
Sore harinya, Yuna yang baru bangun tidur melihat kesana kemari mencari Auron Li.
"Auron, Auron Li." Ucap Yuna sambil mulai terisak.
Cukup lama Yuna menangis sambil memanggil nama Auron Li di dalam kamarnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Auron Li yang membuka pintu terkejut mendengar suara orang menangis di dalam kamar, dan segera berjalan mendekati Yuna saat melihat istrinya itu yang menangis.
"Sayang, kau kenapa? Apa kau bermimpi buruk?" Ucap Auron Li seraya berjalan dengan cepat.
Auron Li langsung memeluk tubuh istrinya yang gemetar seolah sedang ketakutan itu.
"Kau kenapa sayang?" Tanya Auron Li dengan pelan sambil mengusap kepala Yuna.
"Kau.... Kau kemana? Aku mencarimu."
Auron Li terdiam sejenak, "Maaf, tadi aku sedang meminta koki untuk membuat kue untuk mu."
Yuna memeluk Auron Li dengan erat, dan itu membuat Auron Li tersadar jika Yuna menangis karena takut jika dirinya pergi meninggalkan Yuna.
"Maaf sayang, aku tidak akan meninggalkan mu lagi." Ucap Auron Li memper-erat pelukan mereka.
Auron Li terus menenangkan istri kecilnya yang saat ini begitu sensitiv padanya. Terlebih saat dia jauh dari Yuna.
Setelah Yuna tenang, Auron Li mengusap pipi Yuna dan mencium keningnya.
"Orang-orang dari toko sepatu akan datang, sekarang kau mandi dulu." Ucap Auron Li.
Yuna mengangguk pelan.
Auron Li mengangkat dan menggendong Yuna, berjalan menuju kamar mandi.
"Kau mau aku membantumu mandi?" Ucap Auron Li lagi.
"Tidak, aku akan mandi sendiri."
"Baiklah, aku akan menunggu mu di kamar."
Yuna mengangguk.
Auron Li keluar dari kamar mandi setelah mencium pipi Yuna.
Setelah Auron Li keluar dan menutup pintu kamar mandi, dia memegangi dadanya yang terasa mulai sesak.
"Kenapa lagi ini?" Gumam Auron Li sambil memegangi dadanya.
Dengan cepat Auron Li berjalan ke ruang kerjanya untuk meminum obat yang hanya tinggal sekali lagi minum itu.
Dan sesaat setelah meminun obatnya Auron Li duduk di kursi kerjanya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar, Auron Li berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu ruang kerjanya.
"Bibi." Ucap Auron Li saat melihat bibi Li Ran di depan pintu.
"Bibi ingin bicara dengan mu."
Auron Li mengangguk, dia lalu masuk ke dalam ruang kerjanya di susul oleh bibi Li Ran.
"Li." Ucap bibi Li Ran.
Auron Li tidak menjawab, dia terus berjalan menuju jendela ruang kerjanya.
Bibi Li Ran melihat bungkus obat yang telah kosong di atas meja kerja Auron Li, yang dia yakini jika itu adalah bungkus dari obat yang selama ini Auron Li minum.
"Sejak kapan kau mengalaminya?" Ucap bibi Li Ran.
"Sekitar beberapa bulan yang lalu, tepat satu hari sebelum Yuna sadarkan diri."
Bibi Li Ran diam, dia sebenarnya sudah mengetahui itu dari dokter Kei. Namun dia hanya ingin mendengar langsung dari Auron Li.
Di dalam kamar, Yuna yang telah selesai mandi dan berganti pakaian mencari Auron Li.
Karena tidak menemukan Auron Li di dalam kamar, Yuna pun keluar, karena berpikir jika Auron Li ada di dapur atau ruang keluarga.
Dan saat Yuna berjalan melewati ruang kerja Auron Li yang tidak tertutup dengan rapat, dia berhenti dan mendengar suara orang dari dalam.
"Lalu apakah Yuna mengetahui bagaimana kondisi mu?" Ucap bibi Li Ran dari dalam ruang kerja itu.
Auron Li menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak ingin dia mengetahuinya. Ini tidak baik untuk kondisinya yang sedang hamil."
