Daddy Will You Marry Me

Daddy Will You Marry Me
EPS.9



"eehh, uhmm kita ketemu lagi ya om" ucap Aira canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal


"kamu Aira kan, muridnya Dimas" jawab Brian


"uhmm kakak temannya ayah?, kok Tian gapernah tau" sahut Tian memunculkan kepalanya dari balik tubuh Aira dan menatap Brian dengan tatapan penuh tanya


Aira berjongkok menghadap Tian dan menyelaraskan tinggi nya dengan Tian, "Iya kami berteman, jika dihitung sudah tiga kali aku bertemu ayahmu, dan dia orang yang sangat kaku" ucap Aira berbisik di akhir kalimat


"sudah tian bilang kan, ayah itu memang orang yang kaku" balas Tian yang juga berbisik


"ehem" Brian berdeham


"Tian kenapa kamu kabur dari TK, kamu bahkan bertengkar dengan teman mu, apa kamu tidak tahu kalau perbuatan mu itu salah" ucap Brian tegas yang membuat Tian sedikit takut dan bersembunyi di balik Aira lagi


"K-kak Ira" ucap Tian meremas Hoodie Aira dan menatap Aira


"Anu om, kalo om kayak gini.... saya juga jadi takut nih" sahut Aira mencairkan suasana


"Ah maaf saya tidak bermaksud seperti itu, Tian cepat kemari!!" ucap Brian tegas yang langsung mendapat gelengan kepala dari Tian


"Gak mauu!" teriak Tian


"Kakak, ayah jahat Tian gamau sama ayah, kata kakak ayah bakal senang kan, kenapa ayah marahh" ucap Tian memeluk erat Aira


"Tian kalau Tian gamau meluk ayah, ayah Tian juga pasti sedih, kalau Tian mau ayah Tian senang coba tunjukkan gambar dan catatan yang Tian buat tadi" ucap Aira menyodorkan buku gambar


"Tapi ayah kelihatan marah.... Tian takut" cicit Tian pelan


"Tian percaya ga sama kakak?" tanya Aira yang langsung dapat anggukan


"kalau gitu coba berikan ini, kalau ayah Tian marah, kakak janji akan memukul keras kepala ayah Tian agar tidak memarahi Tian" ucap Aira tersenyum ramah dan berpose seakan ia sedang memukul seseorang


Tian menghela nafas panjang dan memberanikan diri untuk menghampiri Brian lalu menyodorkan buku gambar yang ia buat tadi bersama dengan Aira "Tian minta maaf karena udah kabur dari TK, tapi Tian gaakan main maaf soal Tian mukul teman Tian, karena memang Tian ga salah dia yang salah" ucap Tian nanar


Brian mengambil buku yang disodorkan oleh Tian dan membaca nya, tidak butuh waktu lama untuk Brian membaca catatan kecil Tian, Tian mulai menanti nanti jawaban apa yang akan ia dapat.


Brian mengulurkan tangannya dan mengusap lembut kepala Tian, Tian terkejut karena ini pertama kalinya ayahnya mengusap kepalanya, "Maaf ya ayah kurang ada waktu untukmu, ayah tidak akan marah, ayah tau situasi saat itu, seharusnya kamu memukulinya lebih banyak" ucap Brian lembut yang sontak membuat Tian mulai berkaca-kaca dan menangis di saat itu juga


"Tapi kau tidak boleh kasar pada seorang wanita, apalagi pada orang yang lebih tua, besok minta maaflah pada bu guru, oke?!" ucap Brian mulai memeluk Tian dan Tian hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan


Setelah menangis cukup lama Tian mengelap air matanya dan ingus nya lalu menghampiri Aira dan berterima kasih, Aira tersenyum bahagia dan mengusap lembut kepala Tian


"Tian ayo pulang hari sudah mau malam" ucap Brian


Tian menatap Aira dan Brian bergantian, lalu menggandeng tangan Aira "Ayo kak" ucap Tian dengan senyum khas anak kecil


"Eehh.... uhmm tapi"


"Ayo kau juga, tidak baik seorang gadis pulang seorang diri, apalagi ini sudah sore dan rumah mu juga masih jauh kan?" sahut Brian


"ehmm iya sih.... emang om masih hafal rumah saya?" tanya Aira


"masih, sudah cepat masuk" jawab Brian


"ayo kakk" ucap Tian


Sore itu lagi lagi Aira ada di mobil Brian tapi dengan Tian yang tertidur pulas di pangkuan Aira, beberapa kali Tian sepertinya bermimpi kurang baik dan Aira dengan lembut membelai kepala Tian untuk menenangkan nya, Brian melihat semua yang dilakukan Aira lewat kaca depan mobilnya dan entah kenapa hatinya selalu merasa tenang saat melihat senyum gadis yang 20 tahun lebih mudah darinya 'Sayang sekali dia masih kecil..... eh tunggu pikiran apa yang kupikirkan barusan, astaga kenapa pikiran ku kotor sekali, aku kan bukan remaja lagi' batin Brian


"uhmm ngomong ngomong kamu ada hubungan sama Dimas?" tanya Brian untuk mencairkan suasana


"Eehh enggak kok om, pak Dimas tuh cuma wali kelas saya, kami gaada hubungan apa apa, dan tadi itu kami berdua karna saya ketahuan bolos waktu ikut meet and great nya pak Dimas" jelas Aira panjang lebar


"Ahhh gitu"


"uhmm om saya boleh tanya sesuatu gak?" lanjut Aira


"tanya apa?"


