Daddy Will You Marry Me

Daddy Will You Marry Me
EPS.8



Aira mengikuti arahan sang guru yang menyuruhnya agar memasuki mobil, setelah berjalan cukup jauh mereka sampai di sebuah kafe yang sepertinya paling banyak dinikmati oleh para om om berduit.


"Pak saya janji gaakan nakal lagi, tapi jangan jual saya pak, tapi kalo bapak emang mau jual saya tolong cariin sugar Daddy yang berduit 7 turunan, baik, perhatian, lembut, dan gapunya fetish aneh" ucap Aira yang langsung mendapat jitakan dari Dimas


"siapa juga yang mau jual kamu, meski saya jual juga paling ga laku" sahut Dimas


"Dihh kek tau aja harga saya" cicit Aira sambil memegangi kepalanya yang kena jitak


"Disini aja kamu jangan kabur, saya mau beli kopi" ucap Dimas lalu meninggalkan Aira di dalam mobil


"Pak!! nitip cappucino ya, yang manisss kek sayaa" teriak Aira yang sontak mengundang perhatian


Dimas hanya menggelengkan kepalanya pasrah melihat tingkah Aira yang makin lama makin gak punya malu. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Dimas keluar, tapi ia tidak sendiri, Aira melihat lagi sosok yang tidak asing di sebelah wali kelasnya itu, 'eehh itu kan om yang waktu itu, temen nya pak Dimas toh.... gangguin ahh~' batin Aira menyeringai layaknya tokoh antagonis


"Daddyy~ cepetan dong, Aira hauss nihh" teriak Aira dari jendela mobil memunculkan sedikit kepalanya keluar


"katanya mau ke hotell" lanjut Aira menghampiri Dimas dan memeluk lengan nya


"Astaga apa apaan kamu, sebenernya urat malu kamu itu terputus, atau emang gaada sih" ucap Dimas sedikit kesal karena sekarang mereka menjadi bahan tontonan dan cibiran


"Ya habis bapak lama" balas Aira acuh lalu mengambil cappucino yang ia pesan


Akhirnya karena malas berdebat Dimas menyuruh supir nya agar mengantarkan Aira pulang ke rumahnya, karena dia masih ada urusan dengan teman lamanya, setelah Aira sudah cukup jauh Dimas baru meminta maaf kepada Brian yang adalah teman nya semasa kuliah


"Sekarang mainnya sama anak SMA?" sahut Brian tiba tiba


"Hahh gila! ya engga lah, dia murid ku dan tadi aku mergokin dia yang lagi bolos di meet and great novel ke lima ku" jawab Dimas


"Aahh, yah kalo main juga gapapa sih" ucap Brian seadanya


"Ya enggak lah, mana mungkin gue pacaran sama murid gue sendiri, tapi kalo peduli sih iya, dia tuh sebenernya pinter, bahkan berprestasi, tapi karena terkekang sama keluarganya bakatnya jadi diakui milik orang lain, padahal dia pasti yang paling tau kalau dia yang selalu berusaha keras" ucap Dimas


"Dia murid yang pernah lu ceritain itu?" sahut Brian


"Iya" jawab Dimas


sementara itu Aira benar benar diantar di rumahnya, saat supir Dimas mulai jauh Aira menelfon Arya agar menjemput nya


"Arya jemput gue" ucap Aira


"iya iya, ini gue otw sama yang lain, sekalian kita ke markas" balas Arya


"bukan di toko buku, tapi di depan rumah lu" sahut Aira


"hahh? kenapa bisa di rumah gue" ucap Arya bertanya tanya


"iihh gue jelasin ntar, sekarang jemput dulu" ucap Aira lalu mematikan panggilan


Setelah beberapa menit Arya datang dan Aira naik ke sepeda motor Arya, dalam perjalanan Aira menjelaskan semua kemalangan nya yang tiba tiba bertemu dengan sang guru hingga akhirnya ia diantar pulang oleh supirnya


"ahahaha gila lah, ko bisa gitu lu nurut aja di tenteng kek kucing" ucap Arya diselingi tawa


"Jan kenceng kenceng ketawanya njr-, nanti yang lain denger!" sahut Aira mencubit pelan pinggang Arya


