
Esok harinya, tanpa di ketahui oleh siapa pun Yuna mengerjapkan kedua matanya dengan pelan. Merasakan cahaya mulai masuk ke dalam matanya yang sudah terpejam hampir satu minggu itu.
Setelah kedua matanya terbuka, dia melihat langit-langit kamar, dan juga botol infus yang tergantung di sampingnya.
Ceklekk
Pintu kamar terbuka, Auron Li yang melihat Yuna telah membuka kedua matanya segera berlari dengan cepat mendekkati Yuna.
"Sayang, akhirnya kau sadar." Ucap Auron Li seraya menggenggam tangan Yuna.
Air mata Auron Li mengalir dengan sendirinya melihat Yuna telah sadar dari tidur panjangnya.
"Dokter! Dokter!" Seru Auron Li.
Mendengar suara Auron Li yang cukup keras itu, bukan hanya dokter yang datang. Amora dan Lulu yang berada di ruang makan pun ikut berlari dan masuk ke dalam kamar Auron Li.
"Dokter cepat periksa istri saya." Ucap Auron Li setelah dokter masuk ke dalam kamar.
Dokter dan perawat segera memeriksa Yuna yang sudah membuka kedua matany dengan sempurna itu.
"Kakak, apa yang terjadi?" Tanya Amora yang baru sampai di depan pintu kamar Auron Li.
Auron Li tidak menjawab, karena dia terus melihat dokter memeriksa Yuna.
Amora dan Lulu berjalan mendekati ranjang, dan kedua mata mereka terbuka lebar melihat kakak ipanya telah sadarkan diri.
"Kakak ipar, kakak ipar sudah sadar." Ucap Amora dengan bahagia dan perasaan haru.
Beberapa saat kemudian dokter selesai memeriksa Yuna.
"Bagaimana dengan istri saya dokter?" Tanya Auron Li.
"Nyonya muda sudah tidak apa-apa, hanya perlu memulihkan diri. Bayi dalam kandungannya juga stabil."
"Syukurlah, terima kasih dokter. Terima kasih."
Dokter mengangguk dan keluar dari kamar bersama dua perawatnya.
Auron Li duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan Yuna.
"Sayang, kau akhirnya bangun. Aku sangat mengkhawatirkan mu." Ucap Auron Li dengan pelan.
Yuna tidak menjawab, dia hanya mengedipkan kedua matanya dan dari sudut matanya keluar butiran bening.
Auron Li yang melihat itu segera menyeka air mata itu lalu mencium kening Yuna.
"Maafkan aku sayang, aku benar-benar menyesal telah melakukan itu padamu. Aku... Aku telah membuatmu terluka, dan membuat kita hampir kehilangan anak yang ada dalam kandunganmu."
Suasanya bahagia dan sedih bercampur jadi satu di dalam kamar itu. Karena akhirnya doa mereka terkabul, Yuna dan bayinya kembali.
Dalam ilmu medis mungkin orang akan mengira, jika sang ibu koma maka janin tidak akan berkembang atau bahkan mati. Tetapi pada kenyataannya, janin yang ada dalam kandungan masih hidup dan berkembang.
Bahkan ada orang yang koma selama beberapa bulan dalam keadaan hamil, bayi yang ada dalam kandungan tumbuh dengan baik. Memiliki semua anggota tubuh yang sempurna.
****
Siang harinya, perawat melepaskan selang infus dari tangan Yuna. Karena saat ini kondisi tubuh Yuna sudah jauh lebih baik.
"Terima kasih." Ucap Amora yang ada di dalam kamar.
Setelah perawat itu selesai dan keluar dari kamar, Amora duduk di samping Yuna.
"Kakak ipar, bagaimana perasaan kakak? Kami benar-benar sangat khawatir melihat kakak tidak sadarkan diri beberapa hari." Ucap Amora pada Yuna.
"Aku baik-baik saja, maaf sudah membuat kalian khawatir."
Yuna diam, dia ingat saat melihat Auron Li duduk dengan wanita di sebuah kafe.
"Dimana Auron?" Tanya Yuna dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Mungkin sedang ada di ruang bacanya. Tadi dia berjalan dengan cepat kesana."
