
Sore harinya, Han Yuna bangun dari tidur siangnya yang sangat nyenyak. Dia melihat ke samping ranjangnya yang ternyata sudah kosong, dan hanya ada satu ikat bunga mawar yang sangat cantik.
"Bunga mawar?" Ucap Han Yuna.
Han Yuna mengambil lalu mencium aroma harum dari bunga mawar itu.
"Bunga mawar dari mana ini, apakah Auron yang meletakan disini?" Ucap Han Yuna.
Ceklek
Han Yuna yang mendengar pintu di buka menoleh, dia melihat Auron Li berjalan masuk sambil membawa sebuah nampan di tangannya.
"Kau sudah bangun sayang." Ucap Auron Li.
"Auron, apa yang kau bawa?"
"Siang tadi kau berkata ingin makan ayam, jadi aku meminta koki memasakan ayam untukmu dan membawanya kesini."
Auron Li melihat Han Yuna memegang bunga di tangannya.
"Apa kau menyukai bunganya?" Tanya Auron Li.
Han Yuna menatap bunga yang ada du tangannya "Apakah ini kau yang meletakkannya disini?"
"Jika bukan aku, lalu siapa sayang, hmm?"
Han Yuna menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku tidak menyangka jika kau bisa melakukan hal romantis seperti ini padaku." Ucap Han Yuna.
"Apa karena aku jauh lebih tua dari mu, jadi kau berfikir jika aku tidak bisa melakukan hal yang romantis padamu?"
"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya berfikir orang yang sangat sibuk seperti mu, tidak akan pernah melakukan hal ini padaku."
Auron Li berjalan mendekati Han Yuna lalu duduk di sampingnya.
"Sayang, meskipun usia kita terpaut sangat jauh. Tetapi aku ingin selalu bisa mengimbangi mu." Ucap Auron Li seraya membelai rambut Han Yuna.
"Iya, terima kasih."
Auron Li tersenyum "Kita makan dulu, ayamnya akan segera dingin."
Han Yuna mengangguk "Iya."
Mereka berdua turun dari ranjang lalu berjalan dan duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar mereka, untuk menikmati masakan ayam yang Han Yuna inginkan.
"Ini sangat enak." Ucap Han Yuna saat memakan satu potong ayam yang dia ambil dari piring.
"Baguslah kalau enak, makanlah dengan pelan."
"Kau tidak makan?"
"Tidak, itu untuk mu."
"Kau juga harus makan sedikit."
Han Yuna menusuk satu potong daging ayam dengan garpu, lalu menyodorkannya pada Auron Li.
"Buka mulut mu." Ucap Han Yuna.
Auron Li menatap istri kecilnya yang tengah menunggu untuk dia membuka mulut.
"Ayo cepat buka mulut mu, jika tidak aku akan memakannya."
Auron Li terkekeh mendengar ucapan Han Yuna yang seperti anak kecil itu, lalu dia membuka mulutnya dan memakan daging ayam yang Han Yuna suapkan untuknya.
"Benarkan enak?" Tanya Han Yuna setelah Auron Li memakan daging ayam darinya itu.
Auron Li mengangguk "Rasanya semakin enak, karena istriku yang menyuapinya."
Han Yuna membulatkan kedua matanya.
"Kau... Ke... Kenapa kau bicara..."
Auron Li sangat senang melihat Han Yuna yang merona dan malu seperti saat ini, karena wajahnya terlihat semakin manis dan menggemaskan.
"Kau lanjutkan makannya, aku akan mandi dulu." Ucap Auron Li.
Han Yuna mengangguk.
Auron Li berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi.
Han Yuna menyenderkan tubuhnya ke belakang dan menghela nafas.
"Kenapa dia semakin pintar merayu seperti itu? Hanya beberapa hari tidak bertemu, dia seperti sudah belajar banyak di luar kota." Gumam Han Yuna.
Han Yuna kembali duduk lalu memakan masakan ayam yang ada di atas meja.
...----------------...
Di tempat lain, Gracia Xu sedang berdiri di depan meja kerja ayahnya. Dia berencana akan meminta tuan Xu untuk membantunya mendapatkan Auron Li.
Namun saat ini, ayahnya tengah menerima panggilan telefon. Jadi Gracia Xu hanya bisa menunggu sampai tuan Xu selesai.
"Kenapa ayah lama sekali, sebenarnya dia sedang menghubungi siapa?"
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya tuan Xu selesai dan menatap Gracia yang duduk di depannya.
"Papa, kakak Li sudah menikah dengan wanita lain."
Tuan Xu hanya mengangguk.
"Papa, kenapa Papa tidak terkejut mendengar itu?" Tanya Gracia dengan nada tidak suka.
"Kemarilah." Ucap tuan Xu sambil menepuk pa*hanya sendiri.
Gracia yang tahu hal itu langsung berdiri dan berjalan mendekati ayahnya itu. Dia kemudian duduk di atas pangkuan tuan Xu.
"Papa sudah tahu tentang kabar itu, jadi Papa tidak terkejut." Ucap tuan Xu.
"Jika Papa sudah tahu, Papa harus membantu Gracia untuk kembali mendapatkan kak Li."
