CEO'S LITTLE GIRL

CEO'S LITTLE GIRL
Part #58



Semua persiapan pesta pernikahan hampir semua selesai di siapkan, dan besok lusa pesta pernikahan Auron Li juga Yuna akan di adakan.


Yuna yang telah mengetahui kondisi tubuh Auron Li sedikit berubah, dia menjadi lebih banyak diam dan menangis secara diam-diam.


Walaupun begitu, Yuna tetap bersikap biasa saja di depan Auron Li dan bibi Li Ran. Dia bahkan makan dengan porsi sebelumnya, karena demi anak yang ada di dalam perutnya.


"Sayang, aku membelikanmu buah-buahan. Apa kau mau memakannya?" Ucap Auron Li yang baru datang sambil membawa sebuah kantong plastik.


"Kau dari mana?"


"Tadi seorang klien ingin bertemu denganku, jadi aku keluar sebentar untuk membahasa pekerjaan. Dan membeli buah di supermarket terdekat."


Yuna mengangguk.


"Kau kenapa sayang?" Ucap Auron Li seraya mengusap kepala Yuna.


Yuna menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Bibi Ran sedang pergi ke supermarket, dia berkata ingin membuat puding dan sandwich."


"Jadi kau merasa kesepian karena tidak ikut dengan bibi?"


Yuna mengangguk dan tiba-tiba memeluk Auron Li.


Auron Li yang tiba-tiba di peluk oleh Yuna terkejut, seolah ada rasa heran dengan sikap Yuna saat ini.


"Kau kenapa sayang?" Ucap Auron Li sambil mengusap kepala Yuna dan memeluk Yuna.


Yuna menggelengkan kepalanya, " aku tidak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu saja."


"Sungguh tidak apa-apa?"


"Iya."


Auron Li memper-erat pelukan mereka, walau dia merasa ada yang janggal. Namun segera dia tepis, mengingat Yuna yang saat ini sedang hamil.


"Aku akan mencuci buahnya terlebih dulu, setelah itu kita makan bersama." Ucap Auron Li.


Yuna mengangguk.


Auron Li melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke arah dapur untuk mencuci beberapa buah yang tadi dia beli.


Yuna menatap punggung Auron Li yang semakin menjauh, dia menatap suaminya itu dengan penuh rasa sedih.


"Auron, apa yang harus aku lakukan saat tiba-tiba aku harus kehilanganmu? Aku benar-benar tidak mampu untuk membayangkannya."


Tak berapa lama Auron Li kembali dengan membawa buah-buahan yang telah dia cuci.


"Sayang, ayo makan buahnya dulu, kamu memerlukan banyak vitamin agar anak kita tumbuh dengan baik di dalam perutmu." Ucap Auron Li sambil meletakkan piring berisi buah di atas meja.


Yuna mengangguk, "Iya, tapi kau juga harus makan buahnya, aku tidak mau jika hanya aku saja yang memakan buah itu."


"Iya sayang, aku juga akan memakannya."


Mereka berdua pun lalu menikmati buah yang Auron Li beli dan cuci itu bersama.


Tak berselang lama, bibi Li Ran datang dengan membawa dua kantong plastik di tangannya.


"Bibi Ran, bibi sudah pulang." Ucap Yuna yang melihat bibi Ran datang dari arah ruang tamu.


"Iya, apa yang sedang kalian berdua lakukan?"


"Kami sedang menikmati buah yang Auron beli tadi, bibi. Apa bibi Ran mau?"


Bibi Li Ran menggeleng, "Kaliam makan saja."


Bibi Ran meletakkan dua kantong plastik yang dia bawa itu di atas lantai, dan duduk di salah satu sofa di samping sofa yang Yuna duduki.


"Bibi membeli apa saja?" Ucap Auron Li


"Aku membeli roti untuk membuat sandwich, dan membeli beberapa bahan untuk membuat puding buah dan puding karamel."


"Sepertinya akan enak." Ucap Yuna.


"Tentu, kau bisa mencobanya nanti."


"Baik bibi, terima kasih."


Bibi Li Ran mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke dapur sambil membawa kembali dua kantong berisi bahan-bahan untuk membuat sandwich dan puding.


