
"Tadi temen Tian bilang, karena sekarang Tian udah punya mama berarti Tian bakal punya adik kan?" ucap Tian dengan mata berbinar
Aira melihat Brian berharap, dan Brian hanya berusaha menghindari tatapan Aira, karena merasa kecewa dengan reaksi Brian Aira menghadap ke belakang dan bertanya ke Tian
"Emang Tian mau adik?" tanya Aira
"Iyaa, Tian mau kayak temen temen Tian kalo berangkat sekolah, sama pulang sekolah bisa becandaan sama adik mereka, Terus juga pipi adik pasti lebih lembut dan kenyal kenyal karena mama kan cannntiikkkkk banget" oceh Tian tanpa henti
"Tian juga mau punya adik perempuan, nanti Tian yang jagain dia, terus kalo adik laki laki bisa main bola bareng" oceh nya lagi
"Jadi kapan Tian punya adik??" ucap Tian lagi
"Tian... Aira masih harus meneruskan sekolah nya, jadi punya adiknya di tunda dulu ya?" Jawab Brian lembut agar tidak menyakiti hati Tian
"Mama mau sekolah lagi?" tanya Tian murung, dan dengan terpaksa Aira menjawab iya yang membuat wajah Tian semakin ditekuk
"Yaudah deh.... kalo mama udah ga sekolah berarti bisa ambil adik?" tanya Tian
"Ambil.. adik!??" Brian dan Aira heran
"Kata teman ku, tiap malam ayah sama ibunya berantem sama monster, terus kalo menang bisa ambil adik, karena itu tiap orang tuanya ambil adik, dia di titipin ke rumah nenek nya" ucap Tian polos yang membuat Aira dan Brian menahan tawa nya
"Emang salah?" sahut Tian
"Engga sayang, bener kok, Mama harus bertarung dulu sama monster, sambil papa lindungin mama dari depan" jawab Aira
"Ya kan om?om bakal jagain aku kan? " goda Aira
Aira tertawa kecil saat melihat wajah Brian yang memerah karena malu, Akhirnya mereka sampai di rumah, Tian berlari keluar dan memasuki rumah, diikuti Aira di belakang nya, sedangkan Brian memasukkan mobilnya ke garasi.
Waktu berlalu sangat cepat, Aira tengah menidurkan Tian di kamar Tian, ia membacakan beberapa buku, juga menyanyikan lagu tidur hingga Tian tertidur.
Setelah memastikan Tian tertidur Aira pergi dari kamar Tian dengan hati hati, ia lihat ruang kerja Brian masih menyala, "Om belum tidur?" ucap Aira
"Sebentar lagi, aku harus mengerjakan ini untuk rapat besok" ucap Brian
Aira mendekati Brian dan duduk di pangkuan nya, Brian sama sekali tidak merasa terganggu, ia merangkul pinggang Aira dan menatap matanya.
"Ada apa hmm?" tanya Brian
"Kita gaakan punya anak selama aku masih sekolah?, apa aku ga nerusin pendidikan aja?" gumam Aira
"Kenapa seperti itu?, bukannya kamu ingin meneruskan pendidikan mu?" tanya Brian menyelipkan rambut yang menutupi wajah Aira ke belakang telinga Aira
"Kalo.... aku kuliah, bukannya aku bisa aja lalai sama tugas ku jadi seorang istri, terus juga.. Tian juga ingin adik" ucap Aira
"Apa kamu hawatir tentang hal itu?" tanya Brian tersenyum, Aira mengangguk pelan sebagai jawaban
"Tidak perlu hawatirkan apapun, bukan nya dari dulu kamu ingin jadi seorang akutansi, karena itu kamu mengumpulkan banyak sekali buku tentang akutansi?, aku akan membantu mu, tapi kalau memang kamu ingin berhenti, aku tidak akan memaksa mu" ucap Brian menempelkan keningnya pada kening Aira
"Jadi bagaimana, ingin berhenti?" tanya Brian dengan senyuman yang sangat hangat
Aira menggelengkan kepalanya, sedari kecil ia ingin berkerja di bagian akutansi pendidik, menjadi seorang dosen.
