CEO'S LITTLE GIRL

CEO'S LITTLE GIRL
CLG #49



Satu minggu kemudian, Auron Li sudah kembali ke perusahaan seperti biasa. Setelah beberapa hari Yuna tidak membolehkannya pergi dari mansion, walaupun itu hanya membeli kue untuknya.


Auron Li sudah bertanya pada dokter yang menangangi Yuna saat Yuna tidak sadarkan diri, dan dokter berkata itu hal yang wajar. Karena saat ini Yuna tengah hamil muda.


"Apakah semua wanita yang sedang hamil seperti itu? Menginginkan sesuatu yang sedikit..... Aneh." Ucap Auron Li yang saat ini tengah duduk di dalam kantornya.


Flashback


"Auron." Ucap Yuna.


"Iya, kenapa sayang?"


"Bisa kau membantu ku menyisir rambut?"


"Tentu."


Auron Li yang duduk di sofa, berdiri dan berjalan mendekati istri kecilnya.


"Berikan sisirnya padaku." Ucap Auron Li.


Yuna mengambil sisir yang ada di atas meja rias lalu memberikannya pada Auron Li.


Dengan pelan Auron Li menyisir rambut Yuna yang panjang dan lembut itu.


"Baiklah, rambut mu sudah rapi." Ucap Auron Li yang telah menyisir rambut Yuna.


Yuna mengangguk dan tersenyum, "Berikan sisirnya, aku juga akan membantu mu menyisir rambut."


Auron Li mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Yuna.


"Sayang, tidak perlu. Rambut ku tidak begitu panjang." Ucap Auron Li.


"Tidak apa-apa, kau duduklah. Aku ingin menyisir rambut mu."


Mendengar itu, Auron Li pun menuruti keinginan Yuna. Dia duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Yuna.


Dengan senang, Yuna mulai menyisir rambut Auron Li yang pendek itu.


Auron Li menerima perlakuan Yuna dengan senang, karena merasa saat ini Yuna terlihat begitu bahagia.


Tetapi, Auron Li merasa mulai jenuh karena sudah lebih dari 15 menit Yuna terus menyisir rambutnya yang terlihat sudah sangat rapi itu.


"Sayang, rambut ku sudah terlihat sangat rapi. Apa kau belum selesai juga?" Ucap Auron Li yang akhirnya tidak bisa menahannya lagi.


Yuna menatap eajah Auron Li pada cermin dan tersenyum dengan bahagia.


"Benar, rambut mu sudah sangat rapi, dan kau terlihat semakin tampan." Ucap Yuna dengan suara yang bahagia.


Auron Li tersenyum dengan lega mendengar itu, dan tentu saja dia merasa bahagia juga karena akhirnya Yuna berhenti menyisir rambutnya itu.


"Syukurlah sudah berhenti, aku takut jika berlanjut rambut ku akan merasa ikut pusing dan rontok semua."


...----------------...


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Auron Li sedikit tersentak dari lamunannya.


"Iya." Ucap Auron Li.


Lei, orang yang mengetuk pintu masuk ke dalam ruang kerja Auron Li sambil membawa dua map berwarna biru.


"Tuan muda, ini adalah kontrak kerjasama yang di kirimkan oleh dua perusahaan. Kemarin saya telah memberitahu anda." Ucap Lei sambil meletakan dua map itu di atas meja kerja Auron Li.


"Aku akan memeriksanya dulu."


"Baik tuan muda. Jika begitu saya permisi."


Auron Li mengangguk.


Lei berjalan keluar dari kantor Auron Li dan kembali menutup pintu itu dengan rapat.


Auron Li mengambil salah satu map yang di bawa oleh Lei, lalu memeriksa kontrak kerjasama itu dengan teliti.


Setelah memeriksa dua map yang berisi kontrak kerjasama, Auron Li menyenderkan tubuhnya ke belakang.


Beberapa hari ini dia merasa sangat lelah dan pusing, walaupun rasa sesak yang dia rasakan tidak lagi seperti beberapa hari yang lalu, namun dia tetap meminum obat itu dengan teratur.


Auron Li beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah jendela besar yang ada di ruangan kerjanya. Kedua mata Auron Li menatap lurus ke depan.


"Aku harus membuat perusahaan ini semakin maju, dan membuat cabang perusahaan baru lagi. Agar kelak anak ku bisa melanjutkannya." Gumam Auron Li.


