CEO'S LITTLE GIRL

CEO'S LITTLE GIRL
Part #53



Esok harinya Yuna yang bangun lebih dulu menatap Auron Li yang masih memejamkan matanya, dia menatap Auron Li seperti anak kecil yang tengah menunggu ayahnya untuk bangun.


"Auron, ayo bangun. Ini sudah pagi." Ucap Yuna mencoba membangunkan suaminya.


"Em, sayang biarkan aku tidur 5 menit lagi."


"Tidak, kau harus bangun sekarang. Kemarin kau berjanji padaku, jika kita akan mengadakan pesta pernikahan. Ayo bangun."


Auron Li langsung membuka matanya, dan menatap Yuna yang saat ini tengah menatapnya.


"Bangunlah, aku sudah tidak sabar memakai gaun pengantin yang indah itu." Ucap Yuna lagi.


Auron Li samar-samar ingat jika kemarin dia memang menjanjikan pesta pernikahan pada Yuna, tetapi dia tidak menyangka jika Yuna sungguh-sungguh ingin melakukannya hari ini.


"Sayang, aku harus meminta Lei untuk mengurus semuanya. Kita belum memesan hotel, kue, dekorasi, gaun pengantin, dan yang lainnya." Ucap Auron Li.


"Kalau begitu, kau hubungi Lei sekarang. Dan minta dia untuk mengurusnya."


"Ini masih pagi sayang, dan ini juga hari sabtu. Dia libur."


Yuna terdiam, dia menatap Auron Li dengan tajam.


Auron Li yang melihat itu hanya bisa, dengan pelan dia mengusap wajahnya.


"Ya Tuhan, kenapa pagi-pagi istriku ini sudah seperti ini?"


"Auron...."


"Baiklah, aku akan menghubunginya. Tetapi dia baru bisa melakukannya hari senin."


"Tapi....."


"Sayang, dia juga butuh berlibur dengan kekasihnya. Dia tidak mungkin selalu bekerja, dan kita harus bisa menghargainya."


Yuna terdiam lalu mengangguk dengan pelan.


Auron Li yang melihat wajah muram Yuna menjadi tidak tega.


"Hari ini aku hubungi seseorang, untuk membuat janji, setelah itu kita kesana dan melihat beberapa gaun pengantin. Dan aku akan meminta seorang datang besok, untuk membawa contoh undangan pernikahan. Bagaimana?" Ucap Auron Li mencoba menyenangkan Yuna.


"Iya, kita lakukan itu lebih dulu."


Auron Li mengangguk, dia merasa lega karena istri kecilnya tidak lagi memaksanya untuk menghubungi Lei yang sedang menikmati hari liburnya.


"Baiklah, sekarang kau mandilah. Aku akan menghubungi orangnya lebih dulu." Ucap Auron Li sambil mengusap pipi Yuna.


Yuna mengangguk, "Iya."


Yuna turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi dengan bahagia.


"Apakah semua wanita hamil muda memiliki sifat yang seperti itu?" Gumam Auron Li yang melihat Yuna masuk ke dalam kamar mandi.


Hari-hari saat Yuna hamil membuat Auron Li harus banyak menahan emosi, dan juga harus lebih bersabar.


Dengan pikiran yang membingungkan Auron Li turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ruang kerja untuk meminum obatnya.


"Obatnya tinggal sekali minum lagi, aku harus ke tempat dokter Kei untuk memeriksanya lagi, dan bertanya apa aku masih harus minum obat atau tidak." Ucap Auron Li setelah meminum obatnya itu.


Auron Li duduk di kursi kerjanya, menatap beberapa obat yang tersisa di atas meja.


"Jika aku meninggalkan Yuna sebelum dia melahirkan, dia pasti akan terguncang dan membuat anak kita dalam bahaya. Wajahnya saat tertawa, aku selalu ingin melihatnya."


Auron Li berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerjanya, tak lupa dia mengunci lagi pintu itu.


"Auron, aku mencari mu di kamar. Ternyata kau ada di ruang kerjamu." Ucap Yuna dengan suara nyaringnya.


"Maaf sayang, tadi ada yang harus aku lakukan lebih dulu."


Yuna mengangguk dan berjalan mendekati Auron Li, lalu tiba-tiba memeluk tubuhnya.


Auron Li yang mendapat pelukan dari istri kecilnya terkejut, namum dia membalas pelukan itu.


"Ada apa, hmm?" Ucap Auron Li.


"Tidak ada, aku hanya ingin memelukmu."


"Hmm, benarkah?"


Yuna mengangguk, "Iya."


Auron Li tidak menjawab, dia memeluk Yuna lebih erat dan mencium keningnya.


"Kita ke kamar, aku harus bersiap-siap."


"Iya."


Auron Li melepaskan pelukan mereka, lalu merka bersama-sama berjalan menuju kamar.


"Tunggu disini, aku mandi dulu." Ucap Auron Li.


"Iya."


Auron Li mencium pipi Yuna sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu Yuna masuk ke dalam ruang ganti, dan memilih pakaian mana yang dia inginkan untuk Auron Li pakai nanti, karena dia ingin warna pakaian yang Auron Li kenakan sama dengan warana pakaian yang saat ini dia pakai.


