CEO'S LITTLE GIRL

CEO'S LITTLE GIRL
CLG #48



"Anda sungguh berani tidak mendengarkan apa yang saya katakan, tuan muda Li." Ucap dokter Kei pada Auron Li yang saat ini duduk di depannya.


Di atas meja terdapat setengah botol obat, karena setengahnya telah di minum oleh Auron Li beberapa hari yang lalu.


"Saya pernah mengatakan kepada anda, jika anda bisa meminum obat ini, hanya saat kepala anda terasa begitu sakit, dan anda tidak boleh terus menerus meminum obat ini." Ucap dokter Kei lagi.


Saat ini dokter Kei tidak tahu harus bagaimana bicara dengan Auron Li. Bagi dokter Kei, Auron Li merupakan seorang pasien yang sangat sulit di tangani.


Obat yang di minum oleh Auron Li adalah obat untuk menghilangkan rasa sakit yang sangat menekan pada kepalanya.


Beberapa tahun lalu, Auron Li yang sibuk dan berusaha memajukan perusahaannya mengalami insomnia akut. Dan itu membuat kepalanya sangat sakit, hingga seperti di tusuk oleh ratusan jarum.


Dokter Kei adalah dokter pribadi keluarga Li, dia memeriksa tubuh Auron Li dan memberikan obat untuk meredakan rasa sakit kepala itu pada Auron Li.


Tetapi dokter Kei berkata, Auron Li hanya boleh meminum obat itu jika kepalanya terasa sangat sakit saja. Karena obat itu merupakan obat k3ras dan tidak boleh di konsumsi terlalu sering, sebab memiliki resiko yang cukup besar.


"Aku tahu, aku....."


"Anda sangat tahu, tetapi anda tetap meminumnya. Dan dari hasil pemeriksaan, anda telah mengalami pembengkakak pada jantung anda."


Auron Li sempat terkejut mendengar itu, namun dia berusaha tenang.


"Saya tahu akhir-akhir ini anda sedang mengalami hal yang sulit, namun tidak seharusnya anda melakukan itu, tuan muda Li. Saya memberikan obat itu kepada anda, karena hanya obat itu saja yang bisa menekan rasa sakit di kepala anda. Saya juga pernah berkata akibat jika anda meminumnya terlalu sering." Ucap dokter Kei lagi.


Auron Li hanya diam, di dunia ini mungkin hanya dokter Kei yang berani berbicara sedikit keras pada Auron Li. Dan itu karena Auron Li adalah pasiennya yang sulit di atur dan harus lalu harus dia perhatikan.


"Jangan katakan hal ini pada siapapun, terutama Amora." Ucap Auron Li.


Dokter Kei mengangguk, "Saya akan mengambil obat ini. Dan akan memberikan obat untuk jantung anda."


Auron Li mengangguk, saat ini dia hanya bisa mendengar dan menuruti apa yang dokter pribadinya katakan. Karena itu memang kesalahan yang dia perbuat.


Setelah bertemu dan mendapatkan obat dari dokter Kei, Auron Li kembali ke mansion.


Mulai dari sekarang dia harus merahasiakan kondisi tubuhnya dari semua orang, karena dia tidak mau orang lain tahu bagaimana keadaan dia saat ini.


Sampai di mansion pun Auron Li langsung pergi ke ruang kerjanya untuk menyembunyikan obat jantungnya disana, sebab jika dia meletakan obat itu di laci nakas kamarnya, dia khawatir Yuna akan tahu.


"Aku akan menemui Yuna lebih dulu." Ucap Auron Li.


Auron Li berjalan keluar dari ruang kerjanya dan mengunci ruangan itu.


"Sayang, Yuna." Ucap Auron Li setelah membuka pintu kamarnya.


Yuna yang sedang berada s di dalam kamarnya menoleh saat Auron Li memanggilnya.


"Kau sudah pulang, Auron." Ucap Yuna.


"Iya sayang."


Auron Li berjalan mendekati Yuna lalu mengecup keningnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Ucap Auron Li.


"Aku hanya sedang menggambar sesuatu."


Auron Li mengangguk, "Aku sudah mengurus cuti kuliah mu."


"Cuti kuliah?"


"Benar, saat ini kau sedang hamil. Aku tidak mau kau terlalu lelah dan banyak pikiran."


"Tapi....."


"Sayang, ini demi kebaikan mu dan juga anak kita."


Yuna diam sejenak lalu mengangguk pelan.


Auron Li duduk di samping Yuna lalu memeluknya, "Aku akan mengundang seorang dosen kesini, jika kau ingin belajar."


"Tidak perlu, jika kau melakukannya itu sama saja akan membuatku banyak pikiran."


Auron Li terkekeh mendengarnya.


"Auron."


"Hmm?"


"Kau bau obat."


