
*Percakapan dalam chat
^^^Kak di rumah ada ayah, tolong hati hati nanti,^^^
^^^jaga ucapan kakak juga^^^
Kak Reza Gans:
Kakak kayaknya ga pulang
Ada kerjaan banyak
^^^Gitu... yaudah jangan lupa makan^^^
Kak Reza Gans:
iya, kamu juga jangan lupa
makanloh
^^^Iya kakak ganteng^^^
________________________________________________
Aira memakai irphone bluetooth dan memutar lagu yang bisa membuatnya tenang dengan volume yang cukup tinggi lalu perlahan tertidur pulas, tengah malam seseorang datang ke kamar Aira, mengusap lembut kepalanya lalu menggumamkan sesuatu dan pergi lagi dari kamar Aira
Pagi harinya Reza membangunkan Aira agar segera bersiap ke sekolah, Reza juga menyiapkan sarapan pagi untuk Aira agar Aira tidak kelaparan, "Adek bangun, dah siang tuh" ucap Reza
"Yodah kalo udah siang lanjut tidur ajalah" balas Aira yang langsung dapat semprotan air dari Reza
"Cepett bangunn!!" ucap Reza tegas
"Aahhh Ira malass kakk~" rengek Aira memeluk pinggang sang kakak
"Bangun gak?" ucap Reza mencubit pipi Aira
"Hiyaa hiyaaa ila angunn" ucap Aira lalu pergi ke kamar mandi
Reza turun ke dapur untuk mempersiapkan sarapan dan bekal sang adik, beberapa menit kemudian Aira turun dengan menggunakan seragam sekolahnya yang entah pantas disebut seragam atau tidak
"Itu kenapa bajunya diluar gitu?, masukin cepat!!" Ucap Reza
"iishh ini tuh namanya feseyen tau kakk" sewot Aira dengan bibir manyun
"Gaya gayaan fesyen, ngomong aja masih latah" ucap Reza tertawa kecil
"ishh aku cuma gabisa bahasa Inggris ya, bukan latah!!" sahut Aira ngegass
"Makan aja nih jan bawel, cape kakak debat walpres pagi pagi gini" ucap Reza menjejalkan nugget ke mulut Aira
"Uwntung cyang, ko ga dahku leding (untung sayang, kalo ga udah ku sleding )" ucap Aira dengan mulut penuh nugget, Reza hanya tersenyum kecil melihat tingkah adiknya yang seperti anak kecil meski sudah berusia 16 tahun
"Oh iya tumben kakak buat bekal" tanya Aira penasaran
"Hmm iseng aja sih, kemarin ga sengaja liat orang jepang masak bekal, jadi pen buat juga" jawab Reza
Aira hanya meng ohh dan melanjutkan makannya, setelah itu berpamitan dan pergi ke sekolah.
"Kakak ga kerja?" tanya Aira di ambang pintu
"Engga, kakak kerja di rumah hari ini" jawab Reza fokus ke laptop nya
"oohh, Aira pergi ya kak, dadah" ucap Aira lalu menutup pintu rumah, menaiki motornya dan pergi ke sekolah
"Daddyyy~" seru Aira senang saat melihat Arya dan memeluknya dari belakang
Arya melepaskan pelukan Aira dan menatap Aira kesal, "Kenapa lu pulang sendiri kemarin!!" tanya Arya kesal
"Yaaa lu lama sih, cari lonT aja kek nyari jarum dalam jerami, padahal di klub juga pasti banyak" sewot Aira dengan bibir manyun
"Ishh kalo nyewa di sana gue gabisa jajan sebulan" ucap Arya
"Suruh siapa pake nyewa nyewa segala, ya itu urusan lu lah" ucap Aira lalu meninggalkan Arya dibelakang
"Ya makanya lu jan mancing gue dong" gumam Arya pelan
"Lu ngomong sesuatu?" ucap Aira
"engga, ahh kek tai lah, dahlah masuk kelas aja" sahut Arya frustasi
"Aryaaa~" ucap Aira dari belakang Arya sambil merentangkan tangannya
"Apa hah!" sahut Arya ga nyante
"Lah kok ngegas, gandong dungs" ucap Aira dengan puppy eyes dan bibir manyun
'Nah kan mancing lagi, arggghh untung masih bisa sadar nih hati' batin Arya tersiksa
"Aelah ngerepotin lu, punya kaki juga!" sewot Arya tapi ia tetap menggendong Aira sampai di kelas