"Tetapi Li, penyakit jantung sangat berbahaya. Jika kau tidak melakukan tindakan dengan cepat, bibi khawatir kau akan....."
"Aku akan bicarakan hal ini dengan dokter Kei, karena ini baru pembengkakan. Dan aku harap, ini bisa di atasi tanpa harus melakukan operasi."
Yuna yang berdiri di luar ruang kerja Auron Li menutup bibirnya dengan telapak tangannya, dia benar-benar sangat terkejut mendengar pembicaraan antara Auron Li dan bibi Li Ran.
"Auron..... Auron Li, jantung....dia.... Dia....."
Tanpa terasa air mata Yuna mengalir, dan dengan pelan dia berjalan ke kamarnya.
"Kenapa, kenapa Auron tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa.... Kenapa dia...." Ucap Yuna sambil terisak di dalam kamarnya.
Dia sungguh tidak ingin percaya akan hal itu, tetapi yang mengatakan hal itu adalah Auron Li sendiri. Jadi itu pasti bukanlah hal yang bohong.
Yuna menangis di dalam kamarnya, dia merasa telah menjadi seorang istri yang tidak bisa mengerti keadaan suaminya sendiri. Malah selalu membuat suaminya menuruti semua keinginan dirinya saat kondisi tunuh suaminya itu sedang tidak baik.
"Auron... Auron...."
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Dan lagi, Auron Li terkejut mendengar suara isakan dari dalam kamar.
Yuna masih terisak, Auron Li memeluk Yuna dan mengecup keningnya.
Auron Li tidak tahu jika Yuna telah mendengar apa yang telah dia bicarakan dengan bibi Li Ran, sewaktu di dalam ruang kerjanya tadi.
Yuna menggelengkan kepalanya, dan memeluk Auron Li dengan erat.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku Auron, apakah.... Apakah aku bukan orang yang berarti untukmu?"
Masih dengan isakannya Yuna memper-erat pelukannya pada Auron Li.
Auron Li yang mengira jika Yuna bersikap seperti tadi saat dia tidak ada di dalam kamar, mencoba menenangkan Yuna dengan menepuk-nepuk pelan punggung istri kecilnya itu, dan beberapa kali mengecup keningnya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak tahu jika bibi Li Ran akan datang sekarang. Jadi tadi aku keluar untuk menemuinya sebentar." Ucap Auron Li mencoba menenangkan Yuna.
Auron Li melepaskan pelukan Yuna, lalu menatap wajah istrinya yang merah itu.
"Maaf sayang." Ucap Auron Li lagi seraya menyeka air mata Yuna.
Auron Li benar-benar merasa menyesal karena harus meninggalkan Yuna terlalu lama di ruang kerjanya tadi, Auron Li kembali memeluk Yuna.
Setelah Yuna kembali tenang, Auron Li baru melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Yuna yang sembab.
"Bibi Li Ran ada di luar, kau mau menemuinya? Sebentar lagi orang-orang dari toko sepatu juga akan datang. Kau dan bibi Li Ran bisa memilih sepatu yang serasi dengan gaun pengantin yang akan kau pakai nanti." Ucap Auron Li.
Yuna hanya mengangguk, dia seolah tidak berselera untuk mengatakan apapun setelah diam-diam mengetahui penyakit yang Auron Li derita.
Auron Li membawa Yuna ke ruang keluarga dengan hati-hati, dan di ruang keluarga ternyata beberapa orang dari butik Cleo, dan dari toko sepatu datang secara bersamaan.
"Bagus, gaun pengantinnya juga sudah datang. Kau jadi lebih mudah memilih sepatu yang akan kau pakai nanti." Ucap Auron Li yang melihat pekerja dari butik Cleo sedang merapikan gaun yang mereka pasang pada patung.
Yuna menatap gaun itu dengan tatapan datar, seolah dia sudah tidak ingin lagi memakai gaun pengantin yang sudah dia pilih itu.
"Yuna, sayang. Apa yang terjadi padamu, kenapa kedua matamu dangat sembab?" Ucap bibi Li Ran sambil berjalan mendekati Yuna.
"Aku tidak apa-apa, bibi."
Bibi Li Ran memapah Yuna dan mendudukannya di atas sofa dengan hati-hati.
