
Malam ini Yuna lebih banyak diam, bahkan saat mereka tengah makan malam pun Yuna diam tidak dan seperti biasanya.
Auron Li merasa tidak nyaman dengan sikap Yuna yang seperti itu, namun dia juga tidak mau mengusik ketenangan Yuna, ketika mereka sedang makan malam. Di tambah lagi saat ini Auron Li masih memikirkan cara, karena dia perlu menyelidiki seperti apa kehidupan Carell selama menghilang dulu.
Amora pun ikut diam, dia turut merasa kecewa dengan apa yang kakaknya lakukan di belakang kakak iparnya siang tadi.
"Aku sudah selesai." Ucap Yuna sambil meletakan gelasnya di atas meja.
Yuna berdiri dan berjalan ke ruang keluarga.
Auron Li yang melihat itu menatap adiknya "Apa yang terjadi pada kakak iparmu? Kenapa hari ini dia banyak diam?"
"Aku tidak tahu. Lagi pula itu urusan kakak dan kakak ipar. Aku tidak mau ikut campur."
Amora pergi meninggalkan Auron Li setelah meminum air yang ada di gelas.
Auron Li melihat sikap adiknya yang juga tidak seperti biasanya.
"Kedua wanita ini, kenapa mereka begitu aneh hari ini?"
Setelah selesai makan, Auron Li berjalan ke arah ruang keluarga.
"Aku akan ke ruang kerjaku dulu, jika kau sudah mengantuk tidurlah." Ucap Auron Li pada Yuna sambil mengusap kepala Yuna dengan pelan.
Yuna hanya mengangguk.
Auron Li yang melihat anggukan Yuna hanya menggelengkan kepalanya, lalu berjalan ke ruang kerjanya.
Setelah Auron Li pergi, Yuna menutup mulutnya dengan telapak tangannya, menahan suara isakan agar tidak terdengar oleh orang lain.
Yuna berlari ke kamarnya dengan tangisan yang tertahan, bahkan para pelayan pun mengira jika Yuna tengah tertawa sambil berlari ke kamarnya.
Amora yang melihat itu dari kamarnya hanya bisa diam, namun hatinya ikut merasa sakit seolah dia juga merasakan apa yang di rasakan oleh kakak iparnya.
Di dalam kamar Yuna melepaskan tangan yang sejak tadi menutupi mulutnya, dan sekarang isakannya mulai terdengar samar.
"Auron, kenapa.... Kenapa kau tidak mengatakan dan... Dan menjelaskannya padaku? Apakah kau juga akan meninggalkan ku?" Ucap Yuna di sela tangisannya.
Yuna berlari ke kamar mandi dan memangis sejadi-jadinya disana. Dia bahkan beberapa kali memukuli dadanya yang terasa sangat sesak.
Kembali terbayang saat tangan Auron Li di pegang oleh seorang wanita dan dia juga tersenyum pada wanita itu siang tadi.
"Auron.... Auron.... Kau sangat jahat! Kenapa kau melakukan itu padaku?"
Kembali Yuna menangis di dalam kamar mandi.
...----------------...
Di dalam ruang kerjanya, Auron Li tengah melihat pekerjaan yang siang tadi dia tinggalkan karena harus bertemu dengan Carell.
Kedua mata Auron Li menatap layar komputernya dengan serius, sesekali jari-jarinya mengetik dengan cepat keyboard yang ada di atas meja.
Ting
Sebuah notifikasi berbunyi, Auron Li menghentikan pekerjaannya dan melihat layar ponselnya.
Setelah melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya, Auron Li membuka pesan itu dan membacanya.
Carell : Li, apakah besok lusa kau ada waktu?
Auron Li bergumam saat membaca pesan itu.
Auron Li : Kenapa?
Carell : Kau tidak berubah, selalu kaku dalam membalas pesan.
Auron Li : Katakan saja ada apa?
Carell : Teman ku berulang tahun, aku baru saja kembali dan tidak tahu toko tas mana yang bagus di kota ini. Kau mau menemani ku untuk mencarinya?
Auron Li terdiam, dia mengingat-ingat jadwal besok lusa.
"Sepertinya besok lusa aku tidak memiliki rapat atau bertemu dengan klien." Ucap Auron Li.
