
"Tolong jangan seperti ini. Maafkan saya... Hihik hihikk.. saya janji tidak akan membagil Bapak dengan sebuatan Kakak lagi. Tapi tolong jangan diam, hati saya sakit jika Bapak hanya diam. Hikhiiik hikkk."
Jonathan memejamkan matanya, sambil menikmati pelukan dari adik tirinya. Berlahan Jonathan membalikan badannya, dan di tataplah wajah sedu wanita yang telah mengisi hatinya.
"No.. jangan menagis.. hati saya lebih sakit melihat ini."
Mendengar ucapan Jonathan tidak membuat Ardelia diam dari tangisnya tapi malah semakin terisak.
"Maaf karna pernah menyakiti hati bapak. " Ucapnya di sela sela tangisnya.
Jonathan yang mengerti maksud Ardelia, dia pun hanya memeluk Ardelia dengan sayang.
"Lalu apa alasanmu menolak lamaran saya?" Tanya Jonathan.
Ardelia memejamkan matanya, takut apa yang dikatakannya akan menyakiti hati Jonathan lagi.
"Itu.. ituu.. kar~"
"Katakan yang jujur, jika tidak saya akan mendiamkanmu lagi." Ancam Jonathan.
"Itu karna saya ingin membalas sakit hati saya kepada bapak. Bagaimana dulu Bapak selalu menghina mama saya dan saya juga. Saya juga berjanji akan membalas perbuatan Bapak, dan saat tuhan memerikan kesempatan itu, tanpa pikir panjang saya dengan senang hati melakukan itu."
"Di samping itu... saya juga merasa tidak pantas menjadi wanita Bapak."
"Kenapa?" Tanya Jonathan yang masih betah memeluk Ardelia.
"Karna saya sadar diri terlahir dari kelurga miskin. Ibu saya hanya wanita pengoda."
DEGG.
Ucapan Ardelia membuat hati Jonathan seperti teriris iris. Sakit dan perih, rasa bersalah pun kian dirasakannya.
"Ada wanita yang begitu sempurna seperti Nona Maora dan Nona Jessica di samping Bapak. Sedangkan saya hanya wanita yang tidak jelas asal usulnya memanfatkan orang kaya dan~"
CUP
"Sekali lagi kamu mengatakan itu, saya akan terus menghukum bibir ini." Ucap Jonathan sambil mengelap bibir Ardelia.
"Tapi itu kan kenyataannya."
"Iya kamu memang benar. Dan wanita seperti itulah yang membuat seorang Jonathan Wijaya tergila gila sekarang.
"Benarkah?" Tanya Ardelia dan tangisannya pun sudah tidak terdengar lagi.
"Hem." Jonathan membawa tangan Ardelia menyentuh dadanya.
"Bagaimana apa kamu merasakannya?" Tanya Jonathan.
Ardelia yang merasakan debaran di dada Jonathan pun langsung menatap Jonathan.
"Lalu kenapa selalu membuat saya menangis, selalu marah dan sangat cuwek?"
"Karna saya tidak menyadari perasaan ini. Dan tidak ingin perasaan ini tumbuh terlalu dalam. Tapi saya salah, membencimu bukan jalan yang baik untuk mengapus perasaan ini. Sampai saya mengajakmu menikah, itu memang murni dari hati saya, dan kenapa saya pergi kekota M? Itu karna saya ingin melupakanmu dan mengapus perasaan yang tak pantas ini. Lelaki yang sudah merendahkan seorang wanita, tidak pantas medapatkan wanita yang sepertimu. Tapi kepergian saya bukan mengapus perasaan, tetapi malah rasa rindu yang amat dalam yang saya rasakan."
"Pada saat saya kembali lagi ke kota S, hal yang paling ingin saya temui adalah kamu. Dan saat kamu membawakan segelas susu kepada saya. Tak bisa di bohongi bagaima bahagianya saya. Tetapi saya harus menahan itu demi bisa melihat ada kah cintamu pada saya. Saat kamu menagis dan memeluk saya, di sana saya merasa ada kesempatan untuk memperjuangkan cinta dan keinginan untuk memilikimu.
"ARDELIA PUTRI ATMAJA.. MAUKAH KAU MENJADI WANITA DARI SEORANG JONATHAN WIJAYA." ucap Jonathan sambil mengeluarkan cicin yang dia rancang sendiri.
"Sejak kapan?" Ardelia yang tidak bisa menahan tangisnya lagi berusaha tetap bertanya.
Jonathan sedikit kebingungan akan pertanyaan Ardelia. Tetapi setelahnya dia tau kemana arah pertanyaan itu.
"Sejak pertama pertemuan kita, setelah berpisah bertahun tahun. Mungkin sedikit tidak masuk akal. Tetapi memang itulah kenyataannya." Ucap Jonathan jujur.
"JAHAT."
ππππππ
AUTOR KASIH SATU LAGI YAHH.. SEMOGA BISA UP LAGI BESOK.