
"Baiklah, biar aku dengar keluh kesah kalian tentang Istri ku" ucap Brian dengan dingin
"Istri... pak Brian?" gumam sang dekan cukup keras
"Sekarang kau memanggilku dengan sopan seperti itu, padahal belum ada satu jam kau menjelekkan keluarga ku" sahut Brian
"Mohon maaf pak Brian sudah membuat anda menunggu" ucap seorang pria paruh baya yang tiba tiba masuk
"Pak Rektor" ucap sang dekan semakin tertekan
Sang rektor melihat bawahannya itu dan menatap nya tajam, Brian hanya menghembuskan nafas pasrah, lalu menaruh dokumen yang sedari tadi ia bawa di atas meja.
"Aahh pak Brian anda bisa tenang, biar saya yang menyelesaikan masalah di sini" ucap rektor segan
"Kalau begitu terimakasih, ah lalu sebelum mengomentari mahasiswa lain, sebaiknya lihat dulu putra mu, apa sudah benar atau tidak, dan itu adalah bukti bukti yang menjelaskan bahwa istri ku tidak pernah melakukan kecurangan" ucap Brian lalu pergi meninggalkan ruangan
"tentu, tentu, biar saya yang menjelaskan pada bawahan saya, saya benar benar minta maaf, tolong jangan kecewa dan tetap jadi donatur setia kami" ucap rektor tertawa canggung
Brian hanya tersenyum tipis dan keluar dari kantor bk, saat keluar dari ruangan ia melihat Aira yang cemas menunggu nya di kursi depan ruang bk.
Aira melihat Brian yang sudah keluar dari ruangan, dan langsung menghampiri nya, dengan wajah cemas Aira menunggu Brian berbicara karena ia tidak bisa menebak dari wajah Brian yang datar.
"Semuanya baik baik aja, kamu gaperlu cemas" ucap Brian lembut mengusap wajah Aira, Seketika wajah Aira langsung tenang, Aira sangat takut kalau dia akan di keluarkan. Karena merasa lega dan senang di waktu yang bersamaan, Aira secara reflek memeluk Brian
'Hmm... setelah ini dia pasti akan tau kalau aku menjadi donatur di universitas nya, sebaiknya aku menelfon pak rektor setelah ini' batin Brian memeluk Aira lembut
"Aku bener bener takut di keluarin, karena udah ngelakuin kekerasan" ucap Aira
"aahh kalau tentang itu sepertinya kamu akan kena skors selama 3 hari" goda Brian yang membuat Aira membuat ekspresi shock yang sangat lucu
"hahaha, aku becanda, sekarang gaakan ada yang ganggu kamu lagi" ucap Brian mendekatkan wajahnya ke wajah Aira, dan menempelkan dahi mereka cukup dekat hingga hidung mereka juga saling bersentuhan
Dari kejauhan Angga melihat hal itu, ia merasa sangat terkejut, 'Apa hubungan ayah dan anak memang seperti itu...' ucap Angga dalam hati
*******
Aira berpamitan dengan Brian karena Brian hari itu harus segera menghadiri rapat penting, setelah mengantarkan Brian pergi Aira kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran yang tersisa karena tadi ia dipanggil ke ruang bk
"Hufttt untung deh selesai dengan baikk, jujur gua panik banget tadi" ucap Aira
"aahh, gua lagi nganterin my ayang buat kerja lagi, ada rapat katanya" ucap Aira mengambil es coklat yang dari tangan Angga
'Ayang?' batin Angga semakin bingung
"wkwk ada ada aja lu, masa Ayah lu, lu panggil ayang" ucap Angga
"ha? siapa ayah gu-"
"Airaaaa!!!!" seru Kayla menerobos masuk kelas Aira, untung gaada guru karena lagi istirahat ke 2
"Astaghfirullah, suara mu ukhti" ucap Aira
"gimana ra?? hasil sidang nya?" tanya A'am
"Amannn, udah di urus sama ayang" ucap Aira
"Fyuhhh syukur deh, cowok kaya gitu emang harus dikasih pelajaran, emang bukan lu yang salah ra, tenang gua bela lu kali ini" ucap haykal
"Hweeee sumpah ya, tadi lu yang di sidang gua yang panik anjirr, sumpah takut banget lu gabisa pembelaan, trus malah asal tonjok, lu kan sensian soalnya" ucap Kayla
"entah kenapa gua ga ngerasa seneng.... eh btw tadi lu ngomong apa tadi ngga? gua lupa" ucap Aira menoleh ke Angga, diikuti yang lainnya yang juga ikut menoleh ke Angga
"Ah enggak, gapapa, gua juga lupa nih tadi mau ngomong apa" ucap Angga
"Oh gimana kalo nanti pulang nya kita ke cafe aja, buat ngerayain keberhasilannya Aira hari ini?" ucap Angga sebagai pengalihan topik
"wiihh boleh tuh" ucap haykal
"gua ikut aja" jawab A'am
"Wahhh seru tuh, gua ada nih cafe baru, yang kayak nya bagus, kesini yok" ucap Kayla
Semuanya merasa senang karena mereka berhasil melewati masalah dengan baik, sedangkan Angga masih tetap merasa kebingungan.
Sepertinya dia satu satunya orang yang masih merasakan perasaan hawatir.