Daddy Will You Marry Me

Daddy Will You Marry Me
EPS.23



Brian berdiri di balkon kamarnya, menatap jauh ke depan, dan mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Haykal padanya beberapa menit yang lalu


*Flash back on


"Karena anda circle kami bisa aja terpecah belah, bahkan Arya juga dalam kondisi terpuruk dan itu semua karena keegoisan Aira yang mencintai anda, anda pamannya Arya kalau begitu tolong jauhin Aira demi Arya" -Haykal


"Maaf apa maksud kamu?" -Brian


"Aira suka sama anda, sedangkan Arya menyukai Aira, circle kami terpecah belah, bahkan persahabatan kami juga jadi taruhan, dan ini karena keegoisan Aira ingin mencintai anda" -Haykal


"Tolong jauhi Aira demi Arya dan demi persahabatan kami" ucap Haykal lalu pergi


*Flash Back off


.


.


.


.


Brian pergi dari balkon lalu pergi keluar, menaiki mobil menuju ke kompleks Aira, tapi kali ini tujuan nya bukan rumah Aira, melainkan rumah Arya, keponakannya, ia pencet bel rumah beberapa kali hingga ada seorang wanita paruh baya yang membukakan gerbang untuk nya, dari dalam rumah Mita keluar dengan raut wajah yang tidak cukup baik


"Brian? ada apa kesini?" tanya Mita


"Apa aku bisa melihat Arya?, kudengar dia sakit" ucap Brian berbohong


"Ah Arya... kondisi nya sedang ga baik sekarang, mungkin kau bisa datang lain kali" ucap Mita


"Sebenarnya Arya sakit apa?, mungkin aku bisa membantu" ucap Brian


"Arya... dia, ah ya dia demam cukup tinggi, mungkin karena terlalu kelelahan" ucap Mita


"Begitu... kalau begitu sepertinya aku datang lain kali saja" ucap Brian lalu pergi sembari memberikan bingkisan buah buahan


"Ah iya, terima kasih" ucap Mita


Brian masuk ke dalam mobilnya, melajukan mobilnya pelan lalu berhenti di persimpangan jalan, "Mita memang bukan pembohong yang baik, sekarang apa yang harus kulakukan" gumam Brian frustasi membenturkan kepalanya ke setir mobil.


Berbeda dengan Brian, Aira dalam kondisi hati yang baik, sangat baik malah karena dia menerima respon yang baik dari Brian


"Uhmm.... chat gimana ya, gue ganggu gak ya, apa gausah chat aja, lagian baru beberapa menit tadi ketemu.... ish tapi gue kangen" ucap Aira sambil mondar mandir


"Dek?, udah gila ya?" ucap Reza yang dari tadi melihat adiknya mondar mandir sambil ngomong ngomong sendiri


"Dek jangan gila dulu dek, utang mu ke kakak blom lunas" lanjut Reza dramatis sok sok an ngusap air mata pake tisu transparan


"iihh gemess pen nyubit ginjal kakak" ucap Aira tersenyum ramah


"Tu wajah ga cocok banget sama sifatnya, oplas aja habis ini" ucap Reza


"Ish diem ah, Ira lagi galau nih" rengek Aira manja lalu rebahan di kasur sambil memeluk boneka beruang nya


Reza menghampiri sang adik lalu duduk di tepian tempat tidur, "kenapa sih, ada apaan?" tanya Reza


"Tadi Aira ungkapin perasaan Aira ke om Brian" -Aira


"trus?" -Reza


"Yaaa respon nya baik, kayaknya om Brian juga suka sama Ira deh"


"Masa sih?, kepedean kamu"


"iihh engga loh, orang om Brian salting og"


"iya sih.... tapi karena terlalu bagus itu Ira juga jadi ikutan salting, jadinya tadi Ira ngacir duluan ke dalem ga pake salam"


"dari SD sampai mau lulus SMA, di les in juga, kenal cinta jadi goblok"


"kakak kalo ngomong jangan suka bener gitu dong"