Sepulang sekolah Aira mampir untuk membeli beberapa camilan di salah satu supermarket, dan saat keluar dari supermarket ia tidak sengaja melihat Tian yang sepertinya sedang menunggu jemputan, Aira kembali masuk ke dalam supermarket untuk membeli susu coklat dan roti lalu menghampiri Tian
"Halo adik kecil" sapa Aira ramah
"Ah kak Ira!" seru Tian senang lalu memeluk Aira
Aira berjongkok dan menyelaraskan tinggi nya dengan Tian dan mengusap lembut kepalanya
"Kamu suka susu gak?" tawar Aira pada Tian, Tian hanya mengangguk senang lalu menerima susu dari Aira dan meminumnya
"Kamu udah baikan dengan ayahmu kan?" tanya Aira
"Udah kak, berkat kakak juga" jawab Tian senang
"itu karena usahamu sendiri tauuu" sahut Aira mentoel gemas pipi Tian
"enggak, itu karena kakak, sebelumnya Tian selalu mencoba bersikap dewasa agar ayah memuji Tian dan menghabiskan waktu bersama Tian, Tian tidak punya ibu jadi.... setidaknya Tian gak mau merepotkan ayah, tapi waktu itu Tian sangat marah karena teman teman Tian bilang Tian anak pungut, makanya Tian gak pernah mendapat kasih sayang ayah, tapi ternyata Tian sadar kalau Tian salah berkat kakak" oceh Tian dengan senyum yang masih hinggap di wajah nya
Aira merasa ada suatu ikatan, entah karena kisah Tian mirip sepertinya atau karna kasihan, Aira menangis dan memeluk Tian erat "Kalau Tian kesepian kakak akan selalu ada untuk Tian" ucap Aira tulus dengan air mata yang membendung
"Kakak.... nangis?" ucap Tian
"Enak aja, kakak ga nangis ya!" bantah Aira
Semenjak hari itu setiap Aira pulang sekolah ia selalu mengunjungi TK Tian untuk bermain dengannya, mereka mulai dekat dari waktu ke waktu, Brian mengetahui hal itu tapi ia pura pura tidak mengetahuinya, Brian hanya melihat Tian dan Aira dari jauh karena jika ia hadir mungkin suasananya akan canggung karena dia hanya akan merusak suasana dengan sifatnya yang kaku.....
Beberapa bulan kemudian....
"Tian ayo pulang ini sudah semakin sore" ucap Brian
"Tapi kak Aira belum datang, dia pasti akan datang sebentar lagi, karna kak Aira gak mungkin melupakan jam temu dengan Tian" bantah Tian
"Ayah gak tau apa apa, ayah kan hanya melihat kami dari jauh!" sahut Tian
"Kau... bagaimana kamu bisa tau" tanya Brian heran
"Kak Aira itu hafal mobil ayah tauu" ucap Tian
"Eehh... Ah lupakan itu sekarang ayo pulang" ucap Brian menggandeng tangan Tian
Alhasil Brian harus menggendong paksa Tian dan membawanya masuk ke dalam mobil karna hujan tiba tiba turun sangat deras, dalam perjalanan Tian tidak sekalipun berbicara bahkan melihat wajah sang ayah yang membuat Brian sedikit jenuh, tapi tiba tiba Tian berteriak dan menunjuk ke arah luar jendela mobil
"Ayahh! Ayahh! Itu kak Ira!!" Teriak Tian tiba tiba
Brian menoleh dan menatap tempat yang ditunjuk oleh Tian dan benar saja, Aira tergeletak di tengah jalan dengan motornya yang tidak jauh darinya, Brian bergegas menuju ke arah Aira, menggendongnya dan membawanya ke rumahnya, tidak lupa ia memanggil dokter keluarganya lalu menidurkan Aira di kamarnya
"Bagaimana keadaannya?" tanya Brian panik
"Tenanglah pak, dia hanya demam dan ada beberapa lecet di kepala dan sikunya, selain itu tidak ada hal serius" jawab sang dokter
"Benarkah tidak ada hal serius, apa tidak ada luka serius lainnya?" tanya Brian lagi
"Tidak ada luka serius, dan ini resep obatnya, dia mungkin akan sadar setelah 1 atau 2 jam nanti karena efek obat yang saya suntikkan" jelas sang dokter
"baik terimakasih" ucap Brian lalu mengibaskan tangannya kepada kepala pelayan agar menemani sang dokter keluar dan membeli obat yang diresepkan
