
"Sayang, ayo bangun. Makanan yang kau mau sudah datang." Ucap Auron Li mencoba membangunkan Yuna.
Auron Li mengusap pipi Yuna dengan lembut.
"Yuna, sayang. Bangunlah, jika tidak bangun maka cumi bakarnya akan aku makan semua." Ucap Auron Li lagi.
"Eung, jangan mengganggu ku Auron."
Auron Li terkekeh mendengar suara Yuna saat bangun tidur.
"Kau tidak mau makan cumi bakar pedas yang kau inginkan, sayang."
Mendengar kata 'cumi bakar pedas' kedua mata Yuna seketika terbuka lebar.
"Apa sudah datang?" Ucap Yuna.
"Iya, ayo bangun dan makanlah. Aku juga membeli spaghetti, kau pasti lapar setelah berbelanja tadi."
Yuna tersenyum lalu mencium pipi Auron Li, "Terima kasih."
Auron Li tertegun saat Yuna mencium pipinya, dan detik berikutnya dia tersenyum senang.
Yuna membuka kotak yang ada di atas meja, dan melihat cumi bakar yang dia inginkan dengan mata berbinar.
"Sepertinya sangat enak." Ucap Auron Li.
"Tentu, kau cobalah."
Yuna menusuk salah satu cumi vakar yang telah di potong itu dengan garpu yang ada di dalam kotak, lalu mengarahkan cumi bakar itu pada Auron Li.
"Ayo buka mulut mu, jika tidak mau akan aku makan sendiri." Ucap Yuna.
Auron Li tersenyum lalu membuka mulutnya dan memakan cumi bakar itu.
Sesaat setelah cumi bakar itu masuk ke dalam mulut Auron Li, kedua mata Auron Li terbuka lebar seolah menahan sesuatu.
Dengan cepat Auron Li memakan cumi bakar itu dan menelannya, setelah itu dia segera meminum minuman yang ada di atas meja.
"Aaakh, kenapa cumi bakarnya sangat pedas?" Ucap Auron Li sambil menahan rasa pedas di mulutnya.
"Apa kau tidak menyukai pedas?"
Auron Li menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak suka."
"Seharusnya kau membeli satu porsi yang tidak pedas, jika begini aku makan sendirian."
Auron Li mengusap pipi Yuna, "Tidak apa-apa, aku akan menemani mu makan disini. Aku membeli dua porsi spaghetti."
"Iya."
Yuna menusukan lagi garpu yang ada di tangannya pada cumi bakar, lalu memakannya.
"Auron Li, ini sangat enak. Dan aku rasa tidak terlalu pedas." Ucap Yuna setelah memakan satu potong cumi bakar itu.
Kedua mata Auron Li membulat saat mendengar ucaoan istri kecilnya.
"Itu sangat pedas, tetapi dia berkata jika itu hanya sedikit pedas?"
Auron Li menatap Yuna yang makan cumi bakar dengan lahap, seolah tidak merasakan rasa pedas yang sangat menusuk itu.
"Kau makanlah juga, jangan melihat ku terus." Ucap Yuna.
Auron Li mengangguk, "Iya sayang."
Auron Li membuka kotak lain yang berisi spaghetti, dan dengan perlahan memakan spaghetti itu.
Saat ini mereka telah menghabiskan makanan yang di bawa oleh Lei. Yuna memakan habis 2 porsi cumi bakar pedas dan satu porsi spaghetti, sementara Auron Li satu porsi spaghetti saja tidak dia habiskan.
"Sayang, apa sudah kenyang?" Tanya Auron Li.
"Iya, aku sangat kenyang. Cumi bakar dan spaghetti nya sangat enak."
"Baguslah jika begitu, aku tadi melihat ada tempat senam khusus untuk ibu hamil. Besok kau mau kesana?"
"Senam ibu hamil?"
"Iya sayang. Aku lihat kau akhir-akhir ini sering kelelahan, dan juga selalu tidur. Aku pikir jika kau ikut senam itu akan baik untukmu dan anak kita."
"Tapi..... Aku takut."
"Kau mau menemani ku?"
"Iya, tentu saja. Aku akan disana bersama mu."
