
Di lantai 35 hotel itu hanya ada 3 kamar, dua kamar presidential suite dan satu kamar untuk Lei. Selain itu di lantai 35 juga ada kolam renang, ruang gym pribadi Guan Lin dan juga ruang pertemuan khusus.
"Rasanya cukup aneh, setelah sekian lama tinggal dengan Han Yuna. Sekarang aku sendirian di dalam kamar hotel yang cukup luas ini." Ucap Auron Li sambil melemparkan jas yang dia kenakan ke arah sofa.
Auron Li adalah pemilik gedung hotel mewah itu, dan dia memakai semua ruangan yang ada di lantai paling atas hotel itu untuk tempat pribadinya.
Bukan hanya di hotel itu, tapi di beberapa hotel miliknya pun dia melakukan hal yang sama.
Inilah yang membuat banyak wanita tertarik dan sangat rela menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang Auron Li , walaupun mereka hanya akan merasakan kehebatan Auron Li sekali seumur hidup dan tidak akan di ingat lagi.
...----------------...
Saat ini Auron Li sedang menemui salah seorang klien lamanya, mereka selalu melakukan pertemuan setiap 3 atau 4 bulan sekali, untuk membahas kerjasama perusahaan mereka.
Biasanya klien lama Auron Li ini menemuinya dengan sekertaris pribadinya, tetapi hari ini dia datang bersama seorang wanita cantik yang berpenampilan cukup modis namun sedikit terbuka.
"Tuan Xi, untuk perkembangan pada proyek yang telah kita sepakati, sejauh ini saya melihat nilai presentasiya naik beberapa persen dari dua bulan yang lalu." Ucap Auron Li.
"Benar, tuan muda Li. Sebagian besar investor juga memberikan investasi lebih banyak dari sebelumnya, setelah proyek kita ini meningkat."
Auron Li mengangguk mengerti "Baiklah, semua sudah di urus dengan baik."
Tuan Xi melirik wanita yang ada di sampingnya.
"Ehem, tuan muda Li. Saya tahu beberapa bar pribadi di kota ini sangat bagus, apakah tuan muda Liu ingin...."
"Maaf tuan Xi, saya tidak tertarik, saya masih harus melakukan urusan lainnya." Auron Li memotong ucapan tuan Xi yang penuh dengan muslihat, terlebih dia membawa seorang wanita bersamanya.
Hanya orang bodoh yang akan terpancing oleh ajakan dari tuan Xi itu. Dan Auron Li bukan termasuk di antaranya.
"Ah, seperti itu. Kalau begitu lain kali...."
"Tuan Xi, anda sangat tahu bagaimana saya. Walaupun kita sudah lama menjalin kerjasama, saya tidak akan segan dengan anda, jika anda melakukan hal yang saya tidak suka."
Tuan Xi diam seketika, dia sangat mengerti maksud dari perkataan yang Auron Li ucapkan.
"Sa.... saya mengerti, tuan muda Li."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Auron Li berdiri dan berjalan pergi meninggalkan tuan Xi dan wanita itu. Dia tidak peduli apa yang di pikirkan oleh mereka saat ini. Bagi Auron Li , mereka bukanlah apa-apa dan tidak akan berani melakukan apapun padanya.
"Lei, awasi mereka. Jika mereka merencanakan sesuatu di belakangku, segera bereskan." Ucap Auron Li pada Lei yang berjalan di belakangnya.
"Baik, akan saya lakukan."
Auron Li terus berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.
"Kalian ini masih saja tidak berubah, ingin membuatku bersikap lunak pada kalian dengan cara yang menjijikan. Sepertinya kalian sudah tidak ingin bekerjasama dengan perusahaanku lagi."
Di dalam mobil, Auron Li melihat ponselnya. Dia membaca beberapa berita mengenai harga saham dan juga perkembangan perekonomian di berbagai negara.
Auron Li yang sedang serius melihat berita itu, tiba-tiba teringat istri kecilnya.
"Aku merindukan istri kecilku, sedang apa dia saat ini?"
Bayangan wajah Han Yuna yang tengah tersenyum muncul pada layar ponsel Auron Li, dan itu membuat dia semakin merindukan istrinya itu.
"Lei, kapan kita akan bertemu dengan tuan Ma dan tuan He?"
"Anda harus bertemu dengan tuan Ma besok, sekitar jam 11 siang, lalu dengan tuan He sekitar jam 3 sore, tuan muda."
"Setelah bertemu dengan tuan He, kita langsung kembali."
"......?"
"Lei!"
"Ba.... Baik tuan muda, saya akan membereskan semua barang-barang anda."
Auron Li tidak menjawab, dia menatap layar ponselnya dimana foto Han Yuna menghiasi seluruh layar itu.
Lei melirik ke belakang, dia melihat tuan mudanya tengah fokus pada ponsel yang ada di tangannya.
"Pasti tuan muda ingin segara bertemu dengan nyonya muda, karena itu dia meminta langsung kembali setelah pertemuan terakhir besok."
Mobil berhenti tepat di depan hotel, Lei membukakan pintu mobil untuk Auron Li.
Auron Li turun dari mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam hotel. Semua orang yang ada di dalam lobi hotel terpana melihat Auron Li yang begitu tampan dan juga berkarisma masuk.