"Itu.... Uhmm apa ibu nya Tian sudah gak ada?" tanya Aira spontan


"Soalnya tadi waktu saya bantuin Tian gambar, Tian ga gambar ibunya sama sekali, bahkan juga ga bahas soal ibunya" lanjut Aira


"Tian memiliki orang tua yang lengkap, saya adalah ibu sekaligus ayah Tian, Tian tidak butuh orang lain" ucap Brian


"Eehh.... uhmm maksudnya om yang ngandung Tian kayak di novel' BxB gitu?"


"Astaga kamu ini mikir kemana sih, intinya ibunya Tian sudah tiada bagi kami" ucap Brian memelan di akhir kalimat


"A-ah gitu ya om, maaf om karena udah tanya hal pribadi" sahut Aira canggung


'aduh gue kepoan amat sih, jadi canggung lagi kan suasananya' batin Aira merutuki diri sendiri


"iya tidak masalah, ngomong ngomong kita sudah sampai di depan rumah kamu" ucap Brian lalu turun dari mobil, membuka pintu mobil penumpang dan mengangkat Tian dari pangkuan Aira, tapi karena Tian yang sensitif ia jadi terbangun "ungghh~.... kakak akan pulang?" tanya Tian setengah sadar


"ah iya, dadah adik kecil" ucap Aira tersenyum ramah lalu mengusap lembut kepala Tian, Tian yang sadar kalau tangan Aira mulai menjauh dari kepalanya langsung memegang tangan Aira dengan kedua tangan mungilnya


"apa... apa Tian tidak akan bertemu kakak lagi, Tian masih mau main bareng sama kakak." ucap Tian nanar


"Ahh itu ... kita masih bisa main kok" ucap Aira


"Janji ya" sahut Tian


"Uhmmng janji jari kelingking" balas Aira menyodorkan jari kelingking dan dibalas oleh Tian yang melakukan hal yang sama


Setelah itu Tian dan Brian pergi dari sana, Aira melihat mobil yang mulai menjauh lalu masuk ke dalam rumahnya "Kak Reza~ Aira pulang" seru Aira tapi yang ia lihat adalah seorang wanita dengan pakaian terbuka sedang meminum sesuatu yang sepertinya adalah Bir


"Oh hallo~ kita bertemu lagi ya" sapa seorang gadis malam yang sering dibawa oleh ayahnya


"oh Tante..... Tumben ayah lama betahnya" ucap Aira biasa lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum


"Hahhh reaksimu benar benar terlalu biasa" ucap wanita itu


"Hmm..... ah ada obat nyeri di laci atas, kakak bisa minum itu, ayah pasti mainnya kasar kan" sahut Aira biasa lalu meminum airnya


"hahaha reaksimu benar benar deh, kalau seperti ini bisa bisa aku merasa bersalah padamu, reaksimu benar benar terlalu baik untuk seorang wanita malam yang melayani ayahmu dan menghancurkan keluarga mu" ucap wanita itu


"kakak ngomong apa sih, dari awal ini bukan sebuah keluarga, jadi kakak gapernah hancurin keluarga ku, ah tapi kalo kakak ngerebut kak Reza baru aku kehilangan keluarga" ucap Aira lalu pergi ke kamarnya karna ia tau ayahnya pasti akan keluar kamar sebentar lagi


Dan benar saja Aira malah tidak sengaja menabrak sang ayah, Braham mengerutkan keningnya dan berdecak kesal "cih kenapa aku harus melihat wajah mu di hari yang indah ini" Braham mendorong kasar Aira menjauh dan mendekati gadis yang ia bawa dari klub malam dan mulai bercumbu


"maaf karena sudah mengganggu harimu ayah...." ucap Aira memelan di akhir kalimat


Haiiii!, makasih udah baca cerita saya yang mungkin gaje dan prik ini (ㆁωㆁ)


semoga kalian ga bosan sama ceritanya


tinggal kan jejak setelah membaca yaa (◍•ᴗ•◍)❤


Dan mohon maaf banget karena jarang up, karena udah mulai musim ujian so banyak banget tugas yang bejibun, mungkin terdengar kek alasan tapi.... emang alasan sih ಥ‿ಥ


Intinya makasih buat yang udah baca cerita saya, jangan lupa vote, like, and fav+ nya ^^


dukungan kalian sangat berharga buat aing


~(つˆДˆ)つ。☆