
Mobil terus berjalan hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar.
...Rumah utama keluarga Li...
Haj Yuna menatap rumah itu dengan tidak berkedip "Bahkan tiga rumah keluarga Han tidak akan bisa menandingi rumah ini, ini adalah sebuah istana." Gumam Han Yuna dengan ekspresi kagum.
"Jika kau suka, kita bisa tinggal disini dengan kakek dan juga bibi." Ucap Auron Li yang mendengar Han Yuna bergumam.
Han Yuna menoleh dan menggelengkan kepalanya "Tidak, aku lebih suka tinggal di mansion itu."
"Benarkah, hmm jadi kau lebih suka tinggal bersama denganku di mansion itu."
Han Yuna menundukan wajahnya karena dia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan Auron Li itu.
"Baiklah kalau kau tidak mau, aku juga berfikir kita akan lebih benas jika tinggal di mansion."
J+Hqn Yuna hanya mengangguk pelan.
"Ayo turun, kakek dan bibi pasti sudah menunggu di dalam."
"....Iya."
Auron dan Han Yuna kemudian turun dari mobil, dan berjalan menuju pintu besar rumah utama keluarga Li itu.
"Kemari." Ucap Auron Li seraya mengulurkan tangan kirinya pada Han Yuna.
Han Yuna yang sjak tadi gugu, tersenyum dan menyambut tangan Auron Li. Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.
"Selamat datang tuan muda pertama, selamat datang nyonya muda." Ucap kepala pelayan dan beberapa pelayan yang berbaris menyambut kedatangan mereka berdua.
Han Yuna yang tidak pernah mendapatkan sambutan itu terkejut. Jantungnya semakin berdetak dengan kencang.
"Dimana kakek dan bibi?" Tanya Auron Li.
"Tuan besar dan nyonya Li Ran sudah menunggu tuan dan nyonya muda di ruang keluarga." Ucap kepala pelayan.
Auron Li hanya mengangguk, dia lalu berjalan ke ruang keluarga sambil tetap menggandeng tangan Han Yuna.
Kepala pelayan dan para pelayan yang melihat Auron Li menggandeng tangan seorang wanita, merasa begitu bahagia.
Akhirnya tuan muda pertama mereka yang terkenal kejam dan dingin pada setiap wanita, membawa nyonya muda mereka ke rumah utama.
"Kakek, bibi." Ucap Auron Li saat mereka sudah berada di ruang keluarga.
"Iya bibi, jika tidak kalian akan terus memaksaku membawa menantu kalian ini kesini." Ucap Auron sambil menatap Han Yuna.
"Kau ini."
Auron menatap istri kecilnya lalu mengangguk.
Han Yuna mengerti maksud dari anggukan kepala Auron Li , dia lalu menatap dua orang tua yang ada di depannya.
"Selamat pagi kakek, selamat pagi bibi. Saya... Saya Han Yuna." Ucap Han Yuna yang gugup sambil sedikit membungkukan badannya.
Setelah Han Yuna selesai berkata, suasana hening. Dan itu membuat Han Yuna semakin gugup.
Kakek Li mengangguk, dia menatap Han Yuna dengan tajam. Tapi sedetik kemudian....
"Hahaha bagus, bagus. Akhirnya gunus es keluarga Li ku ini dapat di cairkan oleh seseorang. Bagus! Ini kabar yang sangat bagus." Seru kakek Li dengan bahagia dan semangat.
"Ayah benar, setelah sekian lama kita menunggu hal ini . Aku pikir keponakan ku yang satu ini tidak akan bisa di taklukan." Ucap bibi Li Ran membenarkan ucapan kakek Li.
"Kakek, bibi. Apa maksudnya itu? Gunung es?" Tanya Auron Li.
"Hahaha. Sudah, sudah. Cucu menantuku kemarilah, biarkan kakek dan bibi mu ini melihatmu dari dekat."
Han Yuna menatap Auron Li.
"Tidak perlu menghiraukan gunung es itu, kemarilah nak." Ucap kakek Li.
"Pergilah. Jika tidak, kakek akan terus mengatai ku gunung es yang kejam." Ucap Auron Li pada Han Yuna.
Han Yuna menatap kakek Li "Ba... Baik kakek."
"Oh Tuhan, apakah kakek mu ini terlihat kejam seperti suamimu itu? Kau terlihat sangat gugup sekali." Ucap bibi Li Ran sambil tertawa.
Han Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan bibi Li Ran. Dia lalu berjalan mendekati kakek dan bibi Li, kemudian Han Yuna duduk di antara dua orang tua itu.
"Kau ternyata sangat cantik, Auron Li benar-benar pintar memilih menantu." Puji bibi Li Ran setelah dia melihat wajah Han Yuna dari dekat.
"Benar, benar. Dengan begini cucu buyutku nanti akan cantik dan tampan seperti kedua orang tuanya." Ucap kakek Li.
Ucapan kakek Li membuat Han Yuna merona karena malu, dia benar-benar tidak harus menjawab apa.
Sementara Han Yuna sedang di serbu oleh kakek dan bibinya, Auron Li duduk di sofa yang lain sambil melihat kakek dan bibinya yang begitu bahagia bertemu dengan Han Yuna.
"Dia adalah wanita yang baik, tentu saja mereka begitu bahagia. Terlebih mereka sudah tahu bagaimana kehidupan dia selama ini, mereka pasti merasa selalu ingin melindungi menantu pertama mereka ini."