CEO'S LITTLE GIRL

CEO'S LITTLE GIRL
Part #61



Setelah Auron Li dan Yuna sampai di depan mansion, dengan hati-hati Auron Li membantu Yuna turun dari mobil dan berjalan menuju mansion mereka.


"Kau ganti pakaian dan bersihkan wajahmu dulu, aku akan meminta koki menyiapkan makanan untuk kita." Ucap Auron Li setelah mereka sampai di dalam kamar.


Yuna memgangguk, "Iya."


Auron Li lalu berjalan keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk meminta koki menyiapkan makanan untuk Yuna dan dirinya.


Setelah itu Auron Li kembali ke kamar.


"Hari ini cukup melelahkan." Ucap Auron Li sanbil duduk di atas sofa di dlam kamarnya.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka dan Yuna yang telah memakai pakaian lain, keluar dari balik pintu kamar mandi itu.


"Kau sudah selesai, sayang?" Ucap Auron Li pada Yuna yang berjalan mendekat padanya.


"Iya, kau gantilah pakaian mu lebih dulu."


"Aku akan menggantinya setelah kita makan, karena tadi aku sudah meminta koki memasakan makanan."


Yuna hanya mengangguk mendengar perkataan Auron Li.


"Pestanya cukup ramai, apakah semua orang yang kau undang datang, Auron?"


"Hampir semuanya, kemungkinan 80 sampai 90% yang datang."


"Aku pikir itu sudah semuanya."


"Tidak sayang, jika semuanya datang pasti akan lebih banyak lagi yang memberikan selamat padaku dan padamu."


"Iya, kau benar juga."


Aaron Li berdiri dan membantu Yuna yang akan duduk di sampingnya.


"Apakah perutmu terasa semakin berat dan jadi merasa sakit sayang?" Ucap Auron Li.


"Tidak, aku tidak begitu merasa keberatan. Hanya saja semakin besar bayi yang ada di dalam perut, maka akan semakin tidak nyaman dalam tidur."


Auron Li mengangguk lalu mencium tangan Yuna yang ada di genggamannaya.


"Jangan kwawatir. Aku akan memijiit mu jika kau merasa tidak nyaman atau sakit pada punggung mu." Ucap Auron Li.


"Iya, terima kasih."


Yuna menatap Auron Li dengan lekat, menatap wajah tegas milik laki-laki yang selama ini telah bersamanya, yang selaku berusaha memberikan semua yang terbaik untuknya.


"Ada apa sayang?" Ucap Auron Li.


"Tidak apa-apa."


"Apa aku terlihat sangat tampan?"


Yuna tersenyum dan mengangguk, "Iya, kau sangat tampan. Suami ku yang tertampan."


Auron Li terkekeh mendengar jawaban dari istri kecilnya itu.


"Baiklah, ayo kita keluar. Mungkin koki sudah selesai masak." Ucap Auron Li.


"Iya."


Auron Li kembali membantu Yuna berdiri, dan dengan hati-hati mereka berjalan keluar dari kamar.


Di ruang makan, beberapa masakan telah siap di atas meja makan. Dan semuanya adalah makanann kesukaan Yuna.


"Semuanya terlihat enak, kau harus makan yang banyak sayang." Ucap Auron Li sambil membantu Yuna duduk.


"Iya, aku juga sudah merasa sedikit lapar."


"Baguslah kalau begitu."


Setelah Yuna duduk, Auron Li menarik kursi untuknya dan duduk tepat di samping Yuna.


"Baiklah, kau harus makam dengan pelan dan banyak." Ucap Auron Li lagi.


Yuna hanya mengangguk.


Sepasang suami istri itu lalu makan bersama, dan sesekali Yuna menatap Auron Li yang makan di sebelahnya.


"Akankah kita bisa terus makan bersama seperti ini hingga tua nanti, Auron."


Setelah mereka selesai makan, Auron Li membawa Yuna ke ruang keluarga untuk menonton televisi sambil menunggu makanan mereka sedikit tercerna.


"Auron." Ucap Yuna.


"Hmm, iya sayang."


"Aku ingin bertanya padamu. Apakah boleh?"


"Tentu saja, kau ingin bertanya apa?"


"Auron, apakah kau... Kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ku?"


Auron Li terdiam, dia tertehun mendengar pertanyaan Yuna yang seolah sedang mengorek rahasia yang telah dia sembunyikan darinya.


"Auron." Ucap Yuna lagi.


"Hmm? Tidak ada sayang."


"Benarkah?"


"Iya, kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Saat ini kau sedang hamil, dan tidak boleh banyak pikiran."


Yuna hanya mengangguk, dan kembali melihat tacara televisi di depannya.


Auron Li menatap Yuna dengan penuh tanya, "Apakah dia telah mengetahui sesuatu? Atau bibi telah memberitahunnya tentang.... Tidak, itu tidak mungkin."


Dengan terus memikirkan tentang apa yang Yuna tanyakan padanya tadi, Auron Li melihat televisi. Dia berharap Yuna tidak mengetahui apapun tentang penyakitnya itu, setidaknya sampai dia sendiri yang memberitahu hal itu pada Yuna.


"Auron, aku ingin mandi dan tidur." Ucap Yuna.


"Baiklah, ayo kita ke kamar."


Yuna mengangguk, "Iya."


Mereka berdua pun berjalan bersama ke kamar mereka.


"Kenapa Yuna tiba-tiba bertanya seperti itu padaku? Aku benar-benar masih merasa penasaran." Ucap Auron Li sambil menatap pintu kamar mandi dimana Yuna berada.


Auron Li keluar dari kamarnya dan menemui kepala pelayan di mansion.


