
"Dadah mama~" ucap Tian mengecup pipi Aira dan keluar dari kamar
Brian berpamitan dengan Aira, mengecup singkat keningnya lalu pergi menyusul Tian, Brian melihat Tian yang sudah siap di mobil.
"Sudah siap?" ucap Brian basa basi, tapi sepertinya Tian marah pada nya karena sudah membuat Aira seperti itu
setelah mengantar Tian ke sekolah nya ia pergi ke kantor nya, baru memasuki ruang kerja nya, ia sudah sangat merindukan Aira.
Sementara itu di rumah Brian
"Bosen..... " ucap Aira
"Apa gua hubungin Kayla ya...., ah gua mesti daftar jurusan juga, daftar sekarang aja deh, iseng iseng" ucap Aira membuka laptopnya dan masuk ke situs univ yang ia minati.
Setelah mengisi semua biodata, ia mengirim file nya, "Astaghfirullah lupa ga bismillah, gabisa di ulang lagi aaahhh" ucap Aira frustasi
*tok tok tok
"masuk"
"Nona.... ada nyonya besar berkunjung"
"eehh ibu nya om Brian, ah tolong tunggu sebentar, aku akan bersiap siap dulu" Aira panik, karena ia tidak sedang memakai baju yang pantas
"tidak perlu, kamu sudah cantik seperti itu" ucap Lia di depan pintu kamar Aira
"mama kenapa tiba tiba kesini?, Ira blom nyiapin apa apa" ucap Aira
"Tadi Brian nelfon mama, katanya dia terlalu keras sama menantu mama kemarin malam"
Wajah Aira memerah karena malu, ia jadi teringat tubuh Brian yang terlihat semakin gagah malam itu.
"Jadi gimana peforma Brian?, kamu ga kecewa kan sama dia?" tanya Lia, Aira hanya menggelengkan kepalanya malu sambil menutup wajah nya
Mereka berbicara tentang banyak hal, Aira juga merasa nyaman karena nya, meskipun hubungan mereka adalah hubungan menantu dan mertua, tapi seperti hubungan ibu dan putri nya.
.
.
.
.
"Mamaaaa Tian pulang~" seru Tian memasuki rumah, Tian yang melihat Aira sedang melihat televisi di ruang tamu, berlari dan memeluk Aira
"Mama udah sembuh?" tanya Tian
"Sudah, badan mama sudah tidak terlalu sakit" jawab Aira
"Kamu udah baikan hmm?" tanya Brian mengulurkan tangan nya
Aira meraih tangan Brian dan mencium punggung tangan Brian, "Udah kok om" jawab Brian
Melihat hal itu Tian juga melakukan hal yang sama, ia raih tangan Aira dan mencium punggung tangan Aira, "Ehh.... pintarnya anak mama" ucap Aira memuji sikap Tian dan mengusap lembut kepalanya
"Oh iya, tadi mama dateng ke sini, baru aja pulang jam 3 tadi" ucap Aira
"Ibu ku?" sahut Brian
"Nenek kesini?" ucap Tian
"Ah ya... aku minta tolong pada ibu ku untuk menemanimu, aku takut kau kesepian"ucap Brian duduk di samping Aira dan bersandar di pundak Aira, sementara Tian tidur di pangkuan Aira
" Hey... apa kau tidak bisa mengalah pada ayah mu, kamu selalu bisa bersama dengan mama mu, tapi aku jarang" sewot Brian
"Gamau, itu kan masalah ayah, suruh siapa sibuk" jawab Tian cuek
"mengalah lah pada orang yang lebih tua, bocah" ucap Brian
"Kebalik, harusnya ayah yang ngalah sama anak sendiri!" sewot Tian
"Tau seperti ini aku dulu menitipkan mu selama seminggu di rumah nenek" ucap Brian
"Mamaaaaa~" rengek Tian manja
"udah iihh om kasian Tian" ucap Aira
"Tian mau dimasakin apa buat makan malam?" tanya Aira
"humm.... Tian mau mie goreng" ucap Tian
"Kenapa mie goreng?, gamau yang lain?" tanya Aira
"Tadi Tian liat temen Tian bawa bekal mie goreng, sama tempe kotak kotak gitu, enak" ucap Tian
"Yaudah mama siapin makan malam dulu, kalian berdua mandi sana" ucap Aira
"Iya maaaa" ucap Brian dan Tian bersamaan, Aira yang mendengar Brian memanggilnya dengan sebutan mama hanya tertawa kecil karnanya.
Kata orang selalu ada pelangi sebelum badai, Aira baru saja mendapatkan sosok ibu dari ibu Brian, tapi siapa yang menyangka bahwa ia juga akan merasa kehilangan secepat ini.
