
Beberapa bulan kemudian, Auron Li tengah duduk di depan sebuah pintu berwarna putih. Dan setiap sudut tempat itu berbau obat.
Ya, saat ini Auron Li bersama dengan kakek juga, bibi Li Ran tengah berada di depan ruang bersalin. Karena Yuna sedang berusaha melahirkan anak mereka di dalam ruangan itu.
"Bibi, apakah Yuna akan baik-baik saja? Apakah melahirkan itu sangat sakit?" Ucap Auron Li pada bibi Li Ran dengan cemas.
"Li, tenanglah. Kita berdoa saja semoga Yuna dan bayi kalian baik-baik saja. Dan bayi kalian lahir dengan selamat."
Auron Li mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak pernah mengalami hal yang begitu mengkhawatirkan seperti ini, selain saat dia melihat ibunya di bawa masuk ke ruang operasi sesaat sebelum ibunya meninggal dulu.
Tuan besar Li menepuk bahu Auron Li, "Jangan khawatir, Yuna adalah wanita yang kuat. Dia pasti bisa dan melahirkan anak kalian dengan selamat."
"Kakek."
Tuan besar Li mengangguk, "Dulu saat ibu mu akan melahirkan mu, ayahmu juga sangat khawatir seperti mu ini. Itu merupakan hal yang wajar, tetapi kau harus yakin jika Yuna dan bayi kalian akan selamat."
Auron Li tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk berpikir. Saat bibi Li Ran yang ada di mansion mengabari dirinya yang sedang membeli buah untuk Yuna, dan memberitahunya jika Yuna akan melahirkan.
"Aku.... Aku..."
Bibi Li Ran yang tidak ingin Auron Li kenapa-kenapa mengingat kondisi tubuhnya itu, segera duduk di samping Auron Li dan mencoba menenangkan Auron Li agar tidak terlalu cemas sehingga membuat dadanya sesak.
"Li, tenanglah. Yuna akan baik-baik saja, begitu juga dengan bayi kalian. Bibi pernah juga pernah merasakan melahirkan seperti Yuna saat ini, bini yakin mereka akan baik-baik saja." Ucap bibi Li Ran.
Auron Li hanya bisa memejamkan kedua matanya, mencoba mengontrol perasaannya agar lebih tenang.
Bibi Li Ran yang melihat itu mengangguk, "Kau juga tidak boleh terjadi apa-apa, Li. Yuna dan anak kalian masih sangat membutuhkan mu."
Sudah lebih dari 30 menit mereka menunggu di depan ruang bersalin, tetapi masih belum ada tanda-tanda pintu itu terbuka. Dan itu membuat Auron Li menjadi semakin khawatir.
"Kakek, bibi, kakak. Bagaimana kakak ipar, apakah sudah melahirkan?" Ucap Amora yang baru saja datang bersama dengan Lulu.
"Belum, dokter dan perawat juga masih di dalam." Ucap bibi Li Ran.
Amora mengangguk, lalu berjalan mendekati kakaknya yang terlihat khawatir lagi.
"Kakak Li." Ucap Amora.
"Kau sudah datang?"
Amora mengangguk, "Iya, jangan khawatir kakak ipar dan keponakan ku pasti akan....."
"Owek.... Owek..... Owek.... Owek....."
Suara bayi yang begitu keras tiba-tiba terdengar dari dalam ruang bersalin, Auron Li yang juga mendengar itu segara berdiri dengan wajah yang bahagia.
"Itu... Itu suara bayi. Itu.... Itu anak ku dan Yuna?" Ucap Auron Li dengan perasaan yang bahagia.
Bibi Li Ran dan Lulu mengangguk.
"Iya kak, itu adalah suara bayi kakak dan kakak ipar." Ucap Lulu.
Auron Li mengangguk dan tanpa terasa air mata Auron Li menetes. Dia benar-benar merasa lega dan haru karena anaknya yang telah di tunggu-tunggu telah lahir.
"Yuan, bagaimana dengan Yuan?" Ucap Auron Li.
"Kakak, tenangkan dirimu. Kita harus menunggu dokter yang membantu kakak ipar bersalin keluar lebih dulu." Ucap Amora.
"Benar, Li, setelah dokter keluar. Kita bisa bertanya padanya." Ucap bibi Li Ran.
Tak berselang lama, suara tangisan bayi itu berhenti dan dokter keluar dari ruang bersalin itu.
"Dokter, bagaimana istri dan anak saya?" Ucap Auron Li segera setelah dokter keluar dari ruang bersalin itu.
"Istri dan anak anda baik-baik saja tuan, bayi lahir dengan selamat dan tanpa kurang satu apapun. Ibunya memiliki keinginan yang kuat untuk melahirkan bayinya secara normal. Meski usianya masih sangat muda."
"Jadi.... Jadi mereka semua baik, dokter?"
"Benar tuan, dan selamat anda juga istri anda sekarang memiliki bayi laki-laki yang sangat tampan."
"Laki-laki, apakah saya bisa melihatnya dokter?"