Bahkan dua resepsionis yang menjadi karyawan Auron Li saja sampai mencuri-curi pandang, untuk melihat wajah direkturnya yang begitu mempesona.
Auron Li terus berjalan menuju lift di ikuti oleh Lei. Mereka berdua masuk ke dalam lift itu.
"Bawa makan malam tepat jam 7 ke kamar ku." Ucap Auron Li.
"Baik tuan muda."
...----------------...
Di mansion, Han Yuna dan bibi Li Ran sedang sibuk membuat kue dan juga es krim. Mereka berdua sangat menikmati waktu bersama di dapur.
Sedangkan Amora dan Lulu yang tidak bisa membantu apa-apa, tengah bermain game di ruang keluarga, karena mereka tidak mau memgganggu Han Yuna dan bibi Li Ran.
"Bibi, jika aku menambahkan lebih banyak susu ke dalam adonan kue ini, apa nanti akan berubah?" Tanya Han Yuna pada bibi Li Ran.
"Tentu saja, selain kue akan terasa sangat manis, tekstur kue juga akan berubah."
Han Yuna mengangguk mendengar apa yang bibi Li Ran katakan.
"Kau sangat cepat mengerti, kau pasti bisa membuat kue sendiri untuk Li nanti."
"Auron tidak suka makan makanan yang manis."
"Coba kau membuat cake buah, kau bisa mengurangi gula dan susu ketika membuat adonannya. Bibi rasa dia akan suka."
"Baik, nanti akan aku coba."
Bibi Li Ran mengangguk dan mereka berdua saling tersenyum.
Setelah hampir 1 jam akhirnya Han Yuna dan bibi Li Ran selesai membuat kue dan juga es krim.
"Kalian berhentilah bermain, kue dan es krimnya sudah selesai di buat!" Seru bibi Li Ran pada Amora dan Lulu yang ada di ruang keluarga.
Mendengar seruan bibi Li Ran, kedua wanita yang sedang bermain game itu berlari menuju ruang makan dengan cepat.
"Waaaahh! Kuenya terlihat sangat lezat." Ucap Amora dengan mata berbinar melihat kue yang ada di atas meja.
"Es krimnya juga terlihat sangat segar dan enak." Ucap Lulu yang tidak kalah senang.
"Kalian ini benar-benar, duduklah." Ucap bibi Li Ran.
Dengan patuh Amora dan Lulu duduk di kursi yang ada di samping mereka.
Han Yuna membawa piring kecil dari dapur, dia tersenyum melihat dua adik iparnya itu sangat senang dengan kue yang dia dan bibi Li Ran buat.
"Kakak ipar, ambil foto kue yang sudah di potong dan es krimnya. Lalu kirimkan ke kak Li, aku yakin dia pasti iri karena tidak bisa menikmati kue dan es krim buatan kakak ipar ini." Ucap Amora.
"Kakak mu tidak menyukai makanan yang manis, Amora. Jadi dia tidak akan merasa iri" Ucap Han Yuna.
"Tapi jika kakak ipar yang membuatnya, kak Li pasti mau memakannya."
"Benar, kemarin saja kak Li mau memakan omelet buatan kakak ipar. Padahal kita tidak pernah melihat kak Li memakan omelet, apalagi di pagi hari." Ucap Lulu.
"Benarkah? Lalu apa yang dia makan?"
"Kak Guan tidak pernah menyentuh makanannya di pagi hari, setiap pagi dia hanya akan meminum kopi hitamnya sambil membaca koran."
"Tapi sekarang sudah ada kamu, kami yakin dia akan berubah." Ucap bibi Li Ran.
"Iya, bibi Ran benar. Kakak ipar adalah api yang sudah memelelehakn kakakku." Ucap Amora.
"Kalian ini."
Bibi Li Ran tertawa mendengar perkataan Amora, yang menganggap jika kakaknya adalah gunung es yang sulit di cairkan.
Han Yuna memberikan piring kecil dengan sepotong kue di atasnya kepada Amora dan Lulu.
Cekrek
Suara jepretan kamera dari ponsel berbunyi, ternyata Amora benar-benar memotret kue dan es krim yang ada di atas meja.
"Aku akan mengirimkannya pada kak Li." Ucap Amora dengan senang.
Amora lalu menekan-nekan layar ponselnya dengan serius, sesekali dia tersenyum geli saat jarinya berhenti menekan.
"Oke, terkirim." Ucap Amora dengan senang.
Han Yuna dan bibi Li Ran hanya menggelengkan kepala mereka. Walau usia Amora dua tahun lebih tua dari Han Yuna, namun terkadang sifat mereka sangat terbalik.
"Sudah, makan es krim kalian sebelum meleleh." Bibi Li Ran mengingatkan Amora dan Lulu.
Mereka lalu menikmati kue dan es krim yang ada di depan mereka.
"Emmmm.... Ini sangat enak." Ucap Lulu setelah mencoba memakan es krimnya.
"Kau benar." Ucap Amora setuju dengan perkataan Lulu.
Han Yuna senang karena kue serta es krim yang dia dan bibi Li Ran enak dan mereka menyukainya.