"adududuh iya iya" ucap Arya


"Jan ngomong ke siapa siapa, awas lu kalo sampe ember" ancam Aira


"iyaa iyaa alah bawel kek cewek" ucap Arya masih tertawa kecil


"gue emang cewek njim" sahut Aira


"dah turun, lu masuk duluan aja" ucap Arya


Aira memasuki base camp circle mereka, dan disana sudah banyak orang yang berkumpul, mereka hari ini berkumpul membahas tentang pertarungan kemarin yang tertunda dan entah kapan akan berlanjut, jadi Arya menyuruh agar semua anggota selalu berhati-hati karena mereka bisa kapanpun menyerang. Setelah menyampaikan beberapa hal yang penting satu persatu anggota mulai pergi dan hanya tersisa beberapa


"Oi Arya kemana?" ucap Aira ke salah satu teman nya


"tadi katanya mau cari lonT" Jawab nya


"ga nungguin Arya aja, ntar lu kenapa napa lagi"


"gak akan, yodah gue balik dulu ya" sahut Aira lalu pergi meninggalkan basecamp


Ia mulai berjalan mencari ojek atau taxi, tapi sayang ia tidak menemukan transportasi sama sekali, alhasil ia memutuskan untuk berjalan kaki sambil berharap semoga ada pangkalan ojek di dekatnya karena paketannya habis jadi tidak bisa memesan ojek online


Saat melewati sebuah taman ia melihat seorang anak laki laki yang mungkin berusia 5 tahun sedang meringkuk sendirian di salah satu bangku taman, karna hari sudah mulai sore Aira mendekati anak itu dan menanyakan keadaannya


"hallo~" sapa Aira dengan tersenyum ramah


anak laki laki itu mendongak dan melihat Aira dengan seksama dan tatapan curiga


"kamu gaakan kumakan kok, palingan cuma ku gigit dikit" ucap Aira yang sontak membuat sang anak laki laki itu mulai berkaca kaca


"b-becandaa becandaa, jangan nangis dongg" hibur Aira sambil menyodorkan permen kapas yang tadi ia beli


"aku ga nangis karena kakak kok" ucap anak itu sesenggukan


"terus karena apa?" tanya Aira lalu duduk di sampingnya


"Aku benci ayah, ayah selalu bekerja setiap hari, bahkan tadi waktu ada pertemuan orang tua di TK ayah tidak datang" ucap anak itu


"Ayahmu mungkin sibuk kerja" jawab Aira lembut


"Tapi Tian kesepian, ayah selalu pulang malam waktu Tian udah tidur, apa ayah ga sayang Tian" ucap Tian nanar dengan mata berkaca-kaca


"Jadi nama mu Tian?" tanya Aira yang langsung dapat anggukan dari Tian


"Kakak gaakan bilang Tian atau ayah Tian salah, tapi kalian juga ga benar" ucap Aira


"Tian tau gak semakin bertambahnya usia tanggung jawab seseorang semakin besar, rahasia yang mereka miliki juga semakin banyak" lanjut nya


"Tian ga paham" sahut Tian


"Sekarang usia Tian berapa?" tanya Aira


"Sekarang Tian umur 5 tahun" jawan Tian bersemangat


"Tian udah sekolah kan?" tanya Aira yang langsung dapat anggukan


"saat Tian masih kecil Tian hanya harus bersekolah, dan hanya mendapatkan pr yang sedikit dari Bu guru, sedangkan ayah Tian juga sama seperti Tian, ayah Tian memang tidak bersekolah, tapi ayah Tian bekerja untuk Tian, agar Tian bisa makan makanan yang Tian sukai, agar Tian memakai pakaian yang Tian sukai, agar Tian selalu merasa senang, saat Tian memang sangat kesepian Tian bisa menelpon ayah Tian atau Tian membuat catatan keseharian Tian dan ayah Tian pasti akan membalas catatan Tian" ucap Aira


"catatan?" ucap Tian bingung


"iya catatan, Tian sudah bisa baca tulis kan?"


"iya Tian sudah bisa baca dan menulis"


"kalau gitu ayo kakak bantuin membuat catatan dan gambar untuk ayah Tian" ucap Aira


Tian membuat sebuah gambar yang ada dia dan ayahnya, lalu di belakang gambar ada catatan keseharian Tian saat di sekolah, setelah selesai membuat gambar tiba tiba ada seseorang yang memanggil nama Tian dari jauh. Tian tiba tiba langsung bersembunyi di belakang Aira


"eehh dia kan..." batin Aira sedikit terkejut


"Kamu kan..."


halloo~


terima kasih udah baca cerita saya :3


mohon dukungannya agar cerita ini semakin berkembang, vote, komen, like, dan bintang dari kalian sangat berharga buat saya :3


tinggal kan jejak setelah membaca 🤗


semoga kalian ga bosan sama ceritanya ☺️