
Mulai dari part ini Han Yuna akan menjadi Yuna/nyonya Li.
Di sebuah kamar, seorang wanita berdiri menatap keluar jendela kamarnya yang cukup besar. Sementara diatas ranjang seorang laki-laki masih memejamkan matanya dengan rapat.
Wanita itu menatap cincin yang melingkar pada jarinya, dan memainkannya.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau berdiri tanpa memakai sandal mu?" Ucap laki-laki itu sambil memeluk wanitanya dari belakang.
"Aku baru saja berdiri disini, dan tidak mau menganggu tidur mu."
Laki-laki itu menyenderkan kepalanya pada bahu wanita yang saat ini dia peluk.
"Setelah kau mengirimkan berkas pengajuan kontrak kerjasama dengan perusahaan L. Group, aku melihat kau sering melamun sendirian. Apa kau masih mengingat tuan muda Li itu?" Tanya laki-laki itu.
"Itu tidak mungkin, saat ini aku sudah bertunangan denganmu. Dan juga aku pikir dia telah melupakan ku."
"Benarkah? Jika dia masih mengingat mu, apakah kau akan memulai semuanya kembali dengan dia?"
Wanita itu terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena di hati kecilnya, dia memang masih memiliki perasaan pada tuan muda Li, alias Auron Li.
Laki-laki itu melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Pertunangan antara laki-laki dan wanita itu hanyalah sebuah kerjasama, karena mereka mempunyai tujuan yang sama. Dan keluarga mereka pun juga ingin mereka bersama.
"Auron Li, benarkah kau masih mengingat ku?" Gumam wanita itu sambil menatap lurus keluar jendela kamarnya.
...----------------...
"Auron, bisa membantu ku sebentar?" Ucap Yuna.
Auron Li yang mendengar itu menghentikan pekerjaannya dan berjalan mendekati Yuna.
"Ada apa sayang?"
"Aku memerlukan gelas yang ada di atas itu, bisa kau bantu aku mengambilkannya?"
Auron Li melihat gelas yang Yuna tujukan padanya.
"Tentu, kemarilah."
Han Yuna mengerutkan keningnya, karena Auron Li memintanya untuk berdiri di bawah gelas itu.
"Kau mau apa?" Tanya Yuna setelah dia berdiri di samping Auron Li.
Auron Li tersenyum pada istrinya, dan tanpa memberitahu Yuna terlebih dulu, Auron Li mengangkat tubuh Yuna.
"Aaaaakh, Auron apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku." Ucap Yuna dengan terkejut.
"Cepat ambil gelas yang ingin kau ambil, sayang."
Yuna melihat gelas yang dia inginkan berada tepat di depan kedua matanya, lalu dia mengambil gelas itu.
"Aku sudah mengambilnya sekarang turunkan aku." Ucap Yuna.
Dengan hati-hati Auron Li menurunkan istrinya.
"Aku meminta tolong untuk mengambilkan gelasnya, bukan mengangkat ku."
Mendengar ucapkan istrinya yang sangat lucu, Auron Li hanya tertawa.
"Aku hanya ingin menimbang tubuh mu sayang, apakah sudah bertambah berat atau tidak. Karena aku lihat pipi mu sedikit besar." Ucap Auron Li seraya mencubit pipi Yuna dengan gemas.
"Apakah pipiku bertambah besar? Aku rasa masih sama seperti beberapa minggu yang lalu."
"Iya sayang, terakhir aku menggendong mu juga beberapa minggu yang lalu, sebelum aku pergi keluar kota yang terakhir itu."
Yuna diam sejenak "Sepertinya besok aku harus menimbang berat badan ku lagi."
"Hahaha, kenapa? Aku suka melihat mu sedikit bulat."
"Tapi jika aku gemuk, rasanya badan aku akan berat jika berjalan."
"Jika begitu, maka aku yang akan menggendong mu."
"Auron!"
Auron Li tertawa, dia lalu kembali duduk ke ruang keluarga dan duduk di sofa yang tadi dia duduki.
"Benarkah aku terlihat gemuk? Jika benar, aku harus mulai diet. Aku tidak mau kesulitan berjalan karena gemuk." Gumam Yuna.
Di ruang keluarga, Auron Li yang tengah melihat file dan harga saham pada laptopnya, mendapatkan satu pesan email.
Auron Li yang tidak mengenal nama pengirim email itu menjadi penasaran dan membukanya.
Carell : Hai Auron Li, bagaimana kabar mu? Apa masih mengingat gadis kecil dengan rambut yang di ikat seperti ekor kuda?