"Anak Papa yang cantik, kau tidak perlu memikirkan kakak Li itu. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau, lagi pula perusahaan Papa sedang bekerjasama dengannya. Jika dia tidak senang dan membuat perusahaan Papa hancur, bukan hanya kamu. Tetapi kita semua akan hidup miskin dan menderita."
Gracia Xu diam, selama ini dia sudah sangat menyukai Auron Li. Dan rasa sukanya semakin besar, hingga dia lupa siapa dirinya di depan Auron Li.
"Berhenti memikirkan tuan muda Li itu, kau bisa mendapatkan laki-laki yang lainnya."
"Tapi Papa...."
"Gracia sayang, Papa bisa memberikan semuanya padamu. Tetapi kau harus bisa mengerti Papa, ini juga demi kebaikan kita." Ucap tuan Xu sambil memeluk tubuh putrinya dari belakang.
Gracia Xu yang terkejut di peluk oleh tuan Xu sedikit m*nggeli4t, dan itu membuat tuan Xu tersenyum penuh arti.
Tuan Xu membantu Gracia berdiri, lalu dia berjalan ke arah pantry yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Wanita ini, sama seperti ibunya. Ingin membuat perusahaan ku hancur? Bermimpilah, lebih baik kau menemani ku siang ini."
Tuan Xu yang sudah lama menyukai kecantikan dan tubuh Gracia, diam-diam memasukan sesuatu pada teh yang dia buat untuk Gracia.
Setelah selesai, tuan Xu membawa teh itu dan memberikannya pada Gracia.
"Minum, dan tenangkan dirimu." Ucap tuan Xu.
Gracia menerima teh dari ayahnya itu laku meminumnya tanpa curiga.
"Jadi, Papa tidak bisa membantu Gracia membujuk kak Li?" Ucap Gracia setelah meminum teh itu.
"Sayang, perusahaan Papa hanya perusahaan kecil. Kita tidak bisa bersaing dengan dia."
"Tapi bukankah Papa sudah ber...."
Gracia tidak melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba kepalanya menjadi sangat pusing dan berat.
"Gracia, kau kenapa?" Tanya tuan Xu yang berpura-pura khawatir.
"Ti.... Tidak apa-apa, Gracia hanya sedikit pusing."
"Ayo Papa antar ke ruang istirahat. Agar kamu bisa tidur disana."
Tuan Xu memapah Gracia Xu, tubuh Gracia yang mulai terasa panas menjadi sedikit sejuk saat telapak tangan tuan Xu menyentuh kulitnya saat membawa dia ke dalam ruang istirahat.
"Papa, biarkan AC menyala lebih dingin." Ucap Gracia.
"Iya, nanti Papa naikan suhunya."
Tuan Xu membaringkan tubuh Gracia di atas tempat tidur, dan sengaja menyentuh bagian yang cukup besar itu.
Mendapat sentuhan itu, Gracia seperti merasakan aliran listrik di dalam tubuhnya.
"Kamu pasti kepanasan, sampai merah seperti ini wajahmu." Ucap tuan Xu sambil mengusap pipi Gracia yang sudah merah.
Tuan Xu akan beranjak untuk mengatur suhu AC ruangan itu, tetapi tangannya di genggaman dengan erat oleh Gracia.
"Papa, tolong Gracia. Tangan papa sangat dingin." Ucap Gracia.
Tuan Xu tersenyum dan mengangguk.
"Papa akan tetap disini, dan Papa akan membuat mu tidak merasa panas lagi."
Tanpa menunggu jawaban dari Gracia, tuan Xu m*ncium pipi Gracia berulang kali.
Tubuh dan pikirannya Gracia yang sudah tidak bisa di kendalikan lagi, hanya bisa m*rem4s rambut tuan Xu karena saat ini tuan Xu tengah bermain di d4d4 bagian atasnya.
"Papa, rasanya dingin sekali. Sangat enak." Ucap Gracia dengan terengah-engah.
Mendengar suara Gracia yang semakin merac4u itu, tuan Xu segera m*lum4t bibir Gracia dan m*nghis4pnya* dengan kuat.
Dan pergulatan di dalam mulut pun berlangsung.
Tangan tuan Xu yang tidak tinggal diam, m*nelusu*p ke dalam baju dan m*rem4ss buah mel0n yang cukup besar itu.
"Apakah rasanya sangat enak Gracia?" Ucap tuan Xu yang telah melepaskan cium4n mereka.
Gracia Xu hanya mengangguk, sambil sesekali m*nd3sah saat jari tuan Xu mem3linti*r biji mel0n yang sudah keras itu.
Siang yang panas itu, tuan Xu akan menikmati buah mel0n sambil memainkan timun besar di dalam sumur kecil yang telah lama dia inginkan, dan tentu saja itu merupakan pengalaman yang pertama bagi Gracia Xu.
"Setelah ini, kau hanya akan menjadi milik ku. Karena kau hanya akan menginginkan timun milik ku bermain di dalam sumur itu. Ini adalah hukuman karena selama ini ibu mu telah menipuku."
Gracia Xu adalah putri satu-satunya di keluarga Xu, tetapi tidak ada yang tahu jika dia bukanlah anak kandung dari tuan Xu. Karena saat tuan Xu menikah dengan nyonya Xu, dia sudah mengandung Gracia 2 bulan.
Dan tuan Xu selama ini berpura-pura tidak tahu, karena saat melihat wajah cantik Gracia, muncul rasa ingin memiliki.