Brother Is My Love

Brother Is My Love
DAPUR



"Saya lapar." Ucap Jonathan sambil menatap Ardelia yang masih kaget dengan apa yang barusan terjadi.


Sedangkan Jonathan tersenyum senang, melihat adiknya yang terbengong akibat ulahnya.


"Dasar gila.. untung jantungku kuat iman." Kata Ardelia dalam hati.


"Ahhh jantungku kenapa seperti habis lari marathon saja." Jonathan memegang dadanya yang terasa jantungnya berdetak begitu kencang.


Sedangkan Ardelia kembali fokus akan tujuannya. Memasak memang bukan ahlinya, tapi hasilnya jangan di ragukan lagi.


Selesai dengan mematikan kompor, Ardelia membawa satu piring ke meja makan yang sudah ada Jonathan di sana.


Jonathan mulai mendekat saat Ardelia sudah memakan sesendok nasi goreng.


"Suapi saya." Jonathan yang mulai duduk di dekat Ardelia.


Ardelia melirik Jonathan dan mengatakan.


"Di sana masih ada, anda bisa mengambil sendiri."


"Kau lupa apa yang di katakan bibik tadi? Saya menggendongmu dari parkiran sampai kekamarmu. Dan kau tau kau sangat berat dan sekarang tangan saya sakit." Jelas Jonathan.


"Lalu apa saya pernah memintanya?" Ucap Ardelia.


Sekakmat.. Jonathan terdiam tapi akalnya terlalu banyak untuk di kalahkan Ardelia.


"Yaa kau benar kau memang tidak memintanya. Tapi setidaknya kau tau trimakasih."


Ardelia tau berdebat dengan Jonathan tidak akan pernah ada ujungnya. Dia mengalah lalu mengambil sendok baru. Dan hal itu dengan cepat di cegah Jonathan.


"Pakek itu saja."


Ardelia menurut saja dan mulai menyuapi Jonathan dengan sendok bekas dari mulutnya.


Sesuap demi suap hingga nasi itu habis dalam sekejap.


"Lagi." Kata Jonathan.


"Bukanya anda bilang tidak lapar, Saat mama saya bertanya pada anda?" Ucap Ardelia.


"Saya tidak ingin merepotkannya, dia pasti sudah lelah." Saut Jonathan.


"Apa apa apa yang di katakannya tadi? Apa gue tidak salah dengar."


Ardelia tidak menjawab dia langsung pergi mengambil nasi goreng lagi.


Kini hanya Jonathan yang makan dengan Ardelia yang tetap menyuapinya. Seperti seorang ibu yang sedang menyuapi bayi besarnya.


Ardelia bangkit hendak mencuci piring bekas makanannya. Tapi di cegah oleh Jonathan.


"Duduk saja ini dugas saya."


"Baguslah jika anda sadar." Kata Ardelia


"Iya karana saya mengerti akan kerja sama." Saut Jonathan.


Jonathan mencuci dan menyapu dengan telaten. Ardelia memperhatikatnya sambil memakan buah sebagai penutupnya. Dia tidak menyangka seorang CEO seperti Jonathan mau melakukan hal seperti ini.


Ardelia tersenyum memperhatikan Jonathan. Sampai dia tidak sadar Jonathan sudah berada di dekatnya.


Jonathan tersenyum lalu mengusap bibir Ardelia yang sedikit belepotan.


"Apa segitunya harus memandang CEO tampan seperti saya." Tingkat kepeden Jonathan meningkat saat itu juga.


"Ti tiii tidak." Ardelia gugup tidak berani menatap Jonathan.


"Mmm benarkah?" Tanya Jonathan yang semakin mendekati Ardelia.


Seperti terhipnotis oleh tatapan Jonathan, Ardelia hanya diam dan sedikit menatap kakak tirinya itu.


Jonathan mulai berani menyentuh pipi Ardelia. Jarak mereka hampir menipis, Jonathan tersenyum lembut membuat Ardelia ikut dalam suasana. Entah kapan bibir mereka sudah menempel, Ardelia tidak melawan dia tetap dengan posisinya.


Jonathan merasa tidak ada perlawanan sama sekali, dan dia melihat Ardelia sudah memejamkan matanya. Jonathan tersenyum dan mulai menuntut cimumannya, dalam semakin dalam hingga Ardelia tersadar akan hal yang tidak wajar menurutnya.


Ardelia mendorong Jonathan, walaupun tidak membuat posisi Jonathan bergeser tapi setidaknya dia berhasil melepas ciumannya.


Jonathan tersadar kesalahannya dan dia langsung memita maaf sebelum Ardelia memarahinya.


"Maaf." Jonathan melihat Ardelia yang seperti ke habisan oksigen.


"Menikahlah denganku."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


HAYYYY MAAF LAMA UP'NYA LAGI. ✌️✌️ AUTHOR MITA JANGAN LUPA LIKE AND COMMENTNYA YAHH.