"Katakan pada bibi, ada apa?" Ucap bibi Li Ran seraya mengusap kepala Yuna.
"Aku tidak apa-apa, bibi."
Auron Li duduk di depan Yuna, "Tadi aku keluar dari kamar sebentar. Dan saat aku kembali dia sudah menangis, ketika dia bangun tidur sebelumnya juga seperti itu."
Bibi Li Ran mengangguk, "Mungkin itu bawaan dari anak kalian itu, Yuna jadi lebih sensitiv."
"Mungkin bibi, karena sudah hampir satu minggu ini juga aku tidak ke perusahaan."
"Sepertinya anak kalian ini adalah laki-laki, dia tidak mau ayahnya jauh dari ibunya."
Auron Li hanya mengangguk dan tersenyum.
Yuna yang berada di tengah-tengah mereka hanya diam, bahkan saat dia dan bibi Li Ran memilih beberapa sepatu pun jarang tersenyum dan terlihat tidak bahagia.
...----------------...
Di tempat lain, dua orang wanita tengah duduk bersama di sebuah restoran.
Dua wanita itu adalah Monica Han dan Gracia Xu, dua wanita yang sangat membenci Yuna karena telah membuat hidup mereka menjadi hancur.
"Nona muda Han, ada apa kau mencariku?" Ucap Gracia Xu.
"Nona Xu, kau pasti mengenal Yuna. Istri dari tuan muda Li."
Gracia Xu menatap Monica dengan sedikit curiga dan tanya.
"Kau tenang saja, aku menemui mu karena ingin mengajak mu bekerjasama untuk memisahkan Yuna dengan tuan muda Li."
Gracia Xu mengambil gelas dan meminum jus yang ada di atas meja.
"Nona muda Han, tidak semudah itu memisahkan mereka. Auron Li sangat mencintai istri kecilnya itu, bahkan dulu saat dia belum menikah, aku tidak bisa menarik perhatian Auron Li, meski aku sudah berusaha selama berbulan-bulan." Ucap Gracia Xu.
"Nona Xu, aku memiliki sebuah rencana bagus. Dan aku yakin kita akan berhasil kali ini."
"Nona muda Han, kau ingin memisahkan mereka. Apa kau juga tertarik pada Auron Li?"
Monica tersenyum, "Aku tidak tertarik dengan tuan muda Li. Aku hanya ingin melihat Yuna menderita."
Gracia Xu menyipitkan matanya saat menatap Monica, seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Monica.
Karena tidak mungkin jika dia tidak tertarik pada Auron Li, yang sudah jelas memiliki kekayaan tak tertandingi, dan selain itu Auron Li mempunyai wajah yang tampan, dan juga badan yang cukup tinggi.
"Maaf nona muda Han, aku tidak tertarik bekerjasama dengan anda. Saat ini hidup ku jauh lebih tenang, dan tidak ingin berurusan dengan keluarga Li."
Monica terkejut mendengar ucapan Gracia Xu yang menolak bekerja sama dengannya, karena setahu dia, Gracia Xu adalah wanita yang paling tidak ingin melihat Auron Li menikah dengan wanita lain, terutama dengan Yuna.
"Nona Xu....."
"Cukup nona muda Han, aku sudah berkata jika aku tidak ingin bekerjasama dengan anda."
Gracia Xu berdiri, "Maaf, aku masih ada urusan. Permisi."
Gracia Xu berjalan pergi meninggalkan Monica yang masih tidak percaya jika semua yang telah dia rencanakan gagal begitu saja, setelah Gracia Xu menolak ajakannya.
"S*alan! Gracia Xu, kau wanita yang angkuuh!" Ucap Monica dengan kesal.
Sementara di luar restoran, Gracia Xu yang sudah masuk ke dalam mobilnya diam.
"Jika saja semuanya tidak terjadi, aku pasti akan ikut bekerjasama dengannya. Karena aku adalah orang pertama yang paling tidak ingin Auron Li di miliki oleh wanita lain. Tetapi sekarang, aku tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga Li itu." Gumam Gracia Xu.
Kedua wanita yang telah memilih jalan masing-masing itu terdiam dengan perasaan mereka sendiri-sendiri.