"Untuk saat ini belum bisa tuan, kami sedang mencoba merangsang bayi untuk menyusu pada ibunya dengan instingnya sendiri. Setelah itu kami akan memindahkan bayi ke ruangan khusus selama 30 menit, dan istri anda juga akan kami pindahkan ke ruang rawat."
Auron Li hanya bisa mengangguk mendengar itu. Saat ini dia merasa sangat lega karena istri dan anaknya baik-baik saja.
Setelah memberitahu semuanya, dokter berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Benar, benar. Kita bisa membelikan banyak mainan dan pakaian untuknya nanti." Ucap Lulu yang terlihat bahagia juga.
Bibi Li Ran menatap Auron Li yang sedang menyeka air mata kebahagiannya, lalu mendekati Auron Li dan memeluknya.
"Sekarang kau telah menjadi seorang ayah sepenuhnya, kau harus lebih menjaga kesehatanmu dan harus sering menemui dokter Kei." Ucap bibi Li Ran dengan pelan.
"Terima kasih, bibi."
Benar, hingga saat ini di keluarga Li belum ada yang tahu lagi tentang kondisi kesehatan Auron Li. Semua masih di rahasiakan agar mereka tidak merasa terlalu khawatir pada Auron Li, dan terus memikirkan kondisi tubuh Auron Li.
Ini juga demi kebaikan semuanya, selain itu jika kondisi Auron Li tersebar. Dia khawatir orang-orang yang sedang berusaha menyaingi perusahaannya akan melakukan hal yang akan membahayakan nyawanya, juga keluarganya.
Setelah tak berapa lama dokter pergi, pintu ruang bersalin kembali terbuka dan tak lama dua perawat keluar dengan membawa sebuah bangkar, di atasnya terbaring Yuna yang wajahnya masih tampak pucat.
"Yuna, sayang." Ucap Auron Li sambil berjalan mendekati Yuna.
"Auron." Ucap Yuna dengan nada yang lemah.
"Terima kasih sayang, kamu telah selamat. Anak kita juga lahir dengan selamat dan sempurna."
Yuna mengangguk dengan pelan dan tersenyum.
Dua perawat yang akan membawa Yuna yang ada di atas bangkar menuju ruang rawatnya hanya bisa diam, sementara di belakang ada tempat tidur bayi yang di keliling kaca di bawa keluar oleh seorang perawat.
(Maaf, saya lupa namanya ππ)
"Tuan, ini adalah putra anda." Ucap perawat itu.
Auron Li menoleh dan berjalan mendekati bayinya.
"Dia.... Dia anak laki-laki ku?" Ucap Auron Li dengan suara terdengar gemetar.
"Benar, tuan."
Auron Li menyentuh pipi bayi laki-lakinya dengan sangat pelan dan hati-hati, seolah dia akan pecah jika di sentuh dengan sedikit keras.
"Dia memiliki pipi seperti Yuna, hidung dan alis yang tebal sepertimu." Ucap bibi Li Ran yang juga melihat bayi itu.
Auron Li tidak menanggapi, dia masih terpaku pada sesosok bayi yang selama 9 bulan berada di dalam perut istri kecilnya itu.
"Selamat datang sayang, terima kasih karena telah melengkapi kebahagian kami."
Setelah melihat keadaan putranya, perawat itu membawa bayi itu ke ruangan khusus. Dan Yuna di bawa ke ruang rawat yang tidak jauh dari ruangan khusus bayi itu.
Di dalam ruang rawat, dua orang oerawat akan memindahkan Yuna dari bangkar ke atas ranjang.
"Tunggu! Biar aku saja yang melakukannya." Ucap Auron Li kepada dua perawat itu.
Auron Li yang tidak mau laki-laki lain menyentuh Yuna, tentu tidak mau melihat Yuna di angkat oleh dua orang perawat itu, setidaknya secara langsung atau tepat di depan kedua matanya.
Kedua perawat yang mendengar segera mundur dan membiarkan Auron Li melakukannya.
Dengan hati-hati dan pelan Auron Li mengangkat tubuh Yuna dan memindahkan tubuh istrinya itu ke atas ranjang.
Setelah itu, salah satu perawat memeriksa selang infus yang menggantung.
"Tuan, setiap 30 menit akan ada perawat yang akan datang. Untuk membantu nyonya." Ucap perawat itu.
"Iya, tapi perawat wanita."
"Iya tuan, karena tidak mungkin perawat laki-laki melakukannya."
"Kalau itu boleh."
"Iya tuan."
Setelah memberitahukan hal itu kepada Auron Li, semua perawat keluar dari ruang rawat Lin Yao.
"Kakak ipar, terima kasih sudah memberikan ku kami keponakan yang sangat tampan dan lucu." Ucap Amora pada Yuna.
"Iya, kakak ipar. Terima kasih, kami sangat bahagia kakak ipar dan bayi kakak ipar baik-baik saja." Ucap Lulu.
Yuna hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
Kebahagian keluarga besar Li terasa begitu sempurna, setelah lahirnya penerus baru keluarga Li. Dan mereka berharap, kebahagian itu akan terus bersama dengan mereka hingga kematian memanggil mereka nanti.