"good girl" ucap Brian memberikan kecupan singkat di pipi Aira
"Berarti kalo mau manjain om..... harus pake pengaman dong" goda Aira menatap mata Brian sambil tangan nya yang mulai meraba di berbagai tempat
"Aira berhenti... aku sedang berkerja" ucap Brian memohon
"Humm...aku tau kok om lagi kerja, siapa yang ngomong om lagi mandi?" ucap Aira semakin meremas bagian sensitif Brian
"ukhg.... " desah Brian berat
"Om... ke kamar yuk" bisik Aira lembut di telinga Brian
"Jangan nakal gadis kecil" sahut Brian menghentikan tangan Aira
bukan tangan, sekarang malah badan Aira yang menggesek nya, Aira melingkarkan tangan nya ke lengan Brian, mendekatkan wajahnya, dan tiba tiba saja menggigit leher Brian hingga berdarah
"hshh" Brian menahan rasa sakit nya
Setelah puas memberikan tanda kepemilikan Aira menjilat ujung bibir nya yang terkena darah, "Sekarang semua orang bisa tau kalo om punya ku" ucap Aira puas
"Sepertinya kamu perlu diberi pelajaran" ucap Brian melepaskan dasinya
"Gawat" gumam nya
Brian memegang kedua tangan Aira dan mengikatnya di depan dengan dasinya, ia menggendong Aira dan membawa Aira ke sofa panjang di samping meja kerja nya. Brian menaruh Aira dengan lembut dan menindih badan Aira
"M maaf om, Ira cuma iseng" ucap Aira panik
"Terlambat gadis kecil" ucap Brian mulai membuka 3 kancing atas kemejanya
"Pelankan suara erangan mu, atau Tian bisa terbangun" bisik Brian lembut dengan suara khasnya yang sedikit serak, dan berat yang membuat seluruh tubuh Aira merinding
Perlahan Brian membuka baju tidur tipis yang dipakai oleh Aira, terlihat semua badan bagian atas Aira karena Aira tidak pernah memakai pakaian dalam saat ia akan tidur, dan Brian tau jelas hal itu, ia kecup singkat semua tempat, mulai dari kening, telinga, mata, bibir, leher, hingga turun ke bawah.
"humngg!!" erang Aira tertahan
Brian turun ke perut Aira, dengan satu tangan yang memegangi tangan Aira di atas dan tangan yang lain mulai melepas celana Aira.
Brian mencium semua tempat dan membuat banyak tanda di tubuh putih Aira.
"o... om, ungh" Aira mendongak
Seluruh tubuh nya kini terasa sangat panas, bagian bawah nya terasa tidak nyaman karena basah dan Brian juga memainkan lewat cd yang masih ia pakai.
"Aku akan mengajari mu dengan benar, sampai mungkin kau akan kesusahan berjalan" bisik Brian lembut di telinga Aira, lalu menggigit nya dengan bibi nya.
.
.
.
.
.
"Humm... ayahhh!!!" ucap Tian dari arah tangga
"Kenapa?" tanya Brian heran
"Mama kemana??, ko ga bangunin Tian tadi pagi??" tanya Tian
Brian sedikit terkejut hingga tersedak, wajah Brian tiba tiba memerah karena malu, membuat Tian yang melihat nya heran.
"Makan pelan pelan yah" ucap Tian
"Mama mu.... dia sedang istirahat di kamar" ucap Brian
"Ehh ko tumben? mama sakit??" tanya Tian lagi
Bel rumah berbunyi, Brian membuka pintu rumah nya, "Ah terimakasih sudah menempatkan datang, karena istri ku tidak bisa berjalan... " ucap Brian berdeham sedikit malu
"Loh mama kenapa gabisa jalan?, ayah apain mama!?" ucap Tian
Dokter, Brian, dan Tian masuk ke kamar, dokter memeriksa kondisi Aira, setelah itu menanyakan beberapa pertanyaan pada Aira dan menuliskan resep obat.
"Tuan Brian, jika kalian sedang melakukan hubungan perhatikan juga kondisi istri anda, lalu nona kecil jangan terlalu memaksakan dirimu juga, dan tetap berolahraga karena stamina mu sangat buruk" ucap sang dokter
Aira jujur saja merasa malu, Brian pun sama, mereka melakukan banyak ronde, mungkin karena itu sekarang pinggang Aira terasa sangat sakit, ia bahkan sulit bergerak, karena ini memang adalah pertama kalinya.
Setelah selesai memeriksa, Brian mengantar sang dokter untuk keluar, Brian juga menyuruh pelayan nya membelikan obat yang tadi sudah di resep kan.
"Ayah apainn mamaa!!" seru Tian sekali lagi
"Tian... " panggil Aira
"Hweeee mamaaaa!!, hiks hiks, mama sakit?, mama diapain sama ayahh" ucap Tian dengan air mata yang perlahan mulai mengalir
"Mama.... abis kepeleset tadi, jadi gini, bukan salah ayah mu" ucap Aira
'Itu karena punya ayah mu keberasan nak, mana staminanya banyak banget meski udah berumur' batin Aira
"Mama bakal cepet sembuh kok, oke?, sementara itu nurut sama ayah ya" ucap Aira
"Iya... " balas Tian masih sesenggukan