Telefon ruang tamu berbunyi, Aira mengangkat telefon itu dan terdengar suara seorang pria, "Halo, dengan keluarga Brian?"
"iya saya istri nya, ada apa?"
"Kami mengabarkan bahwa ibu mertua anda mengalami kecelakaan lalu lintas"
*Deg
"A - apa..."
"Aira dari siapa?" sahut Brian dari arah tangga
Kaki Aira lemas, mata nya mulai berair, bahkan ia hampir jatuh terduduk, untung saja Brian langsung sigap memeluk tubuh nya
"Halo? Halo? ada orang di sana?"
Brian mengambil telefon rumah yang tergeletak jatuh, "Ada apa?Saya Brian"
"Oohh pak Brian, jadi begini, mohon maaf harus mengabarkan berita buruk ini, saat ini ibu anda-"
Setelah mendengar semuanya, Brian langsung paham, saat ini Aira semakin menangis sejadi jadi nya di pelukan Brian.
Aira, Brian, dan Tian langsung pergi di rumah sakit, disana ia melihat jaya, ayah Brian sedang tersimpuh.
Aira langsung mendekati ayah mertuanya dan memberi salam lalu menanyakan kondisi ibu mertuanya, diikuti Brian.
Dokter keluar dari ruang ugd, bertanya siapa anggota keluarga yang bernama Aira, Aira maju ke depan menemui sang dokter.
"Saya sudah berusaha sekuat mungkin.... tapi mungkin Tuhan berkehendak lain"
Kaki Aira lemas mendengar hal itu, saat ia hampir terjatuh Brian menopang tubuh Aira, dan memberinya kekuatan.
"Pasien berkali kali menyebut nama Aira, mungkin dia ingin bertemu dengan nya"
" S saya Aira!" sahut Aira
"Anda bisa pergi menemui nya, mungkin waktunya tidak akan lama lagi" ucap sang dokter menundukkan kepala nya
"Apa kami tidak bisa bertemu dengan nya?" sahut Brian
Dokter terdiam sejenak lalu mengangguk setuju "Kalian boleh menemui nya" ucap sang dokter setelah pertimbangan yang cukup lama
Aira berlari masuk ke ruangan ugd, melihat Lia yang terbaring lemah, Lia berusaha untuk berbicara, "Ma... jangan bicara dulu, mama masih sakit kan, katanya mama mau liat adek Tian" ucap Aira, tangis nya pecah saat itu juga
Lia menyuruh Brian untuk mendekat, Lia menyatukan tangan Brian dan Aira lalu berkata "Jaga putri ibu, jangan sakiti dia, lalu sayang, mama nitip putra ibu ya, dia masih banyak kekurangan, dan butuh seseorang untuk mengajari banyak hal lagi" ucap Lia lemah
Dalam hitungan detik tangan Lia mulai lemas sampai akhirnya terjatuh, Aira menangis sesenggukan, Tian yang melihat semua orang merasa sedih juga ikut menangis, Jaya menatap kosong ke depan, dan Brian yang berusaha tegar untuk keluarga nya
Pemakaman dilakukan esok pagi nya, Brian dan jaya pergi untuk memakamkan Lia di tempat pemakaman, diikuti Aira yang membawa potret Lia yang sedang tersenyum hangat.
"Ibu adalah ibu pertama juga sosok ibu yang paling berharga di hidup ku, Ira harap ibu bahagia di sana" ucap Aira dengan Aira mata yang terus membasahi pipi nya
Brian ada di sebelah Aira, menopang tubuh Aira agar tidak terjatuh, sedangkan jaya berusaha tegar, tapi Aira tau bahwa ayah mertuanya lah yang mungkin paling merasakan kehilangan, kehilangan sosok istri juga belahan jiwa nya.
"hiks... nenek, Tian janji bakal jadi anak baik mulai sekarang, hiks.... Tian gabakal ngelawan ayah lagi, nenek baik baik ya di surga" ucap Tian sesenggukan
Semuanya berduka atas kepergian Lia, Keluarga Brian, keluarga Arya, semuanya merasa sangat berduka, juga terpukul, mereka juga berharap hal yang sama, yaitu pelaku yang menabrak Lia segera ditemukan.
.
.
.
.
.
Sementara itu.....
"Gimana inii, aku udah bunuh orang"
"hussttt, kamu ga salah oke?, kamu ga bunuh siapa pun, lupakan hal itu, hanya ingat kata kata nenek KAMU GA MEMBUNUH SIAPA PUN oke?"
"Tapi nek, dia mati, bahkan diberitakan, aku gamau dipenjara nek"
"hustt, kamu gaakan dipenjara, kamu bukan pembunuh, kamu hanya perlu melupakan hal ini, dan semuanya akan baik baik aja, nenek janji..... "