
"ayah kenapa sih gabolehin Tian deket sama kak Aira!!, kalo emang ayah mau lupain kak Aira ya ayah aja yang lupain, jangan nyuruh Tian buat lupain kak Aira, Tian udah ngertiin kemauan ayah, kenapa ayah gamau ngertiin apa mau Tian, ayah egois!!!" ucap Tian sambil memandang tajam mata Ayah nya
Brian hanya mengacuhkan semua kata kata Tian hingga membuat Tian kesal, "Tian mau ke rumah kak Arya!" ucap Tian akhirnya
"Sebaiknya kau tidak merepotkan orang, di rumah saja" balas Brian acuh
"Pokoknya Tian mau ke rumah kak Arya, atau Tian bakal aduin ayah ke nenek!!" bantah Tian
Brian menghentikan mobil nya, melihat Tian yang juga sedang menatap nya dengan tatapan mata yang tegas, hanya helaan nafas panjang yang Brian keluarkan
Brian mengeluarkan ponsel nya dan menelfon seseorang, setelah itu ia memutar mobilnya ke arah komplek Aira dan berhenti di depan rumah Arya, Tian yang menyadari itu matanya langsung berbinar dan dengan terburu buru keluar dari mobil saat ia melihat Arya juga Aira yang sudah menunggu nya
"Ayah akan menjemput mu sore nanti" ucap Brian
Tian hanya mengangguk lalu berlari keluar mobil dan memeluk Aira, "Kakak kok tau Tian bakal kesini??" ucap Tian
"Yaa... tadi tante Mita nelfon kakak, katanya Tian akan datang ke sini, jadi tadi kakak langsung ke sini" jawab Aira
"memangnya tadi kakak mau kemana??" tanya Tian
"Ke base camp kakak, tempat kakak sama teman teman kakak biasa berkumpul, tempat rahasia kami juga" jawab Aira
"uuwaahhh Tian juga mau ke sana" ucap Tian dengan tatapan berbinar
"eehh??, kesana??, tapi tempat nya agak jauh loh, terus juga agak kotor" sahut Arya
"tapi Tian mau kesana" ucap Tian
"lain kali aja gimana?? lagian juga besok Tian kesini lagi kan?" ucap Arya panik
"kenapa ga sekarang aja, lagian juga di rumah lu gaada yg seru" sahut Aira
"tolol lu, di base camp ada barang barang haram, dan lu malah mau bawa ponakan gua ke sarang setan, mikir pea!" bisik Arya
"astaghfirullah gua lupa" ucap Aira
"Tian lain kali aja ya, lagi pula sebenernya kakak mau ngajak Tian main ps nya kak Arya, Arya punya banyak banget game yang seru, kita main bertiga, oke??" ucap Aira
"hhmmm.. yaudah deh Tian mau main game" ucap Tian
"Tian mau di gendong ga????" ucap Aira
"iya.. Tian mau!!" jawab Tian
"Arya gendong gih" sahut Aira
"lah gua!!?" ucap Arya
"iyalah, siapa lagi kalo bukan lu, yakali pak RW" jawab Aira
"Lu yang nawarin njir, masa gua yang gendong" ucap Arya
"Lu kan om nya pea, lagian Tian juga ga berat amat, lu gendong dosa lu yang segaban aja bisa, masa gendong Tian gabisa" sahut Aira
"ya itu beda curut" sewot Arya tapi tetap berjongkok agar Tian bisa naik ke pundak nya
"Tian pegangan ya, biar ga jatuh" ucap Arya
"iya kak~" ucap Tian
Brian hanya melihat ketiga orang yang ia sayang mulai menghilang dari kejauhan, ia tetap beranggapan bahwa ini yang terbaik meskipun ia harus terluka, setelah memastikan mereka masuk dengan aman dia menjalankan mobilnya dan pergi, bukan ke rumahnya, melainkan ke kantor nya.
.
.
.
.
