Daddy Will You Marry Me

Daddy Will You Marry Me
EPS. 41



"Tian lihat tuh ayah mu udah jemput" ucap Aira saat mendengar suara mesin mobil Brian


"niat banget bund ngafal nya" sahut Arya


"Diem lu, jan ngejek!" ucap Aira


Aira pergi membantu Tian bersiap siap lalu mengantar Tian keluar bersama Arya, Brian melihat Aira dan Arya yang menggandeng kedua tangan Tian, rasa nyeri muncul di hatinya hingga tanpa sadar tangan nya sudah mengepal keras


"Tian gaboleh nakal ya, gaboleh berani sama ayah, gaboleh bandel, oke?" ucap Aira


"Iya Tian bakal jadi anak baik kok, karena itu besok kak Aira bakal mampir ke rumah Tian kan?" ucap Tian berbinar


"Iya iya, kakak sama kak Arya bakal mampir kok, udah sana masuk, kasian ayah kamu nungguin" ucap Aira memberikan kecupan singkat ke Tian


"Aku ga dikasih nih?" ucap Arya


"Udah gede gosah manja" balas Aira acuh


"Yeee gaadil itu namanya" sahut Arya mencubit lembut pipi Aira


"ish udah iihh, cepet sana anterin Tian dulu" ucap Aira


Arya mengantar Tian ke Brian, membuka kan pintu mobil agar Tian bisa masuk, saat Arya akan pergi Brian tiba tiba angkat suara


"Apa.... kamu memiliki hubungan dengan Aira?" tanya Brian


"Itu bukan urusan om kan" jawab Arya acuh lalu pergi menghampiri Aira


'Benar... seharusnya aku tidak ikut campur lagi, aku yang memilih untuk menjauh dari kalian, dan inilah yang kudapat' batin Brian lalu melajukan mobilnya pergi


Selama beberapa minggu Aira dan Arya selalu mampir ke rumah Brian, tanpa terlewat sedikit pun, apalagi saat menjelang hari libur mereka akan menginap di sana, Brian tidak pernah merasa tidak nyaman malahan mungkin sedikit demi sedikit tanpa sadar Brian semakin memiliki sedikit harapan tanpa ia sadari.


Seperti saat ini Brian memperhatikan dari jauh Tian dan Aira yang sedang bermain bola di taman, "Tian lempar ke sini!" ucap Aira


"Tian lempar ya kak siap siap" ucap Tian bersemangat


Tian melempar bola nya cukup jauh hingga Aira tak dapat menangkap nya, bola itu menggelinding dan tepat berhenti saat menabrak sepatu Brian


"Om Brian lempar bola nya ke sini" ucap Aira tersenyum lebar sambil berbalik ke arah Brian


"Permisi tuan, ada nyonya Wulan yang ingin bertemu dengan anda" ucap pak joko di depan pintu masuk ruang kerja nya


Brian sedikit terkejut lalu menghela nafas panjang hingga membuat pak joko keheranan, "Suruh masuk saja" ucap Brian


Setelah Wulan masuk pak joko menutup pintu nya lalu pergi mengurus urusan rumah tangga yang lain


"Kenapa wajah mu seperti tertangkap basah gitu?" tanya Wulan heran


Wulan yang penasaran menghampiri jendela setelah memberikan berkasnya pada Brian untuk melihat apa yang membuat Brian sampai se terkejut itu saat ia datang


'Aahh pantas saja' batin Wulan menyeringai


"Kayak nya akhir akhir ini aku sering liat Aira datang ke sini, apa ada sesuatu?" ucap Wulan


"Bukan seperti yang kau pikirkan" jawab Brian cepat


"memangnya aku memikirkan apa?" ucap Wulan


"jika kau sudah tidak memiliki urusan denganku tolong pergi saja, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku" ucap Brian


"Kau yakin tidak ingin mencari ibu untuk Tian" sahut Wulan


"Tidak mungkin aku menjadikan Aira sebagai ibu untuk Tian" jawab Brian


"memangnya aku berbicara tentang Aira?" goda Wulan


"ahh sialan" ucap Brian akhirnya memilih diam


"jujur aja, tadi kau membayangkan kau sedang bermain bersama mereka kan, menjadi keluarga yang bahagia" ucap Wulan


"padahal hati mu saja menginginkannya kenapa kau sangat keras kepala" gumam Wulan yang masih bisa didengar oleh Brian


"Yahh terserah kau saja, ngomong ngomong masa kontrak ku habis tiga hari lagi" ucap Wulan


"mau ku perpanjangan?" ucap Brian


"Dengan senang hati saya menolak tawaran anda" ucap Wulan lalu pergi


.


.


.


.


Tanpa sadar malam hari datang, Aira keluar dari kamar Tian setelah menidurkan Tian, ia pergi ke dapur karena merasa haus, saat dalam perjalanan menuju ke dapur ia melihat ruang kerja Brian yang terbuka.


Aira memasuki ruang kerja milik satu satunya orang yang ia cintai, ia melihat Brian yang sepertinya tertidur karena kelelahan, bisa ia lihat dari tumpukan berkas juga teko kopi yang habis tak bersisa


Ia lihat Brian dengan seksama, Brian terlihat sangat kelelahan, Aira mengusap lembut wajah Brian, memberikan selimut lalu mengecup singkat kening Brian sebelum akhirnya meninggalkan Brian


"Om....sejauh apa aku harus pergi biar om bisa sadar sama perasaan om sendiri" gumam Aira tersenyum kecut lalu meninggalkan rumah Brian