Auron Li menatap layar laptopnya dengan lekat, dia berulang kali membaca email itu. Dan seketika hatinya serasa bergemuruh setelah membaca email dari wanita yang dulu selalu bersamanya itu.
"Auron. Aku membuatkan mu minuman."
Suara Yuna membuat Auron Li terkejut dan seketika menutup laptopnya yang masih menyala.
Yuna yang melihat itu memiringkan kepala juga mengerutkan keningnya, karena merasa ada yang aneh pada Auron Li.
"Auron, kau kenapa?" Ucap Yuna lagi.
Auron Li menggelengkan kepalanya beberapa kali "Tidak, tidak ada apa-apa. Apa ini untuk ku?"
Yuna menatap minuman yang tadi dia bawa laku mengangguk.
"Auron, apa... Kau baik-baik saja?" Tanya Yuna dengan heran.
"Iya, aku baik-baik saja sayang. Aku hanya merasa sedikit pusing karena beberapa file tadi."
Yuna mengangguk "Jadi berhentilah memeriksa pekerjaan mu saat kau sedang libur. Kau seperti tidak mempunyai waktu berlibur saja."
"Iya sayang, aku hanya memeriksa file saja tadi."
Yuna mengangguk, dia lalu menyenderkan badannya pada sofa yang dia duduki. Dan tak berapa lama Yuna tertidur saat menonton acara televisi.
Auron Li yang melihat istrinya tertidur menggelengkan kepalanya.
"Dia ini, pasti sangat lelah sampai tertidur disini." Ucap Auron Li.
Auron Li berdiri dan dengan hati-hati menggendong tubuh Yuna, lalu membawanya ke kamar mereka.
Setelah di dalam kamar, Auron Li membaringkan istri kecilnya di atas ranjang lalu menyelimuti tubuh istrinya itu.
"Maaf sayang, bukan aku ingin merahasiakan itu dari mu. Tapi setelah aku tahu apa yang dia inginkan, aku pasti akan menceritakan semuanya padamu."
Auron Li mengecup kening Yuna sebelum dia kembali ke ruang keluarga, untuk kembali memeriksa file.
Sudah lebih dari 6 tahun Auron Li berusaha menghubungi dan mencari wanita bernama Carell itu, tetapi dia tidak bisa menemukannya. Hingga akhirnya dia berpikir jika Carell telah menikah, dan hidup bahagia.
Jadi mulai dari itu, Auron Li menutup dunianya dan tidak ingin tertarik pada wanita manapun.
Tetapi saat ini Auron Li telah jatuh cinta dan menikah dengan Yuna, dan dengan tiba-tiba Carell kembali menghubungi Auron Li.
"Bagaimana bisa wanita itu sesuka hati pergi dan kembali lagi? Apa dia mengira semuanya hanya lelucon baginya?"
Auron Li tidak berniat untuk membalas email itu, walaupun dia ingin sekali bertanya alasan wanita itu pergi saat itu, dan tanpa memberikan alasan apapun pada Auron Li.
Auron Li kembali menerima email dari Carell, dan dia pun membuka email itu.
Carell : Bisakah kita bertemu? Aku akan memberikan penjelasan padamu, kenapa aku saat itu pergi tanpa memberitahu dirimu terlebih dulu. Tetapi jika kau sibuk, aku tidak akan memaksa. Karena aku sangat tahu, jika saat ini kau telah menjadi seorang direktur yang hebat di negara ini.
Auron Li bergumam pelan saat membaca email itu. Dia lalu menggerakan jarinya dengan cepat di atas keyboard laptopnya.
Auron Li : Iya, bertemu di kafe XX. Besok lusa jam 2 siang.
Auron Li membalas pesan Carell. Tetapi sesaat setelah membalasnya, ada sedikit rasa menyesal.
Membaca nama yang telah mengirim email padanya, membuat Auron Li sejenak telah melupakan istri kecilnya yang tengah terlelap di dalan kamar.
"Bod0h harusnya kau tidak perlu membalasnya, dan juga tidak perlu menemuinya lagi."
Auron Li akan mengetik keyboard laptopnya lagi, namun belum sempat dia menekan sebuah huruf huruf, dia kembali menerima email dari Carell.
Carell : Iya, aku akan menunggu disana besok lusa. Dan aku berjanji akan mengatakan semuanya padamu.
Setelah membaca email itu, Auron Li terdiam dan mengurungkan untuk membatalkan pertemuan mereka besok lusa.