"Benarkah?" Ucap Auron Li sedikit terkejut.


"Iya, kau mandi dan ganti pakaian mu dulu."


"Baik, mau ikut?"


"Tidak, aku sudah mandi."


"Aku harap Yuna tidak memcurigai sesuatu."


10 menit kemudian, Auron Li keluar dari kamar mandi. Dia melihat Yuna sudah tidur di atas ranjangnya.


"Dia tidur?" Gumam Auron Li.


Hanya mengenakan handuk kimono Auron Li berjalan mendekati ranjang, dan dia pun berbaring di samping Yuna, menatap wajah istrinya yang begitu tenang itu.


"Maaf sayang, bukan aku ingin menekan mu di dalam mansion. Tetapi ini semua demi kebaikan mu, aku tidak tahu apa yang akan di lakukan orang-orang itu, jika mengetahui dirimu."


Auron Li memeluk Yuna dan ikut tidur bersamanya.


***


Sore harinya, Auron Li terbangun karena dadanya terasa sangat sesak. Dengan pelan dia bangun dari ranjang agar tidak membangunkan Yuna yang masih tidur.


Dan dengan cepat Auron Li berjalan keluar kamar lalu pergi ke ruang bacanya.


Setelah sampai disana, Auron Li segera membuka laci mejanya dan mengambil obat yang di berikan oleh dokter Kei pagi tadi.


Auron Li meminum obat itu dengan segelas air yang ada di atas meja kerjanya.


"Kenapa rasanya begitu sesak, apakah ini yang di rasakan oleh mereka yang memiliki masalah dengan jantung?" Ucap Auron Li setelah meminum obatnya.


Auron Li duduk di kursi dan menyenderkan tubuhnya.


"Sepertinya aku lupa meminumnya siang tadi, jadi saat aku bangun dad4ku sesak seperti ini." Ucap Auron Li lagi.


Obat untuk pembengkakan pada jantung memang harus di minum sesuai dengan aturan dan dosisnya, jika tidak maka penderita akan merasa dadanya sangat sesak, bahkan sulit untuk bernafas. Dan jantungnya akan terasa sangat sakit.


Setelah merasa jauh lebih baik, Auron Li menyimpan kembali semua obat itu.


"Hari semakin gelap, dan seperti akan turun hujan malam ini." Ucap Auron Li yang menatap keluar jendela.


Auron Li berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerjanya, mengunci kembali pintu ruang kerjanya itu dan pergi menuju kamarnya.


Ceklek


Pintu terbuka dengan pelan, karena Auron Li tidak mau mengganggu Yuna jika dia masih tidur.


Dan benar saja, istri kecilnya itu masih terlelap di atas tempat tidurnya.


"Sayang bangun, sudah sore. Kepala mu akan sakit jika kau tidak bangun juga. Yuna, sayang." Ucap Auron Li membangunkan Yuna.


"Eung.."


Auron Li tersenyum mendengar suara khas bangun tidur istrinya itu.


"Ayo bangun sayang, kau sudah cukup lama tidur." Ucap Auron Li lagi.


Yuna perlahan mengerjapkan kedua matanya, dan menatap Auron Li yang duduk di sampingnya.


Melihat suaminya ada disana, Yuna mengangkat kedua tangannya ke atas.


Auron Li mengerutkan keninganya, saat melihat Yuna mengangkat kedua tangannya itu tepat di depannya.


"Gendong, aku mau mandi."Ucap Yuna dengan suara orang yang sedang mengigau.


Kedua mata Auron Li terbuka lebar, "Gendong, sayang?"


Yuna mengangguk beberapa kali, dan tangannya masih tetap sama.


Auron Li seketika tersenyum, dan dengan senang hati Auron Li mengangkat lalu menggendong istri kecilnya itu, dan membawanya ke kamar mandi.


Sampai di dalam kamar mandi, Auron Li mendudukan Yuna di atas westafel lalu menatapnya.


"Apa kau juga mau aku membantumu untuk mandi, sayang?" Ucap Auron Li.


Yuna mengangguk beberapa kali dengan pasti.


Melihat itu Auron Li terkejut, karena tidak menyangka jika istri kecilnya akan mengangguk.


"Kau benar-benar ingin aku memandikan mu?" Tanya Auron Li lagu untuk memastikan.


"Iya, aku sedang malas untuk menggosok punggung ku sendiri. Dan aku mau kau yang melakukannya."


Auron Li tersenyum, "Baiklah jika seperti itu."


Auron Li berjalan ke bathtub untuk mengisi air hangat, setelah itu dia menuangkan sedikit sabun di dalamnya.


"Ayo sayang, airnya sudah siap." Ucap Auron Li.


Yuna hanya mengangguk.


Auron Li membantu Yuna, yang entah sejak kapan ingin selalu di temani dan di bantu oleh Auron Li.