CEO'S LITTLE GIRL

CEO'S LITTLE GIRL
CLG #45



Ini adalah hari ke dua setelah Yuna di bawa ke mansion, dan mendapatkan perawatan disana.


Dokter berkata jika bayi dalam perut Yuna sudah stabil, kondisi Yuna juga sudah bisa di bilang melewati masa kritis, tetapi dia masih belum membuka kedua matanya.


Auron Li duduk di samping Yuna dan menggenggam tangannya.


"Sayang, dokter bilang jika anak kita baik-baik saja. Aku mohon buka matamu, sayang. Aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan padamu." Ucap Auron Li dengan pelan.


Auron Li mengusap kepala Yuna dengan lembut, dia sungguh merindukan istri kecilnya yang sangat ceria itu.


Hari-hari Auron Li terasa begitu hampa, dan hanya ada rasa kesal juga marah saat dia berada di perusahaan. Karena itu Amora meminta Auron Li untuk tidak ke perusahaan dulu, dan membiarkan Lei mengurus semuanya.


"Kak Li pasti merasa sangat menyesal karena telah mengabaikan kakak ipar demi wanita bernama Carell itu." Ucap Amora pada Lulu yang juga menginap di mansion untuk menggantikan bibi Li Ran sementara waktu.


"Kau benar, kau bilang kalau kau akan bertemu dengan wanita itu. Apa kau sudah melakukannya?"


Amora menggelengkan kepalanya "Tidak, kakak meminta ku untuk tidak ikut campur. Karena aku tidak tahu apa-apa dalam hal ini."


Lulu menepuk bahu Amora "Ini urusan orang yang lebih dewasa dari kita. Kita akan bertindak jika kita melihat sesuatu yang akan membuat kakak ipar tersakiti lagi."


"Iya. Semoga kakak ipar segera bangun dan sehat seperti semula."


"Iya, kita berdoa saja."


Amora mengangguk.


Kedua adik ipar Yuna itu memang sangat menyayangi Yuna, mereka bahkan berani memarahi Auron Li, dan Amora sampai menampar Auron Li tanpa rasa takut sedikitpun.


Ceklek


Pintu kamar terbuka "Kalian masuklah, aku harus memeriksa beberapa file di ruang kerja." Ucap Auron Li pada Amora dan Lulu.


"Iya kak." Ucap Lulu.


Amora dan Lulu masuk ke dalam kamar, bersamaan dengan seorang perawat yang akan memeriksa Yuna di dalam kamar. Sementara itu, Auron Li masuk ke dalam ruang kerjanya.


Walaupun Auron Li tidak pergi ke perusahaan, tetapi dia tetap harus memeriksa file penting yang tidak bisa dia sepelekan.


"Semua berjalan dengan rencana, akhirnya dua perusahaan itu hancur. Dan sekarang tinggal dua perusahaan lagi yang tersisa." Ucap Auron Li saat melihat berita pada layar komputernya, sebelum dia membuka folder yang berisi file penting.


Setelah melihat berita itu sejenak, Auron Li membuka file yang akan dia periksa. Dan semua pikiran juga matanya fokus pada file-file itu.


...----------------...


Di dalam kamar Auron Li, Amora yang sedang menemani Yuna melihat jari Yuna bergerak.


Kedua mata Amora menatap jari Yuna yang tadi bergerak, seolah memastikan apa yang dia lihat benar atau tidak.


Dan kedua kalinya Amora melihat jika jari-jari Yuna bergerak lagi.


"Lulu, Lulu. Lihat jari kakak ipar bergerak." Ucap Amora sambil menarik bahu Lulu agar ikut melihat jari Yuna.


"Kakak ipar, kakak ipar sudah sadar." Ucap Lulu saat dia juga melihat jari Yuna bergerak.


"Kau disini saja, aku akan memanggil dokter kesini." Ucap Amora.


"Iya."


Amora segera keluar dari kamar untuk memanggil dokter.


Tak lama dokter dan dua perawat yang ada di dalam mansion itu segera berlari menuju kamar dimana Yuna berada.


"Dokter, tolong periksa kakak ipar saya. Kami tadi melihat jari kakak ipar bergerak beberapa kali." Ucap Amora setelah mereka sampai di depan Yuna.


