
Rasa sesak mulai di rasakan Ardelia, melihat sikap Jonathan yang mulai mendiamkan dirinya lagi. Jujur saja dia begitu merindukan sikap Jonathan yang begitu perhatian padanya, menghawatirkannya, tapi sekarang itu tidak dapat dia rasakan lagi.
"Lepaskan tanganmu dan keluar dari ruangan ini. Saya tidak butuh apa apa."
"Tapiiii."
"Ini printah dari atasanmu." Potong Jonathan.
Akhirnya Ardelia menuruti Jonathan dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
Sedangkan Jonathan memegang dadanya, dan merasakan debaran yang begitu kencang.
"Sabar Jonathan sedikit lagi." Ucapnya sambil tersenyum senang.
"Ahhh tapi aku membuatnya menangis tadi." Lirihnya.
ππππππ
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari telinga Jonathan. Maora yang siap berdiri dan membukak pintu ruangan Jonathan.
"Selamat pagi Nona Maora." Sapa Ardelia.
"Selamat pagi Nona Ardelia. Ada yang bisa saya bantu Nona." Tanya Maora.
"Ini berkas yang harus di tanda tangani oleh Bapak Jonathan."
"Ahhh iya Nona Ardelia berikan pada saya saja, biar saya yang sampaikan."
"Suruh masuk Maora jika itu memang bersangkutan dengan saya. Dan suruh pergi jika itu hanya membuang buang waktu saja." Ucap Jonathan.
"Nona silakan masuk saja." Akhirnya Maora mempersilakan Ardelia masuk tanpa meminta berkas itu.
"Maaf pak ini berkas yang harus anda tanda tangani." Ucap Ardelia yang tidak mau melihat Jonathan.
Bukan dia tidak ingin menatap atasannya hanya saja dia tidak ingin Jonathan melihat air matanya sudah ingin keluar.
"Apa saya ada di bawah hingga kamu menunduk seperti itu." Tanya Jonathan.
Ardelia yang mendengar itu semakin ingin menangis. Dia juga tidak menghiraukan ucapan Jonathan, dia terus menunduk tanpa mau melihat Jonathan.
"Maora tolong urus miting hari ini." Printah Jonathan.
Kini hanya tinggal Jonathan dengan Ardelia. Dengan suara jangkrik yang menemani keheningan mereka di ruangan Jonathan.
Akibat tidak ingin menatap Jonathan. Tanpa dia sadar Jonathan telah berada di depannya, dan bukan meja yang menghalangi lagi.
"Kamu ingin tanda tangan saya, maka lihat saya."
Ardelia yang tidak ada pilihan lain terpaksa menuruti perkataan Jonathan. Berlahan dia mengangkat kepalanya dan.
CUP
Runtuh sudah pertahanan Jonathan, dia tidak bisa menahannya lagi. Melihat perempuan yang begitu dia cintai berada di depannya dengan air mata yang sudah mengenang di matanya, membuat hatinya merasakan sakit.
Ciuman yang awalnya menempel kini sudah mulai bergerak. Ardelia yang kaget dengan serangan mendadak membuat matanya membulat sempurna.
Sentuhan lembut yang di berikan Jonathan membuat Ardelia tersadar, namun tidak memberotak atau berusaha melepaskan diri, tetapi air matanya yang susah payah dia pendam kini keluar seketika.
Jujur jika dirinya juga menginginkan hal yang sama. Dia ikut larut dalam permainan Jonathan dan dia juga ikut membalas ciuman dari sang kakak.
Jonathan yang mendapatkan balasan membuat dirinya semakin mendalamkan ciumannya. Hingga oksigen yang mereka miliki mulai menipis dan terpaksa harus memutuskan ciuman yang begitu menyenangkan.
Jonathan menghapus air mata Ardelia dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
"Siapkan dirimu dan ikut dengan saya menghadiri pertemuan." Ucap Jonathan yang langsung kembali ke kursi kerjanya.
"Baik." Jawab Ardelia.
Ardelia pun pergi dari ruangan Jonathan tanpa membawa berkas yang tadi dia bawa.
"Apa kamu tidak butuh tanda tangan saya lagi." Ucap Jonathan yang berhasil membuat langkah Ardelia berhenti.
"Ahhh iya."
Jonathan pun menanda tangani berkas tersebut dan memberikan kepada Ardelia.
"Trimakasih." Ucapnya dan langsung berlari keluar.
"Berhasil."
ππππππ
HALLO AUTOR NITIP SATU DULU YAHH.. ππ