Daddy Will You Marry Me

Daddy Will You Marry Me
EPS. 50



"IIIHH VELIN GASUKA!! KENAPA DIA ADA DI SANA, DAN LAGI JUARA 1!!, YANG BENAR AJA!!" seru Velin memasuki mobil dengan kesal


"Jangan marah marah begitu, lihat ada kerutan di wajahmu, haduh" ucap Dea


"iihh nenek kok tenang tenang aja sih!!" gerutu velin makin kesal


"Nenek kan sudah bilang, biar nenek yang urus, kamu tenang aja oke?" ucap Dea


"Nek kapan sih dia diusir dari keluarga kita, velin risih tau ga ada dia di keluarga kita" ucap velin


"Ga lama lagi cuma kamu yang akan jadi satu satunya putri di keluarga ini, jadi jangan marah marah atau akan muncul kerutan di wajahmu yang cantik itu" ucap Dea


"Pokoknya nenek harus usir dia dari keluarga kita, kalau bisa hapus aja namanya dari silsilah keluarga!!" seru velin


"Iya iya, sudah jangan marah marah, wajah cantik mu bisa muncul kerutan nanti, kamu tidak ingin itu kan" ucap Dea memeluk velin untuk menenangkan nya


.


.


.


.


"Adekk!!" seru Reza dalam kamar mandi


"Apa ish!?" jawab Aira dari ruang tamu


"AMBILIN HANDUK!!" teriak Reza


"GAMAU IIHHH, ADEK LAGI WAR!!" balas Aira mulai terganggu


"LU MAU ABANG LU YANG TERSAYANG KELUAR BUGIL NUNJUKIN JUNIOR KEBANGGAAN NYA!?!" ucap reza


"AAHH ADEK LAGI WAR LOH KAK!!" ucap Aira mulai terganggu dan mulai berdiri dengan mata masih fokus ke ponsel nya


"Biar saya aja kalo gitu yang ambilin" ucap Brian


"Waaahh makasih om" ucap Aira tersenyum lebar lalu melanjutkan game nya


Brian mengambil Handuk yang disiapkan di dalam laci hotel dan menaruh nya di meja depan kamar mandi agar Reza mudah mengambilnya.


"Saya taruh handuk nya disini" ucap Brian


"Eh makasih om, maaf ngerepotin" ucap Reza dari dalam kamar mandi


Brian kembali ke sofa tempat Aira dan Tian sangat asyik dengan game nya, ia melanjutkan pekerjaan nya dengan sesekali melihat Aira dan Tian yang masih sangat sibuk dengan ponsel nya


Reza datang dengan rambut yang masih basah dan baju santai biasa, ia datang dari belakang Aira lalu mengusap kasar kepala Aira hingga membuat Aira merasa sangat terganggu


"Kakak iihh nanti kalah" ucap Aira


"Lama lama ku tempel lagi tuh hp di muka mu loh" ucap Reza geram


"Kak iraa bantuin Tian disini" seru Tian


"Ah iya kakak otw" ucap Aira


Reza dan Brian saling bertatap dan hanya menghembuskan nafas pasrah melihat Aira dan Tian yang seperti lupa akan dunia di sekelilingnya


Beberapa menit kemudian Tian dan Aira duduk dengan lemas secara bersamaan, lalu menatap dua laki laki jangkung yang ada di depan nya, siapa lagi kalo bukan Reza dan Brian


"Apa/Kenapa?" ucap Brian dan Reza bersamaan


"Laperrr~" jawab Aira dan Tian dengan nada yang sama


"Yodah pesen makanan sana, tadi makanan dateng ga di gubris, sekarang minta makan" ucap Reza geram


Aira dan Tian hanya bisa berwajah melas bak anak kucing kehujanan, "Saya udah pesan makanan, sebentar lagi mungkin datang" seru Brian yang membuat Aira dan Tian langsung berbinar binar


Aira dan Tian mengambil satu potongan pizza bersamaan lalu memakan nya, Brian dan Reza yang melihat hal itu sedikit terhibur karena cara mereka makan sama persis


"Kenapa ketawa?" tanya Aira heran


"gapapa, lanjut aja makan nya" ucap Brian


Aira memiringkan kepala nya heran lalu memilih melanjutkan makan nya bersama Tian. Saat Aira akan melanjutkan makan nya dia mendapat telfon dari seseorang.