"ayah udah pergi kak??" tanya Tian ke Aira
"udah, ayah mu udah pergi" Jawab Aira yang sedang melihat mobil Brian yang mulia tidak terlihat
"iya iya, nih gua masuk" ucap Aira sambil menutup pintu
"bik tolong bawain minuman ya, satunya teh, trus susu coklat buat Tian, sama stoberi buat Aira, yang dingin aja bik, biar seger" ucap Arya pada bik Ija
Bik Ija pergi untuk menyiapkan minuman juga camilan, sedangkan Arya, Aira, dan Tian pergi ke kamar Arya dan menyiapkan ppsp
Sementara itu Brian masih sama dengan tumpukan berkas berkas di meja kerja nya, matanya fokus pada layar komputer nya, jari nya bergerak tanpa henti mengetik dan memindahkan mousenya
Wulan datang dengan menggerutu kesal karena harus bekerja lembur di hari libur nya, dengan kesal ia menata dan mengelompokkan rapi berkas berkas yang sudah Brian kerjakan.
"Kau gila ya memanggilku saat aku sedang libur begini" oceh Wulan
"Harusnya sekarang aku sedang berduaan dengan suami ku, dan kau malah memanggilku ke sini, aku sudah mengajukan liburan untuk bulan madu, kau hanya memberiku waktu 1 minggu, YANG BENAR SAJA!! ITUPUN AKU MASIH TETAP DISURUH KE SINI!!" oceh Wulan tanpa henti sambil mengelompokkan berkas berkas
"Aku hanya meminta tolong, kau kan bisa menolak ku" jawab Brian acuh
"Wulan udah??" sahut seorang pria yang tak lain adalah Dimas
"kak Dimas~" rengek Wulan manja sambil berlari ke arah Dimas
Dengan senang hati Dimas membuka tangan nya lebar dan mereka berpelukan dengan mesra di depan Brian
"Kenapa hmm??" jawab Dimas lembut
"Aku cape tauuu~, padahal ini hari libur, tapi Brian malah menyuruh ku merapikan berkas" gerutu Wulan manja
"semangat ya, aku bakal di samping kamu sampai selesai" ucap Dimas sambil menggesekkan hidung Wulan dengan hidungnya
"permisi... ini bukan hotel atau kamar kalian, jadi jika ingin berciuman tolong pergi dari ruangan ku" sahut Brian mengacaukan suasana
"tch" gumam Wulan
"Hey aku tau kau pekerja keras, tapi sepertinya kau terlalu bekerja keras" sahut Dimas
"..... "-Brian
"Kau makan dengan benar kan?" tanya Dimas
"Sepertinya engga deh" sahut Wulan
"sepertinya kalian lebih baik pergi saja, aku semakin gabisa konsentrasi karena kalian" ucap Brian menghela nafas panjang
"Asiikk~, ayo kak pergi!" ucap Wulan
"Kamu ke bawah dulu ya, aku ada urusan bentar" ucap Dimas
"hhmmm... yaudah deh, bentar loh ya, jangan lama lama" ucap Wulan
"iya bentar sayang" jawab Dimas sambil mengecup kening Wulan lalu meninggalkan ruangan
"kau ada masalah??" tanya Dimas
"tidak ada" jawab Brian
"Tiap kau ada masalah kau selalu menyibukkan dirimu dengan segala urusan, aku sudah hafal tentang mu, kita sudah bersahabat lebih dari 20 tahun, akan aneh jika aku tidak tau apapun tentang mu" ucap Dimas
"ini bukan masalah besar jadi akan cepat selesai" jawab Brian
"kau menyukai nya kan" ucap Dimas
"Aku tidak menyukai Aira, aku hanya menganggap nya seperti putri ku sendiri" ucap Brian
"Kapan aku menyebut Aira??" sahut Dimas
"Kau.... sialan!" ucap Brian sinis
"dari dulu sampai sekarang kau selalu memperhatikan pandangan masyarakat, padahal kau tau tidak semua orang memandang mu salah" ucap Dimas
"Aku hanya berharap yang terbaik untuk mu, segera pahami isi hati mu dan apa yang kau inginkan sebelum semuanya terlambat, kau tidak ingin kan kejadian yang sama terulang lagi??" ucap Dimas dengan tersenyum lalu keluar dari kantor Brian
"Tapi perbedaan usia di antara kami... benar benar sangat jauh, tidak mungkin aku menikahi seseorang yang bahkan bisa menjadi putri ku" gumam Brian menghela nafas berat dan mengusap wajahnya kasar