
"Nenek makanan nya udah matang!!" seru, Tian bersemangat
"Wahh dari baunya harum, pasti enak" ucap Lia
"Semoga Tante suka" ucap Aira menata piring dibantu Brian
"Eihh jangan panggil Tante, uhmm gimana kalau panggil ibu?, kalau kamu tidak mau menikah dengan Brian, jadi putri ku saja ya?, semua putra ku selalu kaku dan seorang workaholic akut, sangat membosankan" ucap Lia
Brian hanya menghela nafas panjang, terlalu malas untuk berdebat
"Iya Bu" ucap Aira ramah
Acara makan makan itu berjalan sangat lancar meskipun sesekali terjadi drama dalam keluarga Brian, tapi Aira jadi semakin mengetahui sosok yang ia cintai, ia merasa sangat senang
.
.
.
.
"Nak Aira?, apa ibu boleh berbicara dengan mu sebentar?" ucap Lia yang langsung dapat anggukan
Aira menghampiri Lia yang tengah duduk di sofa dengan album foto di pangkuannya
"Ada apa Bu?" tanya Aira
"Apa ibu boleh tau siapa nama ibumu?" ucap Lia
untuk sesaat Aira terdiam sampai akhirnya ia membuka suara, "Dewina.... itu yang Aira tau dari Tante Mita" ucap Aira
"Pantas saja kamu sangat mirip dengan nya" ucap Lia
"A- apa ibu pernah bertemu dengan bunda?" ucap Aira terkejut
"Dulu aku seorang dosen di sebuah univ tempat ibumu belajar, tentu saja aku tau karena ibumu adalah asisten ku, dia anak yang periang dan selalu terbuka pada siapapun" ucap Lia
"Apa ibu tau sekarang bunda dimana?" ucap Aira nanar
"Tidak, semenjak dia menikah, dia putus kuliah, sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengan nya, memangnya kenapa?" ucap Lia heran, karena seakan akan Aira sedang mencari ibunya
"Aira gapernah liat bunda, jangankan ingat wajahnya, bertemu aja gapernah, Aira gatau gimana wajah bunda, tiap Aira tanya ke tante Mita jawabannya sama seperti yang ibu bilang.... Bunda pergi setelah Aira lahir" ucap Aira nanar
Lia terkejut, Dewina bukan seseorang yang akan meninggalkan putri nya sendiri, karena Lia yang paling tau kalau Dewina sangat menyukai anak anak
Lia menangkup wajah mungil Aira dan melihat matanya, dalam mata Aira tersirat sebuah luka dan kerinduan, juga banyak pertanyaan
"Ternyata sikapmu yang tegar juga sangat mirip dengan ibumu" ucap Lia lalu membawa Aira dalam dekapannya
Seketika tangis Aira pecah, pelukan Lia terasa sangat hangat untuk nya yang selalu mendambakan sosok ibu
Cukup lama sampai akhirnya Aira tenang, Lia membuka album tengah yang menampakkan gambar Lia dan seorang gadis dengan rambut gelombang hitam panjang sepinggang, gadis itu sangat cantik dan anggun, sama seperti Aira, hanya satu yang membedakan mereka mata gadis itu berwarna coklat cerah, sedangkan Aira berwarna emas kecoklatan
"Apa kamu tau siapa dia?" tunjuk Lia
Aira memperhatikan foto yang ditunjuk Lia dengan seksama dan langsung menyadari sesuatu, "Bunda?!" ucap Aira sedikit terkejut lalu melihat Lia yang tersenyum dan mengangguk
Lia mengeluarkan foto itu dari dalam album dan menyerahkan nya pada Aira, "Mungkin kamu lebih memerlukan ini dari pada ibu" ucap Lia memberikan fotonya pada Aira lalu tersenyum lembut
Sontak Aira memeluk Lia lembut dan menangis sekali lagi sambil berulang kali mengatakan kata terima kasih padanya
"Terima kasih Bu" ucap Aira tulus
"Iya sama sama, jika kamu sangat berterima kasih bagaimana kalau menjadi menantu ku" gurau Lia
"Iya tentu saja dengan senang hati" ucap Aira melepaskan pelukannya lalu tersenyum
"Wahh sepertinya aku mulai tidak peka ya" ucap Lia saat melihat mata Aira penuh dengan kejujuran
"Aira apa kamu butuh sesuatu, aku dan Tian akan pergi ke supermarket jadi mungkin jika-............. Apa yang ibu katakan pada Aira?, ibu jangan mengatakan sesuatu yang aneh pada Aira" ucap Brian saat melihat mata Aira yang sembab
"Aira nangis bukan karena ibu kok, om jangan salah paham" ucap Aira sedikit tertawa kecil
"Apa benar begitu?" -Brian
"Hahh dasar, kau melihat ibumu seperti melihat sosok antagonis saja, padahal kami hanya saling bercerita" ucap Lia menyeduh teh nya
"Itu tentu saja rahasia" ucap Aira dan Lia bersamaan
.
