
*Tok tok tok (suara ketukan pintu)
"Arya sayang" ucap Mita lembut
"Udah tiga hari kamu ngurung diri dikamar, kapan kamu mau keluar?, Aira terus terusan nanyain kabar kamu, dia hawatir" ucap Mita
"Maaf ma... Arya mau sendiri dulu sekarang" jawab Arya dari dalam kamar
Mita tidak tau harus bagaimana lagi menghibur putra semata wayangnya, ia ikut sakit melihat Arya yang sangat terpuruk
.
.
.
.
Aira berjalan sendirian di taman yang biasa ia lewati bersama Arya, ia duduk di pinggiran air mancur dan menatap kosong ke depan, ia mengingat kembali saat saat mereka bersama, tanpa sadar air mata Aira menetes bersama dengan hujan kecil yang turun.
Entah kerasukan apa Aira menaiki taksi dan pergi ke rumah Brian, Pak Joko yang adalah kepala pelayan terkejut saat membuka pintu dan melihat Aira yang basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kakinya, bukan hanya pak Joko, Brian yang baru turun dari kamarnya langsung mendatangi Aira
"Aira kamu kenapa!? pak Joko tolong ambilkan handuk dan selimut tebal" ucap Brian lalu membawa Aira ke ruang tamu
Pak Joko datang membawa handuk dan selimut, Brian langsung menyelimuti tubuh Aira dan mengosok rambut Aira yang basah dengan lembut
Tiba tiba Aira memeluk Brian erat, Brian terkejut tapi segera mengerti situasi, Brian menyuruh pak Joko meninggalkan mereka berdua dan Brian berjongkok menyamakan tingginya dengan Aira, Brian menangkup pipi Aira lembut, menatap mata yang penuh dengan air mata, dan mengusap lembut air mata yang turun
"Ada apa hmm?" tanya Brian lembut
Aira tetap diam dan hanya menangis, Brian tidak ingin memaksa Aira untuk cerita karna mungkin itu masalah pribadi, Brian menarik Aira mendekat dalam pelukannya yang langsung dibalas hal yang sama oleh Aira, setelah menangis cukup lama Aira mulai tenang dan langsung sedikit menjauh dari Brian
"Udah nangisnya?" tanya Brian lembut yang langsung dapat anggukan kecil dari Aira
"Saya gatau kalo cewek nangis bisa sampai bikin kemeja saya basah kuyup seperti kehujanan" ucap Brian tertawa kecil
Aira hanya menunduk kan wajahnya, malu sekaligus salting juga abis nangis kayak anak kecil di depan doi sampai ingusan lagi, tiba tiba Brian menggenggam tangan Aira lembut,
"Saya gaakan maksa kamu buat cerita, tapi mungkin dengan cerita, hati kamu bisa jadi lebih tenang kan?" ucap Brian lembut
"Saya ambilkan coklat panas ya, kamu suka kan?" tanya Brian yang dapat anggukan kecil
Saat Brian pergi Aira segera merapikan wajahnya yang berantakan setelah menangis, "Gila!! gue jelek banget astaga" gumam Aira saat melihat wajahnya dari pantulan meja kaca
Aira segera merapikan wajahnya hingga menurutnya cukup ia kembali ke posisi awal bertepatan dengan Brian yang datang membawa segelas coklat hangat.
"Minum dulu ini biar kamu tenang" ucap Brian menaruh segelas coklat hangat di depan Aira dan mengusap lembut kepala Aira
Aira meminum coklat hangatnya lalu melirik sang dominan yang sedang melihat nya intens
"Om kayaknya jantung saya bisa meledak deh kalo om lihatnya kayak gitu" ucap Aira akhirnya
"Ehh??, Mau saya panggilkan dokter?!" tawar Brian
"Ga peka banget sih om" ucap Aira menggerutu manyun
"Om.... kalo misalnya Aira suka sama om, apa om bakal nerima perasaan Aira?" tanya Aira tiba tiba tiba membuat Brian terkejut
"Entahlah, kalau memang benar kamu menyukai saya.., sepertinya saya sangat beruntung" jawab Brian
Seketika wajah Aira berubah, antara malu dan senang, sesegera mungkin Aira mengalihkan wajahnya ke arah lain karena sepertinya wajahnya sangat merah sekarang, bahkan pipinya terasa panas
Tapi berbeda dengan Brian, ia tidak beranggapan kalau Aira serius, karna tidak mungkin Aira menyukai orang sepertinya, Brian hanya tersenyum kecut pada dirinya sendiri
"Ah iya om, Tian kemana ya?" tanya Aira mengalihkan pembicaraan
"Tian di rumah orang tua saya, dia bilang bosan hanya melihat saya yang sibuk dengan laptop" ucap Brian
"Kayaknya emang bener kalo om itu workaholic" ucap Aira tertawa kecil
"Terima kasih??" sahut Brian
"Iihhh apasih om, itukan bukan pujian!" ucap Aira makin keras tertawa
Brian yang melihat Aira yang sedang tertawa merasa ikut sangat bahagia, tanpa sadar tangan Brian mulai menyentuh lembut pipi Aira, meskipun Aira sedikit terkejut Aira tetap diam, menatap lekat mata Brian, saat wajah mereka hampir bersentuhan tiba tiba terdengar suara Tian dari luar yang membuat keduanya jadi saling canggung
