Brother Is My Love

Brother Is My Love
SEBUAH KEPUTUSAN.



"Kembalilah ke WIJAYA COMPANY." Kata papa Dion dengan penuh harap.


Ardelia bengong dengan permintaan papanya yang di luar dugaannya. Ardelia juga sempat melirik Jonathan.


"Apa yang papa katakan? Kembali ke WIJAYA COMPANY begitu?" Batin Ardelia.


"Adel kamu kok malah bengong sih, ituloh di tanya papa." Kata mama Tia menyadarkan anaknya.


"Bagaimana nak apa kamu mau?" Tanya papa Dion lagi.


"Tapi kenapa tiba tiba pa?" Ardelia balik bertanya kepada papa Dion.


"Nak mungkin ini membuatmu kaget, tapi WIJAYA COMPANY sangat membutuhkanmu. Kakakmu Jonathan harus mengurus perusahaannya di kota M, dan dia akan tinggal dengan waktu yang belum tentu sampai kapan."


"Adel... papa harap kamu tidak menolaknya, karna papa sendiri juga tidak bisa mengurus perusahaan seperti dulu lagi." Kata papa Dion


"Sayang." Mama Tia memegang tangan anaknya karna Ardelia kembali terbengong.


"Eeekkkkk.. itu Adel.. tidak tau." Jawab Ardelia. Dia ragu dengan jawabannya sendiri dan juga bingung harus menjawab apa.


"Kenapa nak? Kanapa bisa tidak tau, apa ada yang kamu takutkan?" Tanya papa Dion.


"Bukan begitu pa, tapi sekarang Adel kan sudah bekerja dan juga Adel sudah terikat kontrak." Kata Ardelia.


"Apa hanya itu alasanmu nak?" Papa Dion meyakinkan anak gadisnya.


"Tidak hanya itu pa. Tapi dia anakmu yang menjadi alasannya. Tidak mungkin aku harus kembali ke sarang macan pa." Batin Ardelia.


"Nak." Panggil papa Dion.


"Iya pa.. jika Adel membatalkan kontrak secara sepihak itu pasti akan kena denda yang sangat banyak pa." Jawab Ardelia.


"Hahaha.. kamu itu gak usah kawatir lagi tentang hal itu nak. Semuanya sudah papa pikirankan dari awal. " Jawan papa Dion.


"Aduhhh bagaimana sekarang, aku harus jawab apa dong." Batinnya.


"Mmm.. apa boleh Adel pikirkan dulu pa?" Tanya Ardelia.


"Baiklah nak kamu bisa pikirankan dulu. Tapi papa harap jawabanmu tidak mengecewakan papa nak." Kata papa Dion.


Ardelia tersenyum kepada papa Dion. Sungguh keputusan yang berat menurutnya. Menolak rasanya tidak bisa, tapi jika di terima itu sama saja kembali ke jurang yang sama.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam hari tiba. Ardelia masih bengong dengan keputusan yang harus di ambilnya.


"Sayang." Mama Tia datang mengelus puncak kepalanya.


"Mama." Ardelia tersenyum kepada mamanya.


"Ada apa nak?" Tanaya mama Tia pura pura tidak tau apa yang sedang di pikirkan anaknya.


"Tidak ma, Adel hanya mengingat kenangan kita dulu." Jawab Ardelia.


Mama tia tesenyum kepada anaknya, lalu memeluk dan mencium kepala anaknya dengan sayang.


"Apa keputusannya begitu berat sayang?" Ucap mamanya dan di angguki oleh Ardelia.


"Sayang.. mama tidak akan memaksamu untuk menerima tawaran papa, karna kamu juga berhak untuk memilih. Tapi ingat sayang kita tidak boleh egois. Dengarkanlah kata hatimu dan lihat siapa yang paling membutuhkanmu iya." Ucap mama Tia sambil mengusap pipi anaknya.


"Adel.. papa adalah orang yang baik, dia yang sudah membantu kita selama ini. Sudah saatnya kita yang membantu sekarang nak. Tapi seperti yang mama katakan tadi, mama tidak akan memaksamu. Dan sekarang tidurlah dan pikirkan besok lagi yahh." Mama Tia membawa anaknya ketempat tidur dan menyelimutinya.


"Trimakasih ma.. good night." Ucap Ardelia.


"Good night sayang." Mama Tia pun pergi dari kamar Ardelia.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sudah pukul 23:15 Ardelia bangun dari tidurnya dan menuju dapur guna mencari air untuk dia minum. Tenggorokannya terasa haus karna terlau banyak berfikir.


Satu gelas tidak cukup, lalu dia menambah lagi. Mengambil keputusan adalah sesuatu yang sangat sulit, begitulah yang di rasakan Ardelia saat ini.


"Kau belum tidur?"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


**BELOM GAK ADA YANG DI PELUK SOALNYAπŸ˜πŸ˜‚.


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENTNYA YAHH πŸ˜˜πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜—πŸ˜**