
"Kak, bagaimana keadaan kakak ipar?" Ucap Amora yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Dia masih ada di dalam."
Amora menoleh pada pintu UGD yang masih tertutup dengan rapat, lalu kembali menatap kakaknya yang terlihat sangat muram dan tidak baik.
"Kakak, kakak ipar sangat baik dan kuat. Dia pasti bisa melaluinya." Ucap Amora mencoba menenangkan Auron Li.
"Aku yang salah, aku....."
Ceklek
Pintu UGD terbuka, seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu.
"Dokter, bagaimana kondisi istri saya?" Ucap Auron Li pada dokter itu.
"Saat ini kondisi pasien tidak begitu baik, di tambah dengan kandungannya yang sangat lemah. Jika malam ini pasien tidak bisa melewati masa kritis, maka kita akan menghadapi kemungkinan terburuk."
Kedua mata Auron Li dan Amora membulat saat dokter berkata mengenai kandungan Yuna.
"Do....dokter, maksud dokter istri saya.... Istri saya sedang hamil?" Ucap Auron Li dengan terbata-bata.
Dokter mengangguk "Benar, dan usia kandunganhya sudah 6 minggu."
Auron Li mundur beberapa langkah, dan menggelengkan kepalanya. Auron Li lalu menatap dokter itu dengan tajam, dan secara tiba-tiba menarik kerah baju dokter itu.
"Dokter, anda harus menyelamatkan istri dan anak saya! Saya tidak mau tahu bagaimana caranya, anda harus menyelamatkan mereka!" Seru Auron Li pada dokter itu.
"Tu.... Tuan tenanglah tuan, kami pasti akan melakukan yang... Yang terbaik."
Amora yang melihat kakaknya yang menarik pakaian dokter mencoba melepaskan tangannya.
"Kak, jangan seperti ini. Lepaskan dokter. Kak!" Ucap Amora.
"Tidak, dia harus menyelamatkan istri dan anakku. Jika tidak maka aku akan menghancurkan rumah sakit ini!"
"Kak, hentikan! Jangan melakukan hal seperti ini."
Auron Li masih memegangi pakaian dokter itu, dia merasa takut kehilangan Yuna. Terlebih setelah tahu jika saat ini Yuna tengah mengandung anak mereka.
"Kau harus melakukan yang terbaik, selamatkan anak ku dan juga istriku! Kau adalah......"
Plaak!
Amora memukul wajah Auron Li, setelah berhasil menarik tangan kakaknya itu dengan kuat dari dokter yang ada di depan mereka.
Dokter yang terlepas dari Auron Li segera masuk ke dalam ruang UGD lagi.
"Kau..... Kau memukul ku? Amora kau...."
"Iya, aku memukul kakak agar kakak sadar atas apa yang telah kakak lakukan! Dia adalah dokter kak, bukan Tuhan! Dan lagi, kau melakukan itu seolah kau bukanlah orang yang bersalah, yang menyebabkan kakak ipar seperti saat ini."
"A... Apa maksud mu?"
"Katakan padaku, katakan padaku siapa wanita yang kakak temui di kafe beberapa hari yang lau?"
Auron Li tersentak, karena Amora mengetahui pertemuannya dengan Carell beberapa hari yang lalu itu.
"Kak, kau pasti terkejut mendengar jika aku tahu kakak telah bertemu dengan seorang wanita di luar sana. Tapi kakak pasti akan lebih terkejut, karena bukan hanya aku saja yang melihatnya, bahkan bukan aku yang pertama kali melihat itu."
"Ma... Maksud mu, Yuna.... Dia..."
Amora mengangguk "Benar, kakak ipar lah yang pertama kali melihatnya. Kak, kau telah membuat kakak ipar dan aku sangat kecewa!"
Auron Li terduduk di atas lantai rumah sakit, dia ingin tidak mempercayai apa yang telah di katakan oleh adiknya, tetapi itulah kenyataannya.
Air mata Auron Li mengalir, dia sungguh menyesali apa yang telah dia lakukan selama beberapa hari ini. Dan dia juga menyesal karena tidak mengetahui jika istrinya tengah hamil anak mereka.