Yuna mengangguk.
"Sejak kakak ipar tidak sadarkan diri, kakak sama sekali tidak tidur. Dia merasa takut jika dia tertidur, dia akan kehilangan kakak ipar, kakak Li juga jarang makan."
Yuna tersentak mendengar semua itu, dia tidak menyangka jika Auron Li akan seperti itu saat dia tidak sadarkan diri.
Amora meraih tangan Yuna "Kakak ipar, aku tahu wanita itu. Dia adalah kak Carell, teman masa kecil kakak Li. Mereka mungkin pernah sangat dekat, tetapi kak Carell sudah meninggalkan kakak Li lebih dari 10 tahun."
"Tapi... Dia terlihat sangat bahagia saat bertemu lagi dengan wanita itu."
"Aku tahu kakak ipar pasti berpikir seperti itu, tapi wanita itu sudah mempunyai calon suami. Dan sebentar lagi mereka akan menikah."
"Sudah.... Sudah mempunyai calon suami?"
"Benar kak, kakak Li mungkin belum menjelaskannya pada kakak ipar. Tapi aku yakin kakak pasti akan menceritakan semuanya pada kakak ipar."
Yuna terdiam sejenak lalu mengangguk. Dia berharap apa yang Amora katakan benar.
"Kakak ipar jangan khawatir, aku akan selalu mendukung kakak ipar." Ucap Amora sambil tersenyum.
"Iya, terima kasih."
"Kakak adalah satu-satunya wanita yang sudah membuat kakak Li berubah. Dia adalah orang sangat dingin dan kaku, tetapi dia sudah mulai berubah setelah bertemu dengan kakak ipar."
"Bukankah dia memang seperti itu?"
Amora menggelengkan kepalanya "Dulu dia adalah orang yang sangat sulit di sentuh. Bahkan kakek pun tidak berani untuk membujuknya, tetapi setelah kami mendengar kakak Li dan kakak ipar menikah, kami merasa sangat bahagia. Karena seseorang telah membuat raja es di rumah kami mencair. Itu merupakan kebahagiaan bagi kami, dan kami bersyukur sebab kakak ipar menyukai kakak Li dengan tulus."
Yuna diam mendengar semua yang Amora katakan. Selama ini, di depan Yuna, Auron Li memang selalu bersikap baik dan lembut. Dia tidak menyangka jika Auron Li merupakan orang yang dingin dan sulit di dekati, seperti yang orang-orang katakan di luar sana.
...----------------...
Di dalam ruang baca, Auron Li tengah menahan rasa sakit pada dada kirinya. Dia menjengkeram meja kerja yang ada di depannya.
Terlihat keringat telah membasahi pakaian yang dia kenakan.
"Aku harus menemui dokter, jantung ku selalu tiba-tiba seperti ini." Ucap Auron Li di sela rasa sakitnya.
Setelah menahan rasa sakit selama beberapa menit, Auron Li terduduk di atas lantai. Tenaganya seolah terkuras habis untuk menahan rasa sakit yang teramat sangat itu.
Sudah dua hari ini dia merasakan sakit itu, dan tanpa di ketahui oleh orang lain.
Auron Li sendiri belum yakin sebab dari rasa sakit itu, namun dia mengira jika itu terjadi karena hampir satu minggu dia meminum obat penghilang rasa sakit pada kepalanya, secara terus menerus dalam beberapa hari.
Setelah Auron Li jauh lebih tenang dan baik, dia berdiri lalu duduk di kursi kerjanya.
"Besok aku harus bertemu dengan dokter Kei." Ucap Auron Li.
Auron Li menyenderkan tubuhnya dan menatap ke atas.
"Jika ini merupakan hukuman yang aku terima karena telah menyakitimu, maka aku akan menerimanya dengan senang hati. Akan aku rasakan semua rasa sakit itu dengan perlahan."
Auron Li sangat tahu kesalahan yang telah dia lakukan pada Yuna, dan menganggap jika apa yang dia terima saat ini merupakan hukuman atas semua yang telah dia lakukan.
Dengan nafas yang sedikit berat, Auron Li memejamkan kedua matanya dan sejenak menenangkan pikiran yang saat ini terasa begitu menekan.