
Brian melihat sosial media milik Aira, disana Aira memposting dirinya yang sedang ada di bandara 2 jam yang lalu, ia mencoba mengingat sesuatu tapi nihil, yang ia ingat terakhir kali hanya dirinya yang sedang membentak seseorang.
"Apa yang sudah kulakukan saat mabuk?!" gumam Brian mengusap wajahnya kasar
saat Sore harinya Brian memutuskan untuk mendatangi rumah Aira, tapi tak ada seorang pun yang terlihat, sampai akhirnya ia berpapasan dengan Arya
"Ngapain om kesini!?" ucap Arya sinis
"Ah itu... apa kau melihat Aira?" tanya Brian
"Untuk apa om bertanya tentang Aira, Om sendiri kan yang malam itu membentak Aira agar menjauh dari om?" ucap Arya tajam
Dari kejauhan terdengar suara seorang gadis yang memanggil nama Arya dengan sebutan sayang, mendengar itu Brian sedikit terkejut
"Maaf ya om, aku sibuk" ucap Arya sambil meninggal kan Brian menjauh
"Arya bukan nya kamu berpacaran dengan Aira!!?, kenapa.. gadis itu memanggil mu dengan sebutan seperti itu?" ucap Brian
"Om gatau ya, atau pura pura bego?, Aira cuma suka sama om, tapi om yang selalu kabur dari Aira, kenapa tiba tiba sekarang nyariin Aira lagi?, kalo om cuma mau main main.... mending jangan, karena aku gaakan diem aja kalo ada seseorang yang buat Aira sampe nangis,meskipun itu om." ucap Arya dengan tersenyum lalu pergi dengan sepeda motornya bersama dengan wanita yang tadi memanggilnya sayang
Brian kalut dengan pikiran nya, semua kenangan nya bersama Aira muncul menghujani nya, "jadi.. selama ini aku salah?" ucap nya
Brian melamun selama perjalanan hingga tanpa sadar ia hampir menabrak kucing yang lewat, karena keadaan sekitar sepi untung nya tidak ada korban, hanya mobilnya yang lecet karena menabrak pohon, dan sedikit luka di dahinya
Berbeda dengan Brian yang penuh dengan rasa penyesalan Aira sampai di kota Bandung dengan nyaman, ia bahkan memiliki teman bicara selama perjalanan karena ya, Aira tipe orang yang tidak bisa diam, dan tipe orang yang cepat akrab dengan orang lain
"Huaahhhhh sampaiii!!" seru Aira
saat sedang meregangkan diri tiba tiba ada seseorang yang menghampiri nya, "Dengan adek Aira dari SMK XXX, peserta yang mengikuti Olimpiade fisika, benar?" tanya orang itu
"Ah iya aku Aira, dan benar semua.... kakak dukun ya?" ucap Aira berbinar membuat orang itu tertawa
"Sayangnya bukan, aku pengurus mu di sini, nama ku Andri" ucap nya memperkenalkan diri
"Oh salam kenal kak Andri aku Aira" balas Aira
"Kalau gitu sesi perkenalan nya bisa dilanjut nanti, sekarang aku akan mengantar mu ke hotel tempat mu tinggal untuk sementara" ucap Andri
Aira menurut dan mengikuti Andri ke mobil tanpa kecurigaan sedikit pun, saat mereka dalam perjalanan tiba tiba Andri tertawa membuat Aira sedikit bingung
"Kamu kok nurut aja astaga, ga nanya dulu atau mastiin ke Dimas, atau minta surat pengenal buat bukti" ucap Andri di sela sela tawanya
"Oh.... aku bawa bubuk cabai kok buat jaga jaga, jadi gapapa, lagian muka muka kaya kakak ga cocok banget jadi penculik" ucap Aira
"Terus cocok nya jadi apa, hmm?" tanya Andri
"Jadi imam masa depan ku, eaaaa" seru Aira
"ada ada aja kamu, mikirin olim dulu, setelah itu kalo menang mungkin saya bisa mikir mikir mau nerima kamu apa gak" sahut Andri
"ah ya kita udah sampai, kamar kamu ada di lantai 3 nomor 14, ini kunci kamarnya, saya mau koor ke panitia nya dulu" ucap Andri menyerahkan kuncinya ke Aira
"hmm... oke" jawab Aira mengambil kuncinya dan pergi ke dalam hotel
Sesampainya di kamar hotel ia merapikan semua barang barang nya, juga mengisi daya hp nya yang mati, semuanya selesai dibereskan bersamaan dengan Andri yang datang ke kamar Aira membawa formulir data diri yang harus ditandatangani oleh Aira
"Ini kamu tanda tangani ya, lalu besok siap siap, besok saya mau nunjukin kamu tempat ujian pertama nya" ucap Andri
"Hmm... oke oke" ucap Aira
Setelah Aira selesai menandatangani formulir nya ia menyerah kan nya ke Andri, setelah mengecek kelengkapan data Andri pergi untuk menyerahkan surat nya kepada panitia
Aira yang merasa bosan memilih untuk jalan jalan keluar, karena ponsel nya juga sedang di cas, dengan kata lain dia sedang tidak ada kerjaan
"Permisi nona, kamu menjatuhkan ini" ucap seorang pria yang sepertinya seusia dengan Aira
.