"Bibi Ran sangat suka sekali membuat aneka makanan." Ucap Yuna.


"Iya sayang, karena itu di rumah tua tidak pernah kekurangan kue atau sejenisnya."


"Kenapa bibi tidak membuka toko kue saja?"


"Sayang sekali, padahal kalau bibi membuka toko kue pasti akan banyak pembelinya, karena kue yang bibi Ran buat sangat enak."


Auron Li hanya tersenyum mendengar ucapan Yuna.


"Nanti sore aku akan pergi untuk melihat persiapan ruangan yang akan di jadikan tempat pesta pernikahan kita besok lusa. Kau mau ikut sayang?" Ucap Auron Li.


Yuna menggeleng, "Tidak, aku sedang tidak ingin kemana-mana."


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi dengan Lei."


Yuna mengangguk, walaupun sebenarnya dia tidak mau Auron Li pergi. Tetapi di saat Auron Li pergi itulah, dia memiliki waktu bersama dengan bibi Ran.


Dan Yuna berencana akan bertanya tentang penyakit jantung yang saat ini Auron Li derita pada bibi Li Ran.


Drrrrrrrtt ddrrrrrrrt


Ponsel Yuna yang ada di atas meja bergetar dengan cukup keras beberapa kali.


Yuna mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang telah menghubunginya.


"Nomor tidak di kenal?" Ucap Yuna.


"Siapa sayang?" Tanya Auron Li yang melihat Yuna tidak mengangkat panggilan itu.


Yuna menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, tidak ada nomor yang tertera."


Auron Li mengambil ponsel milik Yuna, lalu mengangkat panggilan yang masuk itu.


? : Yuna, kau dasar wanita j*lang! Kau sudah membuat keluarga yang telah mengadopsimu hancur, dan sudah membuatku hidup menderita di luar sini. Dan lihat! Kau justru akan menikah dengan anak orang kaya!


Auron Li yang mendengar suara wanita dari ponsel Yuna, yakin. Jika itu adalah suara Monica, putri dari keluarga Han.


Tanpa berkata Auron Li memutuskan sambungan telefonnya, lalu membuka tempat kartu yang ada pada ponsel itu.


"Auron, kenapa kau mengambil kartu nomor ponsel ku?" Ucap Yuna dengan bingung.


"Aku akan membelikannya yang baru, dan akan membuang kartu yang ini."


"Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa sayang, ini demi kebaikan mu."


Yuna diam sejenak lalu mengangguk.


"Yuna, sayang."


"Aku tidak apa-apa."


Auron Li mengusap lembut pipi Yuna, lalu mengecup keningnya.


"Aku tidak akan membiarkan wanita dari keluarga Han itu mengganggu mu lagi sayang."


"Baiklah, sekarang lebih baik kau beristirahat. Aku akan membelikan kartu nomor yang baru saat aku keluar nanti sore." Ucap Auron Li.


"Iya, aku juga sedikit mengantuk."


Auron Li tersenyum lalu membantu Yuna berdiri, dan mereka berjalan bersama menuju kamar mereka yang saat ini sudah berpindah di lantai bawah.


Dengan alasan takut Yuna terpeleset saa menaiki tangga, sebab kandungan Yuna semakin membesar, membuat Auron Li memutuskan untuk memindahkan kamarnya di kamar tamu yang ada di lantai bawah.


"Auron, kapan kau akan pergi nanti sore?" Ucap Yuna setelah Auron Li membantu Yuna berbaring.


"Sekitar jam 4, sayang. Ada apa?"


"Tidak ada, sebelum kau berangkat bisa kau bangunkan aku lebih dulu?"


"Iya, nanti aku akan membangunkan mu."


Yuna mengangguk.


"Sekarang tidurlah."


"Iya."


Yuna memejamkan kedua matanya, sementara Auron Li duduk di samping Yuna hingga dia benar-benar terlelap.


Sekitar 10 menit kemudian, Yuna telah menyelami alam mimpinya.


Auron Li memperbaiki selimut agar menutupi bagian atas perutnya yang sudah terlihat besar itu.


Setelah menyelimuti Yuna, Auron Li keluar dari kamarnya dan berjalan menaiki tangga menuju ruang kerjanya yang ada di lantai atas.