"Aku yang salah, aku yang salah. Yuna, sayang. Aku mohon kau harus selamat. Aku bersumpah tidak akan membuatmu terluka lagi, aku bersumpah akan selalu membuatmu bahagia. Maafkan aku sayang, aku mohon kau harus tetap bersama ku." Ucap Auron Li dengan nada bergetar.
Amora yang baru pertama kali melihat kakaknya seperti itu segera memeluk tubuhnya, dan Amora bisa merasakan tubuh kakaknya gemetar karena takut kehilangan Yuna.
"Ini salahku, aku yang tidak mengatakan yang sebenarnya pada Yuna." Ucap Auron Li.
Amora hanya mengangguk, dia mengusap punggung kakaknya itu. Dia juga ikut merasa sedih juga takut dengan apa yang saat ini kakak iparnya alami
Setelah beberapa saat, Auron Li yang sudah mulai tenang duduk di salah satu kursi yang ada di koridor rumah sakit itu. Di temani oleh Amora.
"Dia... Wanita yang aku temui di kafe beberapa hari yang lalu adalah Carell." Ucap Auron Li pada Amora.
"Carell.... Maksud kakak, kak Carell...."
Auron Li mengangguk.
Amora memang tidak tahu banyak tentang hubungan antara kakaknya dan Carell, karena pada waktu itu usianya masih sangat muda. Tetapi dia tahu seperti apa sifat kakaknya dulu yang berubah setelah wanita bernama Carell itu pergi.
"Untuk apa dia datang, bukankah kakak berkata jika dia pergi dan tidak pernah memberi penjelasan apapun pada kakak?" Ucap Amora.
"Aku sendiri tidak tahu, tapi Lei berkata jika sekarang dia telah memiliki calon suami. Mereka telah bertunangan beberapa tahun yang lalu."
"Bagaimana bisa dia datang lagi pada kakak setelah dia pergi, dan sudah bertunangan dengan orang lain?"
Auron Li menggelengkan kepalanya.
"Jika saja, jika saja aku mengetahuinya lebih awal. Aku tidak akan pernah menemuinya dan memberikan nomor ponselku, sehingga membuat Yuna seperti ini."
Auron Li menatap pintu ruanh UGD yang masih setia menutup, dia sungguh berharap Yuna dan bayi mereka baik-baik saja.
"Kakak ipar akan baik-baik saja, dan akan mengerti jika kakak menjelaskannya." Ucap Amora.
"Apakah dia akan memaafkan ku?"
Amora mengangguk "Iya, kakak ipar adalah orang yang sangat baik. Dia pasti akan memaafkan kakak, tetapi kakak harus berjanji tidak akan membuat kakak ipar seperti itu lagi."
"Tentu, aku bahkan akan bersumpah padanya. Aku tidak akan pernah menemui wanita itu lagi, dan akan selalu menjaganya."
"Baguslah jika begitu, sekarang kita berdoa semoga kakak ipar dan bayinya baik-baik saja."
"Iya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Yuna dan anak kami."
Amora menepuk bahu Auron Li beberapa kali, memberikan kekuatan pada kakaknya yang saat ini tengah menyesali semua yang telah dia lakukan pada Yuna.
Auron Li menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Sayang, kamu harus baik-baik saja. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, dan tidak akan lagi bertemu dengan Carell atau wanita lain yang di luar sana."
Ceklek
Pintu ruang UGD terbuka, sebuah bangkar keluar dari dalam ruangan.
Di atas bangkar terbaring lemah sosok wanita yang begitu cantik, di lengkapi dengan alat bantu pernapasan dan juga selang infus.
Yuna akan di pindahkan ke ruangan khusus, dan akan di pasang beberapa alat pada tubuhnya. Karena dia tengah hamil dan kandungannya cukup lemah.
Auron Li dan Amora hanya bisa mengikuti para perawat itu membawa Yuna ke sebuah ruangan.
"Tuan, nona. Ini adalah ruangan khusus. Hanya bisa dua orang yang masuk ke dalam untuk menunggu pasien. Dan pakaian khusus bisa kalian pakai. Kami meletakannya pada gantungan di samping pintu." Ucap perawat setelah mereka sampai di ruangan khusus itu.
"Baik kami mengerti, terima kasih." Ucap Amora.
Auron Li terus menatap Yuna, dia seolah tuli dan buta. Karena pandangnya hanya tertuju pada Yuna, dan tidak mendengarkan apa yang perawat tadi katakan.