.
.
.
.
"Makasih om udah nganterin aku, dan maaf juga udah ngerepotin" ucap Aira
"Ya gak masalah, jika soal merepotkan sepertinya keluarga ku lebih merepotkan mu" ucap Brian
"Dan soal masalah mu, kuharap kamu segera menemukan solusinya" ucap Brian membelai lembut rambut Aira
"Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Brian hampir memasuki mobil saat tiba tiba lengan bajunya digenggam oleh Aira
"Anu om..... Aira mau jujur, tapi om jangan marah, dan harus janji sikap om gaakan berubah" ucap Aira
Brian berbalik menatap Aira yang sedang menunduk tidak berani menatapnya, Brian jadi berpikir apa jangan jangan dia melakukan kesalahan tanpa disadarinya
"iya saja janji gaakan marah dan gak akan berubah" ucap Brian gugup
"Sebenernya.... saya suka sama om" ucap Aira sedikit gugup, malu juga sih, tapi demi ayang gapapa
"Om gaperlu jawab sekarang, saya bisa kok nunggu, tapi jangan lama lama, bisa bisa nanti karatan" ucap Aira tertawa canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal
*Cieee salting
*/kena lempar sendal Aira
*ok lupain
Brian terkejut, Aira menyukainya?!!, Apa jangan jangan dia bermimpi lagi? karena Brian pernah memimpikan saat Aira mengungkapkan perasaan seperti ini juga,saat Brian sadar kalau ini bukan mimpi tiba tiba Brian mengalihkan pandangannya, Aira yang melihat itu heran tapi segera paham saat ia melihat telinga Brian yang memerah padahal kan gaada matahari
"K- kalo gitu saya pergi, eh maksudnya masuk dulu om" ucap Aira terus ngacir gitu aja masuk rumah ga pake salam
"Ayah! ayo pulang" seru Tian dari dalam mobil
"Ah iya" ucap Brian
"Tadi kak Ira bilang apa?, Tian liat dari mobil wajah ayah tiba tiba merah" ucap Tian
"Gak boleh penasaran sama urusan orang dewasa" ucap Brian mengalihkan topik lalu mulai melajukan mobilnya
"Am kenapa kita sembunyi sih? kita kan ga salah apapun!" sewot Haykal ga nyante karena disuruh sembunyi waktu liat Aira
"Gue gamau canggung aja, circle kita lagi ga baik, kubu yang disatuin Arya sama kubu yang Aira buat mulai pecah, gabaik kalo ada masalah lagi" ucap A'am
"Halah bacot, lu cuman gamau gue mergokin Aira sama om nya si Arya itu kan, lu kalo emang peduli ama circle kita harusnya lu ngedukung Arya" ucap Haykal lalu mendorong A'am dan pergi dengan motornya
"Hahhh.... moga aja dia ga ngelakuin hal gila" gumam A'am
.
.
.
.
Haykal melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan mengejar mobil Brian, saat ia berhasil mendahului mobil Brian ia menghentikan motornya di depan jalan yang membuat Brian terkejut dan berhenti mendadak
Haykal turun dari motornya dan mendekati mobil Brian
"Woi turun lu ajg-!!" seru Haykal
Brian turun dari mobilnya dan menghampiri Haykal, "Ada urusan apa dengan saya?" ucap Brian
"Gue temennya Arya dan Aira, gue sebagai temen mereka minta tolong secara baik baik, jauhin Aira!!"