Dokter pun langsung segera memeriksa keadaan Yuna, seperti memeriksa kedua mata Yuna, dan menempelkan stetoskop pada tubuh Yuna.


"Bagaimana dokter?" Tanya Amora.


Dokter menggelengkan kepalanya "Nyonya muda Li masih tetap sama."


"Tetapi tadi kami benar-benar melihat jari kakak ipar bergerak."


"Mungkin itu hanya sebuah gerakan dari alam bawa sadar, dimana hanya sebuah gerakan pasif dari pasien. Seperti halnya seorang pasien yang koma, dia bisa mengeluarkan air matanya. Padahal kondisinya masih belum sadarkan diri."


Amora menatap Yuna dengan tidak percaya, dia sudah merasa sangat bahagia saat melihat gerakan jari kakak iparnya.


"Lebih baik kita berdoa semoga besok nyonya muda benar-benar menunjukan tanda-tanda dia akan sadarkan diri." Ucap dokter.


"Baik, terima kasih dokter." Ucap Lulu.


Dokter dan kedua perawat keluar dari jamar Yuna, meninggalkan dua wanita yang saling berpelukan disana.


"Bagaimana bisa, bagaimana bisa itu hanyalah sebuah gerakan pasif? Jelas-jelas kita melihat jari kakak ipar bergerak." Ucap Amora yang masih tidak percaya.


Lulu menepuk-nepuk punggung Amora pelan "Tenanglah, aku yakin kakak ipar sebentar lagi akan bangun."


Amora hanya bisa mengangguk dan menangis dalam pelukan Lulu.


Setelah beberapa saat Amora sudah mulai kembali tenang, dan mereka duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang, sambil terus memperhatikan Yuna yang masih memejamkan matanya.


Ceklek


Auron Li yang telah selesai memeriksa file perusahaan di ruang kerjanya masuk ke dalam kamar.


"Kalian mandi dan makan malamlah." Ucap Auron Li pada Amora dan Lulu.


"Iya kak, kakak juga harus makan. Kau sudah terlihat lebih kurus." Ucap Amora.


"Aku tahu."


Amora dan Lulu berdiri lalu berjalan keluar dari kamar Auron Li dan Yuna.


Setelah kedua adiknya keluar, Auron Li berjalan dan duduk di sisi ranjang lalu menatap wajah Yuna yang putih dan cantik.


"Kapan kau akan bangun sayang, apa kau belum cukup menghukumku dengan seperti ini?"


Sejak Yuna tidak sadarkan diri, Auron Li tidak makan dengan baik. Bahkan setiap malam dia kesulitan untuk tidur, karena takut dia akan kehilangan Yuna saat terbangun nanti.


Dan sekarang tubuh juga wajah Auron Li sudah jauh lebih kurus dari sebelumnya. Kedua matanya pun terlihat sangat lelah.


Auron Li pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya.


10 menit kemudian Auron Li keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Dia lalu berjalan ke arah ranjang dan berbaring di samping Yuna.


Dengan perasaan yang campur aduk, dan kepala yang terasa begitu pusing. Auron Li menatap wajah Yuna, tangannya terulur mengusap dengan lembut perut Yuna dimana anak mereka berada.


"Jika anak kita laki-laki, kau akan memberi nama siapa sayang?" Ucap Auron Li dengan pelan.


Auron Li terus menatap Yuna, seolah menunggu jawaban dari istrinya itu.


"Aku akan membiarkanmu memberikan nama pada anak-anak kita nanti, aku yakin mereka akan sangat menyukainya. Karena ibunya yang cantik telah memberi mereka nama yang bagus." Ucap Auron Li lagi.


Auron Li terus berbicara dengan Yuna, hingga akhirnya dia tidak bisa menahan rasa sakit pada kepalanya.


Dengan cepat Auron Li mengambil obat yang ada di dalam laci nakas, dan langsung menelan obat itu tanpa apapun.


Entah sejak kapan Auron Li meminum obat itu lagi tanpa ada yang tahu, karena selama ini obat itu hanya dia minum saat dia merasa sakit yang teramat pada kepalanya.


Sebenarnya dokter melarang Auron Li meminum obat itu terus menerus, karena obat itu cukup keras. Tetapi Auron Li tidak menghiraukannya, karena dia ingin tetap melihat Yuna.