"Emang!" Balas Fanisa ketus.
Lepas meninggalkan helm di motor Fano, gadis cantik tersebut langsung berburu hal yang berbau Doraemon. Kali saja dia beruntung untuk memborong nantinya.
Di belakang Fanisa, Fano tengah kesusahan mencari keberadaan Fanisa. Sampai...
Brukkkk...
Suara benda terjatuh menarik perhatian mereka semua. Namun tidak dengan Fanisa. Gadis cantik itu terdiam saat melihat Fano melindunginya dari tumpukan kardus yang entah datang dari mana. Bahkan cowok tampan tersebut merelakan punggung demi dirinya.
"Ada yang sakit?" Pertanyaan Fano membuat Fanisa tersadar.
"Gak. Tapi punggung lu gimana?" Tanya Fanisa khawatir. Baru saja Fano mau menjawab seseorang menganggu mereka.
"Maaf saya tidak sengaja." Ucap petugas.
"Gak!" Balas Fano ketus. Dia membantu Fanisa untuk berdiri. Setelah melihat Fanisa baik-baik saja, Fano langsung memusatkan perhatiannya pada petugas.
"Lain kali kalau kerja liat situasi dan kondisi! Jika saya bos kamu saya akan pecat kamu malam ini!" Ucapan dingin Fano membuat anak-anak muda berbisik kagum tentangnya.
"Maaf saya tidak akan mengulanginya kembali."balas petugas menyesal.
Melihat situasi aneh membuat Fanisa langsung mengalihkan.
"Gak apa pak. Lagi pula saya juga teledor. Kalau gitu kita permisi pak." Pamit Fanisa sambil menarik tangan Fano menjauhi TKP. Sampai Fanisa melihat boneka besar kartun kesayangannya, apa lagi jika bukan....
"Doraemon!!!!" Teriakan Fanisa membuat tukang permainan basket kaget.
"Maneh teh mau bikin urang dead muda heh?!"
"Gak bang! Saya mau Doraemon yang besar ya bang!" Seru Fanisa dengan wajah berbinar.
"Ingat umur!" Balas Fano ketus.
"Kenapa sama umur hah?! Masalah? Gak kan! Selama gue suka sama Doraemon lu gak berhak meledek gue! Jika lu gak senang pergi sana!" Usir Fanisa.
"Maaf neng. Eta teh khusus untuk pemenang. Jadi kalau neng mau suruh aja si akang kasep ini untuk mengalahkan rekor sebelumnya." Kata si tukang.
"Saya bisa sendiri bang!" Balas Fanisa ketus.
"Kelamaan!" Balas Fano greget. Dia langsung mengambil bola basket di tangan Fanisa lepas itu mulai memasuki ke dalam ring. Bahkan Fano tidak sadar jika Fanisa tengah menatap Fano horor, pasalnya cowok cuek di sampingnya sudah melewati batas rekor sebelumnya dan Fanisa tersenyum senang!
"Wah! Dua cowok tampan mendapatkan boneka demi kekasihnya. Semoga kalian langgeng ya"
"Aamiin" balas Fano langsung mengambil Doraemon pemberian si tukang tersebut.
"Aamiin? Ki--"
"Jangan pidato oke?" Balas Fano sambil menggenggam tangan Fanisa ke arah wahana bianglala.
"Siapa juga yang mau pidato!" Balas Fanisa ketus.
Melihat tingkah laku Fanisa membuat Fano semakin gemas. Bolehkah ia membawa pulang Fanisa? Ingin sekali ia membawa Fanisa ke rumahnya malam ini.
"Ya deh gak pidato. Silakan tuan putri." Kata Fano sambil membuka pintu bianglala.
"Thanks!" Jawab Fanisa ketus.
Keduanya masih terdiam satu sama lain, sampai saat mereka berada di paling atas, bianglala mati. Hal tersebut membuat Fanisa panik seketika. Namun tidak dengan Fano, kini cowok tampan tersebut sedang berjongkok di depan Fanisa.
"Gue gak tahu kapan perasaan ini muncul tapi gue cuma mau ngucapin sekali. Gue cinta sama lu, dan gue gak akan pernah lepasin lu kecuali takdir memisahkan kita. Karena, gue yakin lu adalah tulang rusuk gue yang hilang." Kata Fano serius.
Tatapan keduanya bertemu, jantung keduanya sama-sama berdebar. Sampai...
"Tulang rusuk lu hilang? Kok gak masuk rumah sakit?!" Pertanyaan Fanisa membuat Fano mendengus sebal.
"Bodo Fan bodo!" Tepat Fano mengucapkan hal tersebut bianglala mulai bergerak dan Fanisa tersenyum dalam hati. Setidaknya dia bisa menghindari Fano saat ini.
Baru saja Fanisa ingin keluar, Fano menahan tangannya.
"Jadi?" Tanya Fano membuat Fanisa mendengus.
"Gue HIV!" Balas Fanisa ketus.
"HIV?" Wajah khawatir Fano mulai muncul bahkan Fanisa yang melihatnya tersenyum tipis.
"Heumm... Hasrat Ingin Vivis!" Balas Fanisa sambil menyentak tangan Fano.
Melihat kepergian Fanisa Fano tersenyum tipis, setidaknya apa yang di khawatirkan sudah pupus.
❤️❤️❤️