"Kakak cuma bisa dukung kamu doang, tapi kamu udah ngomong situasinya ke Arya?, kakak ga bodoh kek kamu, kakak tau Arya suka sama kamu dan dia udah ngomong kan, Aira! kamu ga salah kalo kamu suka sama seseorang, tapi jangan bersikap egois, buat jalan antara kamu sama Arya biar kalian sama sama seneng, kakak yakin persahabatan kalian kuat" ucap Reza tiba tiba


"Gimana mau ngomong nya, Arya aja gamau ketemu Ira 3 hari belakangan ini, dia juga ijin sekolahnya" ucap Aira


"Kalo ada jendela kenapa harus lewat pintu" usul Reza


"Wahhh kakak pinter banget sih, tumben" ucap Aira sambil tepuk tangan kek bocah


"Pengen ku geprek, tapi sayang" ucap Reza hanya mengelus dadanya, sabar dia tuh


.


.


.


.


.


Malam harinya Aira bersiap pergi ke rumah Arya, ia memakai Hoodie hitam dengan masker hitam bergambar kucing hitam juga, dan celana training nila, dengan sepatu sneaker nya.... Pokoknya tuh bernuansa item item kek maling


Aira melompati tembok dan turun dengan estetik di halaman depan Arya, setelah bergaya beberapa detik Aira pergi ke halaman belakang, memanjat pohon mangga yang tinggi nya mencapai lantai dua, karena kamar Arya ada di lantai dua jadi gampang lompat nya


Aira melempar beberapa mangga kecil ke jendela yang tertutup, Arya yang merasa terganggu membuka jendela kamarnya dan begitu jendela dibuka Aira langsung melompat dari pohon ke dalam kamar Arya


*Brugg!!!...


"Gue kira gue bakal kepergok warga tadi karena dikira maling" ucap Aira sambil bangkit dari atas tubuh Arya


"Aira!!, lu ngapain sih!?, tadi itu bahaya banget, kalo lu salah lompat nya terus jatoh gimana, untung gue narik tangan lu!!" ucap Arya yang masih terkejut karena tiba tiba Aira melompat ke arahnya tanpa aba aba


Aira melihat sekeliling kamar Arya, bersih, tanpa noda, bahkan barang barang tertata rapi, 'Iihh kamar nya kok rapi, ga kayak kamar gue waktu depresi yang kayak copy an kapal pecah' batin Aira


"Hoi lu dengerin gue ga s-"


Tiba Aira memeluk Arya erat, membuat Arya terkejut dan lalu terdengar sedikit isakan dari Aira


"Ra ... lu nangis?" ucap Arya


"Enak aja, gue ga nangis ya, cuma kelilipan kecoa" ucap Aira sok sok an kuat padahal lagi mewek


Arya memegang pundak Aira berusaha melepas pelukan Aira tapi terhenti karena Aira tidak ingin pelukannya terlepas, dan karena dia tidak ingin Arya melihat wajahnya yang sedang menangis


"Ya' jangan kek gini lagi, gue kangen lu yang dulu, gue kangen kita yang ngumpul ngumpul bareng lagi, plis jangan suruh gue milih, lu berharga buat gue" ucap Aira nanar


"....." -Arya


"Gue suka sama om Brian, gue juga sayang sama lu, kalian berharga buat gue, gue sayang sama kalian dalam porsi masing masing, tolong jangan buat gue milih ya', tolong jan ngejauh..." ucap Aira nanar


Aira melepaskan pelukannya dan menunduk dalam, dia merasa bersalah tapi juga lega di saat yang sama. Arya menangkup wajah mungil Aira dan menatap matanya, mata yang dulu selalu melihat nya dengan tatapan binar dan gembira kini deras air mata.


Arya menempelkan keningnya dan kening Aira membuat Aira sedikit terkejut sebentar, lalu Arya menggenggam lembut tangan Aira.


"Maafin gue ya, maaf gue egois, padahal gue yang bilang kalo gue bakal terima apapun jawaban lu, tapi setelah tau gue malah maksa lu buat milih, maafin gue ya" ucap Arya lembut