Auron Li kembali membalas pesan Carell.
Auron Li : Baiklah.
Auron Li : Iya.
Setelah membalas pesan terakhir pada Carell, Auron Li kembali menyibukan dirinya denga pekerjaan yang tadi tertunda.
"Sepertinya aku harus menghubungi Lei, dan meminta dia mencari tahu tentang Carell. Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dari ku." Gumam Auron Li.
(Skip)
Setelah dua jam Auron Li melihat pekerjaannya, dia mengirimkan pesan pada Lei untuk mencari tahu kehidupan Carell selama dia menghilang lebih dari 10 tahun, dan tujuan dia kembali lagi ke kota itu.
"Sudah jam 11, apakah Yuna sudah tidur?" Gumam Auron Li sambil keluar dari ruang kerjanya.
Auron Li berjalan menuju kamarnya.
Ceklek
Auron Li masuk ke dalam kamar yang sudah gelap, dab melihat Yuna sudah tidur dengan nyenyak.
"Cepat sekali kau sudah tidur sayang, kau pasti lelah hari ini." Ucap Auron Li pelan.
Auron Li mengecup pipi Yuna lalu berbaring di samping istri kecilnya itu, kemudian ikut terlelap.
Yuna yang ternyata hanya pura-pura tidur membuka kedua matanya dan menatap Auron Li yang sudah tidur dengan nyenyak di sampingnya.
"Apa yang harus aku lakukan jika memang kau telah memiliki wanita lain di luar sana, Auron?"
Air mata Yuna kembali mengalir di sudut matanya. Dia tidak bisa membayangkan jika dia harus berpisah dengan Auron Li.
Yuna terus memikirkan hal itu hingga akhirnya dia tertidur dalam berbagai tanya yang tidak terjawab.
...----------------...
Esok harinya, Yuna bangun agak siang. Dan di samping tempat tidurnya Auron Li sudah tidak ada.
Yuna duduk di atas ranjang dengan kepala yang sangat pusing, kedua matanya terasa sangat berat karena semalaman dia menangis sampai tertidur.
"Sepertinya dia sudah berangkat ke perusahaan." Ucap Yuna yang melihat jam pada layar ponselnya.
Tok tok tok
"Kakak ipar, ini aku. Apa aku boleh masuk ke dalam?"
Yuna mendengar suara Amora dari luar kamarnya, dengan sedikit gontai Yuna berjalan dan membukakan pintu kamar untuk Amora.
"Ya Tuhan, kakak ipar. Apa yang terjadi padamu?" Ucap Amora dengan nada terkejut.
Yuna hanya diam melihat Amora yang terkejut melihat penampilannya.
"Aku tidak apa-apa." Ucap Yuna pelan.
Amora membantu Yuna berjalan dan duduk di atas sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Kakak ipar, apa tadi malam kakak tidak mengatakan apapun padamu?" Tanya Amora dengan hati-hati.
Yuna menggelengkan kepalanya.
Amora memeluk Yuna, dia yang akan kembali ke rumah utama menjadi tidak tega melihat kakak iparnya seperti saat ini.
"Kakak ipar, kakak Li pasti akan memberikan penjelasan pada kakak ipar. Kakak jangan banyak berpikir dulu." Ucap Amora mencoba menenangkan Yuna.
Yuna mengangguk, dia juga tidak mau berpikiran yang tidak-tidak pada Auron Li. Hanya saja, sejak Auron Li kembali, dia tidak berkata apapun pada Yuna perihal yang telah dia lakukan dengan wanita itu di kafe.
"Aku tidak apa-apa, jika kau ingin berangkat ke perusahaan maka pergilah." Ucap Yuna.
"Tapi kakak ipar....."
"Aku tidak apa-apa."
Amora menatap kakak iparnya, wajahnya tampak pucat dan tidak bersemangat. Bahkan kedua matanya kini begitu besar karena semalaman menangis.
"Aku akan pulang lebih awal, dan tidak ambil lembur hari ini. Kakak ipar jangan kemana-mana." Ucap Amora.
"Iya aku mengerti."
Amora lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar Yuna. Sebenarnya hari ini dia ingin menemani kakak iparnya, tetapi dia tidak bisa karena ada rapat ketua direksi. Dan dia harus ikut dalam rapat itu.