"Ah itu... maaf, aku sangat tidak sopan, maaf jadi membuat mu tidak nyaman" ucap Brian langsung berdiri
"Ehh gapapa kok om" ucap Aira sedikit kecewa
"Ayah Tian pulang~, ada nenek sama kakek juga loh!" seru Tian bersemangat memasuki rumah
"Halo Tian!" sapa Aira
"Kak Ira!" ucap Tian terkejut lalu berlari memeluk Aira erat
"Hoho jadi kamu yang namanya Aira, Tian banyak bercerita tentangmu" sahut Lia yang adalah nenek Tian dan ibu dari Brian
"Ah selamat siang...te?" ucap Aira gugup
"Brian kau tidak berpikiran menjadikan bocah seperti dia sebagai ibu Tian kan!?" sahut Jaya kakek Tian yang juga ayah dari Brian
"Nenek!! Kakek!!, kak Ira cantik kan?" seru Tian bersemangat
"Iya dia memang sangat cantik, dia sangat cocok untuk menjadi ibu mu" ucap Lia tersenyum ramah
"Sayang!!" sahut Jaya
"Kenapa?? bukankah dia sangat cantik, aku akan sering mampir jika dia menjadi menantu ku" ucap Lia
"Ibu jangan berpikiran yang aneh aneh, Aira sudah seperti putri ku sendiri" ucap Brian
"Eihh jangan seperti itu, Nak namamu Ira kan?, jadilah membantuku oke?" ucap Lia menggenggam tangan Aira
'Saya sih oke oke aja..... asik dah dapet restuuuuu weee' batin Aira nge dugem
"Ayah tolong hentikan ibu" ucap Brian
"Kau urus saja ibumu, dia tidak akan mendengar kan ku jika suka pada sesuatu" jawab jaya pasrah
"Maaf ya Ira mereka memang suka bercanda" ucap Brian frustasi
"Ahh gapapa kok om" ucap Aira dengan tersenyum ramah
'Beneran juga gapapa, saya siap 3 ronde' batin Aira yang sebenarnya
"Nenek nenek!, kak Ira jago banget loh masak, masakan nya juga enak" seru Tian
"Nenek setuju kan kalo kak Ira jadi bundanya Tian!" lanjut nya
"Wahh benarkah??, apa aku boleh mencicipi masakan mu?" -Lia
"Ibu! jangan membuat Aira kerepotan" -Brian
"Ehh aku ga ngerasa kerepotan kok om!, Uhmm Tante mau makan apa?, biar Ira masakin, Tante duduk aja" -Aira
"Lihat?, dia saja tidak masalah" -Lia
"Hahh.... Biar aku membantu mu" ucap Brian
"Tian kalau kamu mau kak Ira jadi ibumu, kamu harus sering membuat ayahmu dan kak Ira bersama, mengerti!" bisik Lia
"Mengerti nenek!!" sahut Tian yang juga berbisik
.
.
.
.
"Maaf ya Aira ibuku jadi merepotkan mu" ucap Brian
"Ehh ga ngerepotin kok Om, uhmm makanan kesukaan Tante apa ya om?" tanya Aira
"Ibu suka makanan laut" jawab Brian mengambil udang dan kerang dari freezer
"Wahh.... Aira juga suka kerang, apalagi kerang tiram, tapi kalo udang engga, Aira alergi udang" -Aira
"Kalo gitu biar saya bantu bersihin udang nya" ucap Brian
"Ah makasih om" balas Aira tersenyum
"Tian, kamu mau kak Aira menjadi ibumu kan?" bisik Lia
"Iya nenek!" seru Tian
"Kalau gitu dekati kak Aira, dan bantu ka Aira agar dekat dengan ayahmu, ayahmu itu sangat tidak peka seperti kakek mu, maka dari itu kamu yang harus menyadarkan ayah mu itu" ucap Lia
Setelah Tian paham Tian langsung pergi ke dapur, ia lihat ayahnya dan Aira yang sedang sibuk memasak, dari yang dia lihat di drakor jika sang perempuan terluka maka sang laki laki akan mengobatinya, akhirnya Tian mendapat rencana
"Kak ira~" ucap Tian menarik celemek yang dipakai Aira dengan wajah memelas
"Tian?, kenapa?" tanya Aira
"Tian lapar" ucap Tian
"Sebentar ya, kakak hanya perlu memotong nanas, Tian bisa tunggu sebentar lagi kan?" ucap Aira yang langsung dapat anggukan
Melihat Aira yang dengan cepat memotong nanas Tian menyenggol Aira pelan hingga jari telunjuk Aira tidak sengaja tergores pisau
"Ahh!" desah Aira
"Aira!" -Brian
"Kak Ira" -Tian
Brian menarik tangan Aira dan mengecup jari telunjuk Aira dalam mulutnya spontan membuat Aira terkejut
"A- anu om..?" ucap Aira gugup masih dengan jari telunjuk nya di mulut Brian
Sadar dengan tindakan yang ia lakukan Brian melepas kecupannya dan sedikit menjauh dari Aira
"Maaf... biar ku ambilkan kotak P3K" ucap Brian canggung dan mengambil hansaplas dari kotak P3K lalu dengan lembut Brian menempelkan hansaplas di jari Aira yang terluka
"Uhmm... makasih om" ucap Aira
"Ya sama sama, dan Tian kamu tidak boleh mengganggu saat orang sedang memasak, bagaimana kalau kak Aira mengalami luka berat?!" ucap Brian
"Maaf yah" ucap Tian merasa bersalah setelah melihat jari Aira berdarah
"Anu om aku gapapa kok" ucap Aira
"Kak Ira maaf...." ucap Tian
Aira berjongkok dan menyelaraskan tinggi nya dengan Tian lalu membelai lembut surai Tian, "Kak Ira gapapa kok, Tian kan tidak sengaja, jangan sedih lagi ya?" ucap Aira lembut
Tian mengangguk lalu ikut membantu menyiapkan makanan, orang yang melihat pun pasti akan mengira kalau mereka keluarga