Auron Li sadar, walaupun obat yang dia minum bisa menekan rasa sakit dan membuat jantungnya tidak membengkak seperti sebelumnya, namun dia juga merasa khawatir jika kelak dia akan meninggalkan Yuna dan anaknya secara tiba-tiba.


Karena itu, dia berniat untuk meningkatkan perusahaannya dan membangun cabang perusahaan lagi. Tentu dengan tujuan, agar kelak Yuna dan anaknya tidak akan hidup kesulitan, meskipun itu tidak akan pernah terjadi. Karena keluarga Li tidak akan membiarkannya.


"Saat ini, aku hanya berharap untuk bisa bersama mu dan anak kita hingga dia menjadi dewasa, dan bisa melindungi mu."


"Baik tuan muda."


Auron Li mengangguk dan berjalan menuju lift.


...----------------...


Di dalam mansion, sejak pagi Yuna sudah berkutat di dapur. Membuat berbagai kue, pudding dan salad.


Entah apa yang terjadi, karena hari ini dia merasa sangat bersemangat untuk membuat berbagai makanan manis itu.


"Tolong ambilkan aku sendok yang lebih besar." Ucap Yuna kepada salah satu pelayan yang membantunya.


"Baik nyonya muda."


Pelayan itu pergi untuk mengambil sendok yang Yuna inginkan, dan tak lama kembali.


"Ini sendoknya, nyonya muda." Ucap pelayan itu sambil memberikan sendok yang dia ambil pada Yuna.


"Terima kasih."


Yuna lalu menggunakan sendok itu untuk memindahkan adonan kue ke dalam cetakan kue yang tidak terlalu besar.


Dan setelah semua adonan masuk ke dalam beberapa cetakan, Yuna meminta pelayan itu untuk memasukannya ke dalam oven.


"Baiklah, aku tinggal membuat salad buah saja. Apa kau sudah mencuci semua buah itu?" Ucap Yuna.


"Sudah nyonya muda, apa anda ingin saya membantu anda memotong buah-buahan itu?"


"Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri. Kau bantu aku mengupas buah apel saja."


"Baik nyonya muda."


Yuna mengambil pisau kecil lalu mulai memotong buah-buahan yang ada di atas piring menjadi dua bagian.


Strawberry, anggur, kiwi, alpukat, apel dan leci semua di masukan dalam satu wadah yang tidak begitu besar. Yuna mencampur semua buah itu dan mengaduknya perlahan.


Setelah itu dia meletakan buah-buahan itu ke dalam beberapa wadah.


"Bantu aku melelehkan coklatnya." Ucap Yuna.


"Baik nyonya muda."


Pelayan itu melakukan apa yang Yuna katakan, sementara Yuna mengangkat kue yang sudah matang.


Ada 2 jenis kue kering yang dia buat, dan 2 cake lainnya.


Tap tap tap


Auron Li yang baru saja turun dari mobil, berjalan masuk ke dalam mansion, dia mencari sosok wanita yang sudah di rindukannya itu.


"Sayang, apa yang sedang kau lakukan?" Ucap Auron Li saat melihat dapur yang cukup berantakan.


"Aku sedang membuat kue dan salad buah."


"Membuat kue?"


Yuna mengangguk "Iya, lihatlah. Aku membuat semua kue ini."


Auron Li melihat ada beberapa toples berisi kue kering, satu cake coklat dan dan satu lagi cake buah.


"Sayang, kau bisa mengatakannya padaku jika kau ingin kue. Aku bisa membelinya untuk mu." Ucap Auron Li.


"Tidak, aku sedang ingin membuat kue-kue itu. Jika kau mau, kau juga bisa memakannya."


Auron Li mengerutkan keningnya menatap Yuna.


"Nyonya muda, ini coklat leleh yang anda inginkan." Ucap pelayan yang membantu Yuna.


"Terima kasih."


Yuna lalu membuat saus coklat untuk salad buahnya, selain saus coklat dia juga membuat dua saus lainnya yang nanti akan dia siramkan pada salad buah, saat dia akan memakannya.


Auron Li hanya diam melihat apa yang di lakukan oleh istri kecilnya saat ini. Dia merasa jika Yuna sedikit berbeda.


"Aku akan berganti pakaian dulu." Ucap Auron Li.


"Iya."


Auron Li menatap pelayan yang ada di dapur, "Setelah nyonya muda selesai, kalian bereskan semuanya."


"Baik tuan muda."


Auron Li mengangguk, dan berjalan pergi menuju kamarnya.