CEO'S LITTLE GIRL

CEO'S LITTLE GIRL
CLG 28



Praaaaang!


"Aaaaakh!! Tuan muda Li itu benar-benar buta! Apa bagusnya si anak pungut s*alan itu? Si Yuna hanya anak yang di adopsi dari panti asuhan oleh orang tuaku, beraninya dia tidak memandangku!" Seru Monica dengan penuh kekesalan.


Monica saat ini benar-benar merasa sangat kesal atas apa yang sudah Auron Li lakukan padanya, saat dia dan tuan Han bertemu dengan Auron Li di restoran.


Monica yang tidak pernah mau kalah dari siapapun, saat ini merasa jika dia sedang di tertawakan oleh Han Yuna, karena pria yang dia inginkan telah menjadi suaminya dan tidak mau memandang Monica sama sekali.


"Yuna, aku akan membuat perhitungan padamu!"


Kedua mata Monica menatap ke sembarang arah dengan tajam, seolah dia sedang menatap Han Yuna yang ada di depannya.


...----------------...


Dengan shower yang menyala, Auron Li membiarkan air membasahi tubuhnya. Dia merasa mandinya saat itu adalah mandi yang paling menyegarkan.


15 menit kemudian, Auron Li keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Auron Li melihat ke arah ranjang.


"Sepertinya dia sangat kelelahan, begitu pulas tidurnya." Ucap Auron Li sebelum dia masuk ke dalam ruang ganti pakaian.


Setelah selesai memakai pakaian, Auron Li keluar dari kamarnya dengan pelan.


"Kakak, dimana kakak ipar?" Tanya Amora saat melihat kakaknya turun dari tangga.


"Dia sedang tidur, sejak kapan kau pulang?"


"Sekitar 10 menit yang lalu."


Auron Li hanya mengangguk, dia terus berjalan menuju dapur. Dan meminta koki menyiapkan sup sapi untuk Han Yuna .


Setelah itu Auron Li duduk di ruang keluarga dengan Amora.


"Besok aku akan berangkat ke luar kota, jika kau tidak mempunyai kegiatan yang penting, jangan keluar. Temani kakak iparmu di rumah." Ucap Auron Li.


"Apa aku tidak boleh membawa kakak ipar keluar?"


"Tidak, kalian bisa berenang atau membuat kue disini."


"Baik."


"Satu lagi, jangan bawa wanita bermarga Xu itu kesini."


"Iya, aku tahu. Lagi pula besok bibi Ran juga akan kesini, kita akan sibuk membuat aneka kue, pudding dan yang lainnya."


"Itu bagus."


Tanpa berkata apa-apa lagi pada Amora, Auron Li berdiri dan berjalan meninggalkan ruang keluarga, dia menaiki tangga lalu berjalan menuju kamarnya.


Ceklek


Auron Li dengan pelan membuka pintu, karena takut akan membangunkan Han Yuna. Tetapi tanpa dia duga ternyata istrinya itu sudah bangun, dan sedang berusaha berdiri.


"Diam disana." Ucap Auron Li.


Auron Li segera menutup pintu kamarnya dan berjalan dengan cepat mendekati istrinya.


"Kau mau kemana?" Tanya Auron Li.


Han Yuna menundukkan kepalanya, dia merasa sangat malu karena saat ini dia hanya menggunakan selimut untuk menutupi dirinya.


Tanpa menunggu lagi, Auron Li menganggkat tubuh Han Yuna.


"Aaaakh! Apa... Apa yang kau lakukan?" Ucap Han Yuna yang saat ini dalam gendon9an Auron Li.


"Kau mau ke kamar mandi?"


Han Yuna terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Jika kau jatuh bagaimana?" Ucap Auron Li sambil terus berjalan ke kamar mandi.


"Aku....."


Auron Li mendudukan Han Yuna di atas westafel yang ada di dalam kamar mandi, lalu berjalan ke arah bathtub dan mengisi bathtub itu dengan air hangat.


Han Yuna hanya diam melihat Auron Li melakukan semua itu. Auron Li yang melihat itu, menghampiri Han Yuna.


"Sayang, kita sudah menikah. Dan aku sudah memilikimu seutuhnya. Kau bisa mengatakannya padaku jika kau menginginkan sesuatu." Ucap Auron Li sambil menatap lekat kedua mata Han Yuna.


Han Yuna mengangguk ".....Iya. Aku hanya.... merasa..."


"Aku tahu, maaf karena sudah membuatmu kesakitan."


"Tidak, dokter berkata ini memang akan sakit saat pertama kali."