"Yang mana ya? Semua pakaian Auron Li berwarna gelap. Sama sekali tidak ada yang berwarna sedikit cerah, bahkan warna biru muda pun tidak ada." Ucap Yuna yang melihat pakaian Auron Li di dalam lemari.


"Kau sedang apa sayang?" Ucap Auron Li yang baru saja masuk ke dalam ruang ganti.


"Coba kau lihat di lemari yang itu."


Auron Li menunjuk salah satu lemari yang jarang dia buka.


Yuna berjalan ke arah lemari itu lalu membukanya, di dalam lemari ada berbagai pakaian milik Auron Li yang jarang dia pakai.


Yuna mengambil salah satu pakaian yang menurut dia cocok di padukan dengan pakaian yang saat ini dia pakai.


"Auron." Ucap Yuna.


"Iya sayang."


"Aku mau kau memakai yang ini."


Auron Li berjalan mendekat lalu melihat pakaian yang Yuna ingin dia pakai.


"Boleh, aku akan memakainya." Ucap Auron Li.


Yuna tersenyum mendengar ucapan Auron Li.


"Baiklah, aku harus berganti pakaian dulu. Nyonya muda Li bisa keluar, kecuali..... Kau mau membantu suami mu ini untuk berganti baju."


Kedua mata Yuna membulat, dia mendorong tubuh Auron Li pelan, "Dasar m*sum!"


Yuna segera berjalan pergi meninggalkan Auron Li di dalam ruang ganti itu.


"Jangan berjalan terlalu cepat sayang." Ucap Auron Li.


Yuna tidak mau mendengarkan, malah menutup pintu ruang ganti dengan cepat.


Auron Li yang melihat istrinya yang menggemaskan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Yuna duduk di sisi ranjang sambil mengusap beberapa kali perutnya.


"Jika kau sudah lahir nanti, kau tidak boleh berkata m*sum seperti ayahmu itu." Ucap Yuna sambil mengusap perutnya, seolah sedang berbicara dengan anak yang ada di dalam kandungannya itu.


Ceklek


Auron Li keluar dari ruang ganti, dengan pakaian kasual yang tadi di pilihkan oleh Yuna.


"Sayang, aku sudah siap." Ucap Auron Li.


Yuna menoleh dan melihat Auron Li memakai pakaian yang dia pilihkan.


"Kenapa tubuhmu begitu terlihat?"


(Maksudnya bentuk dada yang bidang, dan otot tangan 🀭)


Auron Li menatap penampilannya, "Bukankah badanku memang seperti ini, sayang?"


Yuna menggelengkan kepalanya, "Tidak, ganti pakaian mu. Jika kau keluar dengan memakai itu, aku takut kau akan di bawa oleh seorang tante di luar sana."


Auron Li seketika membuka kedua matanya lebar.


"Sayang, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu. Dan juga, ini adalah pakaian yang kau pikih untuk ku."


"Tidak, aku tidak mau kau memakainya. Ganti yang lain, dan buang pakaian yang terlihat kekecilan itu."


Auron Li kembali tercengan dengan apa yang istri kecilnya katakan.


Pakaian yang saat ini dia pakai adalah kemeja dengan model body fit, yang menunjukkan bentuk tubuh pemakainya. Dan sepertinya Yuna tidak membaca tulisan itu di belakang kemeja, bagian bawah kerah.


"Ganti pakaian mu, cari pakaian yang tidak seperti itu." Ucap Yuna lagi.


Auron Li memegangi kepalanya dan sedikit memijit pelipisnya.


"Sabar Auron, dia istrimu dan sedang mengandung anak mu."


Dengan menahan semua yang Auron Li rasakan saat ini, dia kembali masuk ke dalam ruang ganti, untuk mengganti pakaian yang saat ini dia kenakan.


"Apa-apaan pakaian itu? Membuatku terkejut saja." Ucap Yuna sambil menatap pintu ruang ganti yang ada di dalam kamar mereka.


Tak berselang lama Auron Li keluar dari ruang ganti, kali ini dia memakai kaos lengan panjang yang sedikit lebih longgar.


"Bagaimana dengan ini?" Ucap Auron Li pada Yuna.


Yuna menatap penampilan suaminya, "Tidak apa-apa, pakai itu saja. Dari pada kau memakai pakaian yang tadi."


"Padahal yang tadi juga bagus, sayang."


"Tidak! Kau mau para tante itu melihat badan mu?"


Auron Li terkekeh lalu mendekati istri kecilnya itu.


"Kau sangat takut sekali jika aku di lihat oleh wanita lain, sayang?" Ucap Auron Li.


"Tentu saja, kau adalah suamiku. Mana boleh kau di lihat oleh wanita lain."


Auron Li mengecup bibir Yuna, "Aku senang kau bersikap seperti ini padaku."


Yuna hanya diam menatap Auron Li.


"Ayo kita berangkat sekarang, aku sudah menghubungi pemilik butik gaun pengantinnya."


Yuna mengangguk dengan cepat seraya tersenyum lebar, "Iya."


Auron Li menggenggam tangan Yuna, dan mereka keluar dari mansion bersama-sama.