
"Ayah kenapa buat kak Ira nangis sih!! bukannya ayah bilang kalo ayah suka sama kak Ira?!, terus kenapa kak Ira dibuat nangis!!" ucap Tian
"Tian pergi ke kamar mu" pinta Brian mengusap wajahnya kasar, hari ini adalah hari paling berat yang pernah ia lalui, karena hari ini ia harus membuat orang yang ia cintai membencinya
"Ayah jahat!! Tian benci ayah!" seru Tian lalu berlari masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras
"Tuan keringkan kepala anda, saya sudah menyiapkan baju ganti, sebaiknya anda segera mandi agar tidak sakit" ucap Joko dengan handuk sedang di tangannya
Brian mengambil handuk dari tangan pak Joko lalu pergi ke kamarnya, ia masuk ke kamar mandi, menyalakan shower lalu menutup matanya
("kalo tau gini Aira gamau kenal om dulu !")
("Kenapa om ingkar janji !!?")
("Ira salah apa om !!?")
kata kata Aira terdengar sangat jelas di telinganya saat ia menutup mata, membuat air mata Brian perlahan menetes tanpa ia sadari, Brian mengusap wajahnya kasar dan tiba tiba tertawa kencang
"Kamu ga salah.... perasaan saya yang salah, harusnya sedari awal saya sadar akan posisi saya, berani beraninya di usia saya yang sudah tidak muda lagi saya bermimpi untuk mendapatkan mu" gumam Brian tersenyum pahit
.
.
.
.
Brian keluar dari kamar mandi dengan memakai celana training berwarna hitam dengan handuk kecil di pundaknya. Tangan nya dengan telaten mengeringkan rambutnya yang basah dengan ujung handuk yang ada di pundaknya, tubuh atasnya terekspos bebas menunjukkan tubuh kekarnya dengan 6 kotak di perutnya
Brian membuka pintu lemari nya, memilih baju yang nyaman untuk ia gunakan, sampai tiba tiba
"Yan besok lu ada jadwal di perusahaan afk, sama di entertainment group yang mau nge wawancarai lu buat di lip- ASTAGHFIRULLAH MATA GUE AJG-!!!" ucap wulan yang begitu membuka mata disuguhi pemandangan Brian yang tengah setengah telanjang
"Ya itu kan salah mu" jawab Brian santai lalu memakai kaus berwarna nila yang tadi ia pilih
"Nih pintu ada kunci kan, kenapa ga lu kunci gitu biar mata gue yang harusnya buat ahem suami gue, ga ternodai." sewot wulan
"Pacaran doang ga nikah nikah" gumam Brian pelan
"Lu ngomong sesuatu??"
"Engga!, jadi besok jadwalnya apa aja?, dan bawa semua dokumen, aku mau selesein semua, kamu taruh aja di ruang kerja ku" ucap Brian singkat
"Hmm... key, btw jangan lupa, lusa gue tunangan....lu yakin lu oke?" -Wulan
"Maksud??" -Brian
"yaaa.... yang gue tau bukanya lu suka sama cewek yang waktu itu nemuin gue?, kenapa lu nyuruh gue boong kalo gue pacar lu?" -Wulan
"bukan urusanmu" -Brian
" sekolah doang yang tinggi sampe luar negri tapi ketemu cinta langsung jadi bego lagi " gumam wulan
"Kalo gaada urusan mending keluar deh" sahut Brian
Brian mengambil berkas yang ditinggalkan oleh wulan dan membawanya ke ruang kerjanya, semalaman ia mengerjakan semua dokumen yang harusnya selesai dalam satu Minggu ia selesaikan dalam semalam karena ia tidak mengantuk sama sekali
Matahari terbit saat semua berkas yang Brian kerjakan selesai, dia melihat jam di ponselnya lalu melihat pesan yang dikirim oleh wulan padanya
"Gue udah siapin kopi kaleng di kulkas, minum itu sebelum berangkat" ucap wulan dalam pesan
"Brian turun ke bawah, dan pergi ke dapur lalu membuka kulkasnya, ada dua kopi kaleng dengan kertas kecil yang menempel di salah satu kaleng 'jangan jadi worcaholic, ntar duda seumur hidup gue sukurin' tulis wulan di kertas itu
"Sebenernya aku heran kenapa Angga dan Dimas cinta mati sama cewek slebor kayak dia" ucap Brian
Brian mengambil salah satu kaleng dan membuang kertas kecil itu ke tong sampah, ia membuka kalengnya dan meminumnya
Ia duduk di meja makan, termenung dan menikmati suasana hening pagi hari, tiba tiba Brian teringat saat ia dan Aira makan bersama
("Om coba deh makan ini, enak loh!")