Yuna terdiam sambil menatap Auron Li.
"Sayang."
Yuna mengangguk pelan, "Baiklah, tapi aku akan melihatnya dulu. Jika aku menyukainya aku akan ikut senam itu."
"Tentu saja."
Yuna mengangguk, Auron Li tersenyum karena istrinya mau ikut melihat tempat senam ibu hamil itu.
Yuna masih sangat muda untuk usia ibu hamil, karena itu Auron Li ingin melakukan yang terbaik baginya.
"Kita ke kamar, ini sudah agak sore. Kau harus mandi, jika semakin sore udara akan semakin dingin, kau bisa masuk angin." Ucap Auron Li
"Tapi ini masih jam 3, Auron."
"Tidak apa-apa sayang, udara sudah mulai dingin. Aku tidak mau kau sakit karena mandi terlalu sore."
Yuna menatap Auron Li dengan heran, karena biasanya dia akan mandi jam 5 sore. Bakan kalau dia malas, dia bisa mandi jam 7 malam.
"Ayo, aku akan membantu mu." Ucap Auron Li sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.
Yuna yang melihat itu hanya mengangguk dan menuruti apa yang Auron Li katakan.
Mereka berdua pun berjalan menuju kamar mereka, Auron Li dengan setia memegangi tangan dan pingg4ng Yuna saat mereka berjalan menaiki tangga, karena dia takut jika istri kecilnya itu kurang berhati-hati karena selalu melihat kakinya yang satu-satu melangkah naik.
...----------------...
Plaaaak!
Braaaak!
Tubuh Carell tersungkur di atas lantai setelah mengenai kursi yang ada di ruang makan apartemen milik calon suaminya.
"Dasar wanita s*alan! Beraninya kau diam-diam menemui Auron Li! Sepertinya aku terlalu lembut padamu." Seru calon suami Carell yang geram.
Carell memegangi pipinya yang di tamp4r dengan keras oleh calon suaminya.
"Aku ingin menemui dia adalah hak ku, kau tidak memiliki hak untuk melarangnya." Ucap Carell.
"Oh, bagus. Sepertinya aku harus mengingatkan posisi mu saat ini, nona Carell."
Carell menggelengkan kepalanya saat calon suaminya berjalan mendekat sambil melepaskan ik4t pingg4ng, dan juga cela*nanya.
Tatapan tajam calon suami Carell benar-benar telah membuatnya gemetar ketakutan, dan saat ini dia tahu apa yang calon suaminya itu lakukan.
"Jangan mendekat! Aku mohon jangan lakukan itu lagi padaku." Ucap Carell dengan ketakutan.
"Kau sudah berani membentak ku, sayang. Jadi kau harus menerima hukumannya."
"Tidak, aku mohon. Aaaaaaakh!"
Carell menjerit saat calon suaminya menarik tangannya dengan p4ksa dan m*nyer3tnya ke dalam kamar.
"Kau harus ku beri sedikit pelajaran agar lebih menurut lagi, sayang." Ucap calon suami Carell yang masih menarik tangan Carell.
"Tidak, aku mohon jangan! Kau akan m*mbunuhkuu jika kau melakukannya lagi padaku."
Calon suami Carell tetap menarik tangan Carell, dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Carell yang memohon padanya.
"Aaaaaak!"
Carell berteriak saat calon suaminya melemp4rkan tubuuhnya di atas ranjaang.
"Aku mohon jangan, aku.... Aku minta maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon." Ucap Carell sambil terus menangis.
Calon suaminya seolah tuli, karena tidak menghiraukan ucapan Carell. Dia justru menarik kain yang menutupi tubuuh Carell dengan kas4r.
"Kau harus menerimanya, sayang. Mau tidak mau, suka tidak suka. Karena kau itu adalah m4inan ku." Ucap calon suami Carell dengan penuh tekanan.
Carell menggelengkan kepala, dia tidak mungkin menerima hukuman yang akan dia terima itu. Karena pagi tadi calon suaminya telah melakukannya dua kali padanya.
Dan saat ini Carell hanya bisa menahan rasa sakit atas apa yang di lakukan oleh calon suaminya terhadap dirinya.