Auron Li tersenyum, dia lalu mengecup kening Han Yuna yang saat ini terlihat sangat imut.


"Aku sudah meminta koki membuatkan sup sapi, sekarang kau mandi dulu, airnya juga sudah siap. Kau bisa melakukannya sendiri?"


"Baiklah, aku akan keluar. Jika kau masih belum bisa berjalan, kau bisa memanggil ku."


Han Yuna hanya mengangguk dengan wajah merona.


Auron Li membantu Han Yuna turun dari westafel, lalu keluar dari kamar mandi dan membiarkan Han Yuna membersihkan dirinya.


Saat Auron Li berjalan dia melihat ke arah ranjang, bercak darah yang sudah mengering itu tampak begitu jelas di atas seprei yang berwarna cream.


Auron Li menarik seprei itu lalu meletakannya ke dalam ranjang pakaian kotor, dia kemudian mengambil seprei baru yang ada di dalam lemari dan memasangnya sendiri.


"Dia pasti akan semakin malu jika melihat bercak darah tadi, gadis kecilku sudah menjadi seorang wanita yang dewasa." Ucap Auron Li sambil melihat ranjangnya.


20 menit kemudian, Han Yuna menjulurkan kepalanya dari dalam kamar mandi.


"Auron."


Auron Li yang sedang menonton televisi di dalam kamarnya, berdiri dan berjalan ke kamar mandi saat mendengar Han Yuna memanggilnya.


"Kau sudah selesai?" Tanya Auron Li.


Han Yuna mengangguk, dan dengan pelan dia membuka pintu kamar mandi.


Auron Li menggendong Han Yuna yang memakai handuk kimono menuju ruang ganti pakaian, lalu mendudukannya di atas kursi yang ada didalam sana.


"Kau bisa keluar, aku akan akan berganti pakaian." Ucap Han Yuna.


"Semua pakaian ada di atas, kau katakan padaku ingin memakai yang mana. Aku akan mengambilkannya untukmu."


Han Yuna menatap semua pakaian yang memang baru bisa di ambil jika dia berdiri.


"Kalau begitu, tolong ambilkan yang itu saja." Han Yuna menunjuk salah satu piyama lengan panjang.


"Baiklah, yang ini."


Auron Li mengambilkan piyama itu dan memberikannya pada Jia Li.


"Terima kasih."


"Jika sudah selesai, panggil aku."


"Aku mengerti."


Auron Li tersenyum lalu pergi meninggalkan Han Yuna sendiri di dalam ruang ganti pakaian..


Dengan kaki panjangnya, Auron Li melangkahkan kakinya dengan lebar. Dia kembali duduk di sofa dan menonton televisi.


Semua pakaian yang akan dia bawa keluar kota sudah siap, dan besok dia hanya tinggal berangkat saja.


Selama dua hari Auron Li di luar kota, akan ada bibi Li Ran, Amora, dan Lulu. Auron Li akan meminta bibi Li Ran untuk menginap, karena Lei terpaksa harus ikut Auron Li keluar kota.


ceklek


Pintu ruang ganti pakaian terbuka, Auron Li yang melihat Han Yuna berjalan keluar dengan pelan langsung berdiri dan memapahnya.


"Apa masih sangat sakit?" Tanya Auron Li.


Han Yuna mengangguk pelan, dia tidak berani menatap Auron Li saat ini. Apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya membuat dia merasa malu dan canggung.


Auron Li membantu Han Yuna duduk di sofa dengan pelan, dia lalu membelai rambut istri kecilnya itu.


"Maaf, aku tidak bisa mengontrolnya." Ucap Auron Li.


"Ti.... tidak apa-apa, kau memang berhak... melakukannya."


Auron Li duduk di samping Han Yuna yang masih menundukkan wajahnya.


"Sayang, apa aku begitu menyeramkan?" Tanya Auron Li.


Han Yuna menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kau tidak mau menatapku, hmm?"


"Aku...."


Auron Li memeluk Han Yuna, lalu mengecup keningnya.


"Besok aku akan berangkat keluar kota, jangan pergi kemanapun. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu, kau mengerti?"


Han Yuna mengangguk mendengar ucapan Auron Li.


"Iya, aku mengerti. Aku akan menjaga diri baik-baik, jadi kau tidak perlu khawatir padaku." Ucap Han Yuna.


"Baiklah, aku bisa tenang karena kau sudah berkata seperti itu."


Auron Li mempererat pelukannya, dan kembali mencium kening istrinya.


Meskipun Auron Li berkata demikian, dia tentu saja akan memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga istri kecilnya itu. Karena bagaimana pun, dia adalah wanita muda yang sangat manis dan cantik.