
Di ruang kerja, Auron Li sedang melihat hasil laporan perusahaannya karena kemarin dia tidak pergi ke perusahaan.
tok tok tok
"Auron, ini aku."
Terdengar suara Han Yuna dari luar pintu, Auron Li menghentikan pekerjaannya dan berjalan ke arah pintu.
Setelah membuka pintu, Auron Li melihat Han Yuna berdiri sambil membawa piring berisi roti isi yang tadi dia berikan pada Auron Li di ruang makan.
"Ada apa?"
"Aku minta maaf, aku..... tidak bermaksud untuk membantah keinginanmu tadi." Ucap Han Yuna dengan pelan karena dia takut kalau Auron Li akan marah padanya.
"Masuklah."
Auron Li membuka pintu ruang kerjanya lebih lebar agar Han Yuna bisa masuk, dan kembali menutupnya setelah Han Yuna telah masuk ke dalam ruang kerja itu.
"Makanlah, kau belum menyentuh apapun tadi selain kopi yang kau minum." Ucap Han Yuna seraya meletakkan piring yang dia bawa itu di atas meja kerja Auron Li.
"Bukankah aku sudah katakan tadi, suapi aku."
Han Yuna menatap Auron Li dengan tidak percaya.
"Jika tidak mau, bawa kembali makanan itu dan jangan menggangguku!"
Han Yuna yang usianya jauh lebih muda dari Auron Li tidak bisa menebak apa yang sebenarnya Auron Li inginkan.
Selama ini dia tidak pernah menyuapi seorang laki-laki, walaupun dia pernah mempunyai seorang kekasih. Tetapi menurut Han Yuna sikap Auron Li saat ini sudah keterlaluan.
Auron Li menatap Han Yuna, dia menunggu apa yang akan istri kecilnya itu lakukan.
"Jika kau memang tidak mau makan, aku akan membawanya keluar dan tidak akan mengganggumu seperti yang kau maum" Ucap Han Yuna.
Auron Li menatap istri kecilnya itu dengan tajam "Baik, keluar dan jangan pernah mengganggu ku bekerja!"
Han Yuna tersentak mendengar ucapan Auron Li yang cukuo keras padanya, dia lalu mengambil piring yang dia bawa tadi dan langsung keluar dari ruang kerja Auron Li.
Dia berfikir jika dia memberi sedikit perhatian saat di meja makan pada Auron Li, maka hubungan mereka tidak akan terlalu canggung di depan banyak orang, tapi Auron Li malah mengatakan hal yang tidak pernah Han Yuna duga.
Dan tadi, Auron Li bahkan berkata padanya dengan suara yang cukup keras.
Braak!
Han Yuna menutup pintu ruang kerja dengan keras, dia menahan semua perasaan yang tengah dia rasakan saat itu.
Auron Li yang melihat Han Yuna pergi, tidak menyangka jika istri kecilnya benar-benar akan melakukan itu, karena dia berharap jika Han Yuna akan menyuapinya seperti apa yang dia inginkan.
Dengan kesal, Auron Li mengusap wajahnya dan menghela nafasnya dengan kasar. Dia kemudian berjalan dan duduk di kursinya lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian, Auron Li yang sudah menyelesaikan semua pekerjaannya keluar. Dia lalu berjalan ke ruang keluarga, disana dia hanya melihat bibi Li Ran dan Lulu.
"Bukankah kakak ipar bersama kakak di ruang kerja? Sejak dia pergi untuk memberikan sarapan pada kak Li, kami belum melihatnya lagi." Ucap Lulu yang mendongakan kepalanya.
Auron Li membulatkan kedua matanya, dia lalu berlari ke kamarnya yang ada di lantai dua, berharap Han Yuna ada disana.
Ceklek
Auron Li tidak melihat siapapun di dalam kamar, dia hanya melihat piring berisi roti isi yang Han Yuna bawa padanya pagi tadi di atas meja.
Auron Li yang mulia khawatir mencari Han Yuna di dalam kamar mandi dan ruang ganti.
"Kemana dia?" Ucap Auron Li dengan kesal dan cemas.
Auron Li mencoba menghubungi nomor Han Yuna, namun ponsel itu berdering di atas nakas.
Melihat ponsel istri kecilnya berada di atas nakas, Auron Li menyugar rambutnya dengan kasar.
"Kemana perginya dia? Dia tidak tahu rumah ini." Ucap Auron Li yang sudah khawatir pada Han Yuna.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, dan Auron Li melihat Han Yuna berdiri di depan pintu.
Dengan cepat Auron Li berjalan mendekati Han Yuna lalu memeluk istri kecilnya itu dengan erat.
Han Yuna yang baru saja masuk terkejut, karena tiba-tiba Auron Li memeluk dirinya dengan erat.
"A... Auron?" Ucap Han Yuna.
Auron Li melepaskan pelukannya dan menatap Han Yuna dengan lekat.
"Kemana kamu pergi, apa kamu tidak tahu kalau aku sangat mengkhawatirkanmu?" Ucap Auron Li dengan nada sedikit keras sambil mencengkeram kedua tangan Han Yuna.
"Aakh.... A... Aku hanya melihat taman... yang ada di... belakang rumah ini." Ucap Han Yuna sambil menahan sakit pada kedua tangannya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Han yuna menatap Auron Li dengan takut, kedua matanya memerah menahan air matanya yang siap meluncur kapan saja.
Melihat kedua mata Han Yuna yang berkaca-kaca, Auron Li menyadari kesalahannya dan memeluknya lagi dengan erat.
"Maaf, maafkan aku." Ucap Auron Li dengan lembut.
"Ke... Kenapa? Kau yang berkata padaku agar tidak mengganggu mu bekerja, kenapa kau... Kau malah marah dan membuat tanganku sakit, aku... aku hanya pergi ke taman belakang." Ucap Han Yuna sambil terisak dalam pelukan Auron Li.
Auron Li membelai punggung Han Yuna, dia tahu apa yang sudah dia lakukan salah. Terlebih di usia Han Yuna yang jauh lebih muda darinya, akan sulit untuk mengimbangi sifatnya yang selalu berubah-ubah.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku minta maaf, aku tidak akan lagi meneriaki dan menyakitimu, aku juga tidak akan memarahimu lagi." Ucap Auron Li dengan penuh rasa bersalah.