"Ayah.... Apa kak Ira akan baik baik saja!" tanya Tian cemas memegang erat tangan Aira dan menatap ayahnya nanar
"Iya dia akan baik baik saja, tenanglah" ucap Brian mengusap lembut kepala sang anak untuk menenangkannya
Beberapa menit kemudian pelayan datang dan bilang kalau makan malam sudah siap, Brian menyuruh Tian untuk turun dan makan malam, meski dengan paksaan akhirnya Tian turun dan makan malam dengan bibir manyun, selesai makan ia segera pergi ke kamar sang ayah, untuk melihat keadaan Aira, Tian berlari dan langsung memeluk Aira yang ternyata sudah sadarkan diri
"Hikss kakak.... Apa kakak terluka, apa ada yang sakit hiks, Tian hiks Tian benar benar takut" ucap Tian nanar dengan air mata yang turun deras
"Ah maaf sudah membuat mu hawatir" ucap Aira lembut
"Tian kira... Tian kira kakak juga akan pergi seperti ibu karena Tian anak yang kotor" ucap Tian sesenggukan
"Hei jangan menangis, Kak Ira udah bilang kan kalau Tian itu bukan anak yang kotor, kak Ira juga janji gaakan ninggalin Tian, jangan berpikiran buruk lagi seperti itu mengerti!" ucap Aira tegas
"iya" jawab Tian patuh lalu memeluk Aira erat
"Tian ayo turun, kak Aira pasti masih sakit" Ucap Brian menghampiri Aira
"Eehh om, maaf om udah ngerepotin dan makasihhh udah nolongin saya" ucap Aira berusaha bangun dari tempat tidur
"Jangan bergerak dulu, badan kamu masih belum sehat kan, demam kamu juga tinggi" sahut Brian menghentikan tubuh Aira dan menempelkan telapak tangannya ke kening Aira untuk mengecek suhu tubuh
Aira merasa sangat aneh, awalnya ia hanya menganggap Brian seperti seorang ayah karena ia selalu merasa hangat saat bersama dengan Brian dan Tian, karena itu Aira sangat menghormati Brian, tapi entah kenapa rasanya perasaannya sangat aneh, dan lagi lagi ia berusaha menyingkirkan perasaan itu dan beranggapan kalau Brian perhatian padanya karena dia merawat Tian dengan tulus dan membuat Tian bahagia
Malam mulai datang, Tian juga sudah tertidur dan sudah dipindahkan oleh Brian ke kamar Tian, tapi saat itu Aira tidak bisa tidur, ia mengingat kembali pertengkarannya dengan ayahnya beberapa jam yang lalu, Brian mengecek kamarnya dan melihat Aira yang sudah tertidur dibawah selimut, ia memutuskan untuk menutup pintu kamar nya, tapi anehnya ia seperti mendengar sesuatu, Brian mulai tidak asing dengan situasi ini, ia berlari menghampiri Aira, menarik tubuh Aira yang masih berbungkus selimut ke dalam pelukannya dan memeluknya erat
"Bersuara lah" ucap Brian
"Jangan memendam semuanya sendiri"
"kau yang tau kalau kau yang paling menderita sekarang, jika ingin menangis menangislah, jika ingin berteriak maka teriaklah, jika kau lelah makan istirahat lah, jangan memendam tangisanmu dalam diam!" ucap
"menangis lah jika ingin menangis" ucap Brian lembut yang membuat Aira terkejut dan mulai menangis kencang, entah kenapa ini pertama kalinya Aira merasa sangat nyaman, hangat dan lega disaat yang bersamaan
Selama beberapa menit Aira menangis kencang dan sesekali bercerita tentang nya dengan sesenggukan sampai akhirnya ia tertidur dalam pelukan Brian, Brian menidurkan Aira dengan lembut membenarkan selimut dan lalu mulai menjauh sampai tiba tiba Aira memegang erat tangan Brian yang membuatnya tidak bisa pergi
"Jangan tinggalkan aku..... kumohon" gumam Aira
Brian dengan terpaksa harus tidur di kursi yang ada di sebelah tempat tidurnya dengan tangannya yang digenggam erat oleh Aira