
"Berhasil" Ucap Jonathan setelah Ardelia pergi dari ruangannya.
ππππππ
"Maaf pak kenapa client kita belom datang? " tanya Ardelia karna sudah dua jam dirinya menunggu di sebuah restaurant mewah, mungkin bisa di katakan ruangan VVIP.
Langit yang mulai gelap membuat dirinya tidak sabar menunggu dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Pesanlah makanan jika kau lapar."
"Tidak.. nanti saja saat client'nya sudah tiba." Saut Ardelia.
"Jika saya bilang pesan yaa pesan.." Jonathan mulai menatap Ardelia.
"Iya baiklahh." Tidak di pungkiri perutnya memang sudah lapar.
"Siapa juga yang menunggu client. Itu cuma akal-akalanku saja biar bisa berdua denganmu." Ucap Jonathan dalam hati.
Ardelia pun memesan satu porsi makanan untuk dirinya saja.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanannya pun datang.
"Selamat menikmati nona." Ucap pelayan tersebut.
"Trimakasih mbak." Balas Ardelia.
Ardelia yang memang sudah lapar langsung menyantap makannya tanpa peduli dengan Jonathan.
"Hemm." Jonathan berdehem yang membuat Ardelia melihatnya.
"Apa Bapak mau pesan minuman?" Tanya Ardelia.
"Suapi saya." Ucapnya yang membuat Ardelia sedikit kebingungan.
"Apa kamu tidak dengar?" Jonathan kembali bertanya.
"Itu.. saya pesankan lagi saja ya pak." Saat Ardelia ingin memesan, Jonathan dengan cepat menghentikan Ardelia.
"Suapi saya." Ucapnya lagi.
Ardelia yang tidak ingin memperburuk suasana akhirnya menyuapi Jonathan.
Satu piring berdua dengan sendok yang sama, Ardelia dengan telaten menyuapi Jonathan.. sekali untuknya dua kali untuk Jonathan.
(Disini yang lapar Ardelia apa Jonathan yakkππ).
Tidak terasa makanan telah habis dalam sekejap.
"Pesanlah lagi." Ujar Jonathan.
Ardelia tanpa ragu memesan satu porsi lagi.
Setelah selesai dengan acara suap suapan, mereka kembali terdiam.
"Apa kau bosan? Jika iya pulanglah."
"Tidak.. saya akan menemani Bapak menunggu client." Jawab Ardelia sambil tersenyum.
"Pulanglah client tidak jadi datang. Pertemuan akan di adakan lusa." Ucap Jonathan.
"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Ardelia.
"Tidak ada." Ucap Jonathan singkat.
"Ayo kita pulang." Ajak Jonathan.
"Mmm.. it.. ituuu bisakah saya lebih lama disini." Tanya Ardelia sedikit takut.
Tanpa ragu Jonathan mengiyakan Ardelia.. Tohhh ini memang keinginannya lebih lama dengan wanita yang iya cintai.
"Baiklah.. lakukan apa yang kau inginkan."
Ardelia tersenyum senang, dan langsung mendekat ke arah jendela. Melihat pemandangan, langit yang mulai gelap dengan lampu yang mulai menyala membuat pemandangan Kota S begitu indah.
Jonathan yang melihat Ardelia tersenyum juga ikut mendekat.
"Maaf." Ucap Ardelia tiba tiba, lalu menatap Jonathan yang berada di sampingnya.
Jonathan yang tidak mengerti pun langsung menatap Ardelia.
"Maaf atas sikap saya kemaren, yang membuat Bapak pergi saat belum waktunya. Maaf karna saya telah menampar Bapak juga. Saya saya." Ardelia tidak sanggup menahan sesak di dadanya.
"Lupakanlah.. saya tidak ingin membahas itu." Potong Jonathan karna tidak ingin membuat Ardelia menangis.
"Kenapa harus dia yang minta maaf duluan. Padahal rencananya bukan seperti ini. Dasar Jonathan pengecut. Harusnya yang mita maaf itu kan loo buka dia. Ahhhh bodoh bodohh." Jonathan menggerutu dalam hati.
"Trimakasih kak" Ardelia tersenyum kepada Jonathan.
Deg
Hati Jonathan berdesir. Baru kali ini Ardelia memanggil dirinya seperti itu tanpa ada orang tuanya.
"Bolehkah Adel memangil seperti itu? Tanya Ardelia yang membuat Jonathan tersadar dari lamunannya.
Jonathan diam dan tidak menjawab pertanyaan adik tirinya itu. Dia malah berbalik dan ingin meninggalkan Ardelia.
Dan baru beberapa langkah Jonathan di buat berhenti dengan sebuah pelukan yang melingkar sempurna di pinggangnya.
"Jangan seperti ini.
ππππππ
HAYYY AUTHOR NITIP SATU LAGI YAHH.. DI HUSAHAKAN BESOK UP LAGI.