.
.
.
.
"Apa yang terjadi padamu?" ucap Dimas yang kini ada di depan Brian yang sedang di rawat oleh suster
"Kecelakaan kecil" jawab Brian singkat
Dimas hanya menghembuskan nafas pasrah karena tingkah sahabatnya, dia yang sedang mengajar di kelas tiba tiba dihubungi oleh polisi yang menyuruhnya untuk mengurus berkas berkas kecelakaan, dan disinilah dia, menemani Brian yang kepala nya tengah dibalut perban oleh suster
"kau kan bukan orang yang tledor sampai sampai sengaja menabrak kan dirimu ke pohon" ucap dimas
Brian hanya terdiam, terlalu malas untuk berkomentar
"hey.... jika aku menyukai murid mu, apa kau akan membenci ku?" ucap Brian tiba tiba setelah suster pergi
"Tentu tidak, untuk apa aku marah, lagipula semua orang memiliki perasaan, aku bukan Tuhan sampai lancang mengurusi kehidupan percintaan orang lain" ucap dimas
"apa kau hawatir karena perbedaan usia kalian?" lanjut nya
"..... Aira berhak mendapatkan yang lebih baik dari ku, apa aku salah?" ucap Brian
"Apa kau pernah bertanya apa keinginan Aira??, mungkin aja dia tidak butuh yang terbaik melainkan yang bisa menilai dirinya dengan baik" jawab dimas
"Ini surat untuk mu dari Aira sebelum ia pergi" lanjut nya
Brian membuka surat yang ia terima dari Dimas, membaca setiap kalimat dengan perlahan hingga akhirnya ia sampai pada kalimat yang membuatnya yakin bahwa dia memang harus mempertahankan Aira
"Om tau.... hal terindah yang pernah kulalui adalah saat aku bersama dengan om dan Tian, kalian adalah kehidupan kedua ku, hari ini atau pun esok" tulis Aira dalam surat terakhirnya
"See, not everything you think is right is right for other people too" ucap dimas menyeringai
"Haha.... siapa yang menyangka, gadis kecil itu bisa membuat ku sangat berdebar hanya dari tulisannya" ucap Brian tertawa puas
Kini ia tau apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia perbaiki, Dimas mengantar Brian untuk pulang tapi saat mereka sampai di kediaman Brian, mereka melihat Tian yang akan pergi ke rumah Lia dengan membawa koper nya
"Ibu, apa yang mau ibu lakukan?" tanya Brian
Lia melihat tampang putranya yang berantakan dan berdecak kesal, "Aku akan membawa cucu ku tentu saja, aku tidak mau cucuku memiliki kepribadian yang buruk seperti putra ku, aku bisa membiayai hidup nya sampai ia mandiri, jadi kau jangan hawatir" ucap Lia
"Apa maksud ibu, jangan membawa Tian seenaknya dia putra ku" ucap Brian
"Tian sendiri lah yang menghubungi ku untuk menjemputnya" sahut Lia menyeringai
"Tian.... ayah janji akan menemukan kak Aira, ayah akan membawa nya kembali agar kita bisa bersama seperti dulu, karena itu.... mauka Tian membantu ayah" ucap Brian berlutut menatap lurus mata putra semata wayang nya
Tian melihat ke arah Dimas dan Lia bergantian, setelah Tian yakin ia pergi menghampiri Brian, "ayah janji gaakan buat kak Aira nangis lagi kan?" tanya Tian
Iya, ayah sadar ayah salah, karena itu... apa Tian bisa maafin ayah?" ucap Brian
"uhmm Tian bakal maafin ayah setelah ayah meminta maaf ke kak Aira juga" ucap Tian dengan tersenyum lebar
Brian memeluk Tian lembut begitu juga dengan Tian, 'Sekarang aku tidak akan pernah kehilangan orang yang berharga bagiku untuk kedua kalinya' batin Brian