("Om, bilang aaaa~")
("Hmmm.... gamau makan ah kalo ga di suapin om Rian yang gantengnya kelihatan dari jarak 500m")
Brian terdiam.... melihat kursi kosong di depannya yang biasanya di duduki oleh Aira, "Seandainya aku bisa egois...." cicitnya
Brian pergi dari ruang makan dan menuju ke kamar Tian, Brian mendekati Tian dan mengusap lembut kepala Tian, tiba tiba Tian menggenggam tangan Brian erat, "Kak Ira.... jangan pergi" gumam Tian
Brian terdiam....dia melepaskan genggaman Tian dan pergi dari kamar Tian lalu bersiap untuk ke kantor
Brian mengikuti semua jadwal tanpa ada yang terlewat, berusaha melupakan Aira dari pikirannya, tapi nihil, ia tetap memikirkan Aira, bahkan ia mulai gila karena menganggap orang lain adalah Aira
"Jangan ngeboongin perasaan lu sendiri, karena lu sendiri yang bakal menderita" ucap wulan sambil memberikan kopi ke Brian
"Kau sekretaris ku bukan ibu ku" balas Brian datar
"Terserah lu aja" ucap wulan yang juga mulai lelah
Saat Brian sibuk dengan komputer nya tiba tiba ponselnya berdering, Brian melihat ponselnya, di kontak tertulis nama 'Mita'
"Mita? ada apa??" tanya Brian
"Aku gaakan bertele tele, Aira saat ini ada di rumah sakit, dia melukai dirinya sendiri karena mungkin terguncang, sama seperti dulu, dan aku gaakan tanya kenapa Aira bisa seperti itu, tapi jika memang kamu ada perasaan untuk serius, bahkan jika hanya 1%, jangan kecewakan gadis kecil itu untuk kesekian kalinya" ucap Mita serius lalu mematikan panggilan secara sepihak
Brian tertegun.... Aira masuk ke rumah sakit, bahkan melukai dirinya sendiri, dan ini semua karena nya, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan, karena ego nya melarangnya untuk bertemu dengan Aira
Wulan yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka ikut angkat suara, "Gimana??, Lu seneng sekarang?" sahut wulan
"Gue.... gatau." ucap Brian
"Yan.... lu ga harus ngalah buat semua hal, lu juga berhak bahagia, dan kalo Aira bukan sumber lu bahagia mending jauhin, tapi kalo sebaliknya... jangan pernah lepas dia dengan alasan apapun, your feelings and your destiny, you determine it and no one else" ucap wulan lalu pergi
"but what if the feelings I feel can hurt him...." gumam Brian mengusap wajahnya kasar
Wulan pergi untuk beberapa saat dan kembali dengan membawa beberapa lembar kertas lalu menyerahkannya ke Brian, "Ini rumah sakit tempat gadis itu dirawat, juga dokumen tentang nya" ucap wulan
"Jangan jadi bodoh, lu bukan Angga, dan ini cerita tentang lu dan gadis itu, gue dan Angga pisah karena gue yang gaada perasaan sama dia, karena itu Angga relain gue, tapi kalian sama sama punya perasaan kan, cinta pertama seorang gadis gak gampang di lupain, tapi sakit hati nya lebih sulit di sembuhin, jangan sampe lu menyesal nanti" ucap wulan