Aira membersihkan tangan nya lalu mengangkat panggilan telfon yang entah dari siapa, "Halo, siapa?" ucap Aira


"Masa kakak ga ingat suara ku" ucap seseorang dari telefon, Aira terdiam, tentu dia tau suara ini, untuk sesaat ia merasa senang tapi tidak saat Aira juga mendengar suara Dea, neneknya yang sepertinya ada di sebelah velin


"Kenapa velin?" tanya Aira berusaha datar


"Kakak tau ga, aku punya kejutan buat kakak, dan aku harap kakak gaakan nolak hadiah dari ku" ucap velin


"hadiah??" ucap Aira semakin bertanya tanya


"Tunggu aja saat kakak pulang, dadah kakak ku tersayang" ucap velin lalu mematikan panggilan secara sepihak


Aira mencoba menelfon nomor yang sama tapi tidak terhubung sama sekali, bahkan mungkin saja sudah di blokir.


"Adek dari siapa??" tanya Reza


"Ohh.. uhmm itu salah sambung kak" ucap Aira berbohong, lalu kembali seperti tidak terjadi apa pun


.


.


.


.


Kini Aira sendiri di kamarnya, ia berusaha keras untuk mengerti tentang apa yang akan dilakukan adik tiri nya juga neneknya, saat ia tidak tau harus melakukan apa sebuah pesan terkirim padanya dari nomor yang tidak dikenal


Ia membaca pesan singkat itu yang bertuliskan sebuah nama restoran yang dekat dari apartemen yang saat ini ia tinggali, beberapa hari yang lalu setelah masa Olimpiade berakhir Reza menyewa sebuah apartemen untuk ditinggali sementara waktu karena Reza juga ingin berlibur dan menghabiskan waktunya bersama Aira.


Masih sangat subuh saat Aira diam diam pergi keluar dari apartemen, ia pergi ke restoran yang ia tau dari seseorang yang tidak dikenal.


Sebuah mobil terparkir di depan restoran itu, dan saat kaca mobil terbuka ia melihat neneknya yang menatap nya dengan acuh, ia menghampiri mobil itu dan supir membuka kan pintu mobil untuk nya


"Kenapa nenek mau bertemu dengan ku?" ucap Aira


"Seluruh keluarga setuju untuk mengeluarkan mu dari silsilah keluarga" ucap Dea singkat yang membuat Aira sedikit terkejut


"Berkas berkasnya sudah ada, dan akta juga kartu keluarga baru untuk mu pun juga sudah ada.... hanya satu masalah.... Kau juga harus pergi dari sisi cucu ku Reza" ucap Dea, semakin tertusuk hati Aira saat ia mendengar hal itu


"Kenapa.... " ucap Aira


"Kenapa kau bilang!!?, apa kau bodoh?, jika Reza tau kalau kami yang mengusir mu dia pasti juga angkat kaki dari rumah ini, karena itu kau yang harus menjauh dari Reza, aku tidak peduli bagaimana pun cara nya, jika kau tidak melakukannya maka Reza juga akan dikeluarkan dari keluarga, kau tidak ingin itu terjadi kan?" ucap Dea menyeringai


Setelah itu Dea menggerakkan tangannya, mengisyaratkan agar supir membuka pintu mobil, Aira turun dari mobil dengan perasaan yang bercampur aduk, ia tidak tau harus apa saat tiba tiba tangan besar dan hangat menggenggam nya


"Aira..." ucap Brian terdengar sangat hawatir


Aira menatap mata Brian yang tulus pada nya, suara nya yang halus terdengar tulus menghawatirkan nya, seketika Aira memeluk erat Brian dengan tangis yang pecah


Brian hanya bisa mendengarkan Aira yang berbicara di sela sela tangis nya, menunggu Aira sampai sedikit lebih tenang sambil mengusap lembut kepala Aira


"Sekarang gimana, semuanya hancur, Aira cuma punya kak Reza, kak Reza satu satunya keluarga Ira, dan mereka bilang Aira harus jauhin kak Reza, ira gabisa" ucap Aira sesenggukan


Jujur Brian merasa marah karena sikap keluarga Aira yang sudah sangat keterlaluan, ia merasa apa salah gadis kecil ini sampai harus menderita seperti ini


"Om Ira cape!!, kenapa semua orang pergi dari Aira, ira cape" isak Aira masih dalam pelukan Brian


"Sshh... it's ok baby girl, daddy's here" ucap Brian mengusap lembut kepala Aira, menempelkan dahinya dengan dahi Aira