"Tuan muda, apakah ada sesuatu yang anda inginkan?" Ucap kepala pelayan saat berada di depan Auron Li setelah dia di panggil.


"Katakan padaku, apa saja yang nyonya lakukan selama aku tidak berada di mansion beberapa hari ini?"


Kepala pelayan diam, dan mencoba mengingat sesuatu.


"Sepertinya nyonya muda melakukan hal biasanya, tidak ada yang mencurigakan, tuan muda. Apakah terjadi sesuatu?" Ucap kepala pelayan.


"Tidak ada, apakah kau pernah melihat dia melamun sendiri? Saat bibi masih disini atau telah kembali ke rumah tua?"


Kepala pelayan menggeleng, "Tidak pernah, tuan muda. Saya dan pelayan yang lain selalu melihat nyonya muda ceria seperti biasa."


Auron Li mengangguk, "Baiklah, kau bisa kembali."


"Baik, tuan muda."


Setelah kepala pelayan pergi, Auron Li kembali ke dalam kamar dengan penuh tanya.


"Auron, kau dari mana?" Ucap Yuna saat melihat Auron Li yang baru masuk ke dalam kamar.


"Aku baru ke dapur, melihat apakah buah yang ada disana sudah habi atau belum."


Yuna mengerutkan keningnya, sebab selama ini Auron Li tidak pernah melakukan hal itu. Karena jika dia ingin membeli buah ya tinggal membelinya saja, tidak perlu melihat ke dalam kulkas lebih dulu.


"Apa kau sudah ingin tidur sayang?" Tanya Auron Li mengalihkan pembicaraan.


Yuna mengangguk, "Iya, kaki ku terasa sedikit lelah."


Auron Li berjalan mendekati Yuna, "Baiklah, setelah aku mandi. Aku akan memijiit kaki mu."


"Terima kasih."


Auron Li mengangguk dan mencium kening Yuna.


"Kau duduk dan bersenderlah dulu di ranjang. Aku akan mandi dulu." Ucap Auron Li.


"Iya."


Yuna duduk di atas ranjang, dan di bantu oleh Auron Li menaikan kedua kakinya di atas ranjang, dan menyenderkan badannya pada bantal yang sudah Auron Li tata di belakang punggung Yuna.


"Baiklah, aku akan mandi dulu." Ucap Auron Li.


"Iya."


Auron Li berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi, sementara Yuna mengambil ponselnya di atas nakas dan memainkan ponselnya itu.


"Kenapa berita di sosial mediaku bersisi tentang makanan dan aneka kue?" Gumam Yuna.


Dia tidak ingat jika beberapa hari ini, demi mengalihkan pikirannya dari kondisi Auron yang akan membuatnya menangis, Yuna selalu membuka berita tentang aneka makanan dan kue.


Jadi saat dia membuka akun sosial medianya lagi, semua berita pasti tentang aneka makanan dan kue.


Ceklek


"Sayang, kau sedang melihat apa?" Ucap Auron Li yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku sedang melihat berita, tetapi semua isinya berita tentang makanan dan kue."


Auron Li berjalan lalu duduk di depan istrinya yang masih menatap layar ponselnya.


"Mungkin karena beberapa hari ini kau selalu melihat berita tentang makanan dan kue, jadi berita baru yang keluar juga itu."


Yuna diam sejenak, tetapi tatapannya masih fokus pada ponsel yang ada di tangannya.


"Sayang." Ucap Auron Li.


"Hmmm, padahal aku hanya melihat beberapa berita makanan dan kue ini tidak lama, agar aku tidak terus menangis karenamu?" Ucap Yuna dengan tidak sadar.


Auron Li mengerutkan keningnya mendengar ucapan Yuna.


"Menangis, menangis karenaku?"


"Iya, itu karena kondisi tubuhmu yang......."


Yuna terkejut dengan apa yang dia katakan sendiri, lalu menatap Auron Li.


"Yuna, kau....."


Yuna diam, lalu menggigiit bibir bagian bawahnya sendiri.


"Auron, aku...."


"Sejak kapan?"


"Itu....."


"Sejak kapan kau mengetahuinya? Apa bibi Ran yang mengatakannya padamu?"


"Tidak, tidak. Bukan bibi Ran yang mengatakannya padaku." Ucap Yuna sambil beberapa kali menggelengkan kepalanya.


"Lalu dari siapa? Tidak ada yang tahu tentang hal ini, Yuna."


Air mata Yuna mengalir, dia tidak menyangka Auron Li akan berbicara dengan keras padanya, setelah Auron Li mengerti jika dirinya tahu keadaan suaminya itu yang sebenarnya.


Melihat Yuna menangis setelah dia berbicara lebih keras padanya, Auron Li segera memeluk tubuh istri kecilnya dan mengecup keningnya beberapa kali.


"Maafkan aku sayang, maaf. Bukan aku bermaksud berbicara keras padamu." Ucap Auron Li dengan pelan.


"Kenapa... Kenapa kau tidak.. Tidak memberitahu ku, Auron."


"Maaf, aku tidak ingin kau terlalu banyak berpikir. Aku melakukannya demi kebaikan mu dan jiga anak kita, sayang."


"Ta... Tapi...."


Yuna tidak bisa lagi berbicara, dia memeluk Auron Li dengan erat sambil menangis dalam pelukan Auron Li dengan keras.


Auron Li hanya bisa mengusap punggung Yuna, dan mencoba menenangkannya.


Rahasia yang beberapa bulan ini dia jaga, akhirnya di ketahui oleh orang yang paling tidak ingin Auron Li tahu. Dan mulai saat ini, dia harus menjaga Yuna dengan lebih baik lagi, karena dia telah tahu jika istrinya itu telah mengetahui kondisi tubuhnya saat ini.