
Jonathan memandang papanya, seperti ingin mendengar kelanjutanya.
"Iya jo... Ardelia tidak mau nama wijaya tercantum dalam namanya. Sampai sekarang pun tidak ada yang tau bahwa Ardelia adalah anak tiri papa termasuk di wijaya company. Papa tidak tau pasti alasannya apa, tapi papa yakin itu bersangkutan dengan dirimu." Jelas papa Dion.
Jonathan masih diam, apa semua itu benar? Apa memang dirinyalah yang membuat Ardelia seperti ini? Begitulah pikirannya.
"Kamu sudah kehilangan orang yang berbakt Jonathan, papa harap kamu tidak menyesalinya nanti. Papa tidak pernah memperkerjakan orang dengan asal." Kata papa Dion kepada Jonathan, lalu pergi sambil menepuk pundak anaknya.
Tiba tiba papanya berhenti lagi dan berkata tanpa membalikkan badannya.
"Jonathan.. jangan lagi membuat Ardelia merasa tertekan dalam rumah ini, ingat!! karma itu ada dan nyata, jangan sampai kamu menyesal nantinya. papa menyayangi kalian berdua." Pesan papa Dion pada anaknya.
ππππππ
WIJAYA COMPANY
Jonathan buru buru masuk dalam ruangannya. dia mencari sesuatu yang sempat dia remas remas kemaren.
Iya surat pengunduran diri Ardelia lah yang dia cari. Kini Jonathan tau bahwa apa yang dikatakan papanya kemaren benar, ARDELIA PUTRI ATMAJA itulah nama yang dia baca dalam surat itu.
"Jadi selama ini dia tidak menggunakan marga WIJAYA?" Katanya.
Perasaan bersalah kian terasa, apalgi mengingat air mata yang dikeluarkan adik tirinya waktu itu. Dia mengepalkan tangannya, kenapa dia bisa sekejam ini? Membuat seorang wanita menangis, Begitulah pikirnya.
πππππ
Hari hari berlalu begitu cepat, keadaan tidak banyak berubah. Jonathan dan Ardelia masih betah dalam diam mereka. Tidak saling menyapa jika bertemu, kesibukan membuat jarak mereka semakin jauh.
Dan disini... di salah satu kampus ternama di kota S, tempat Ardelia menghabiskan waktunya mencari ilmu, kini telah berakhir setelah dirinya dinyatakan lulus dan di wisuda.
"Sayang selamat atas gelar sarjananya, mama tidak menyangka jika kamu sudah di wisuda." Begitulah kata mama Tia sambil menangis.
Tidak menyangka bisa melihat anaknya di wisuda, jika mengingat ekonomi drinya yang dulu.
Papa Dion juga ikut merasakan kebahagian itu. Memeluk anaknya dan memberikan selamat.
"Selamat sudah menjadi sarjana Ardelia putri." Begitulah yang terucap dari bibir Mike sanjaya.
Jangan tanyakan Jonathan, dia sudah pasti tidak hadir jika mengingat keadaan dua saudara tiri itu.
πππππ
Terang berganti gelap, hari hari terus berganti. Tiga bulan sudah Ardelia lewati semenjak dirinya di wisuda, hampir empat bulan dirinya bekerja di sanjaya company.
Kesibukannya kian menjadi jadi setelah dirinya ikut serta dalam menangani sebuah proyek, ikut dalam persentasi itu adalah tugas utamanya. Mike sanjaya benar benar mempercayai dirinya.
Kesibukan Ardelia putri membuat sang mama benar benar geram.
"Apa hp itu tidak bisa di tinggalkan jika lagi makan?" Sindir mamanya. Melihat anaknya sibuk dengan hpnya bahkan semenit pun tidak lepas dari tangannya, sampai sampai Ardelia sering melupakan makan malamnya.
Ardelia sadar akan sindiran mamanya, dia hanya cengar cengir dan melanjutkan memakan makanannya.
"Apa sesibuk itu ya dell?" Tanya sang mama lagi.
"Iya ma.. Adel lagi cek e-mail karna besok ada miting pagi pagi." Jawabnya.
"Apa gajihnya sangat besar, hingga kamu segitunya saat bekerja? Waktu di kantor papa gak gitu gitu amat." Tanya mamanya lagi.
Ardelia dengan semangatnya mengatakan jika gajihnya sangat besar.
"Wahhh itu jangan di tanya lagi maaaaaa. Gajihnya benar benar besar cukup buat aku nyicil apartment." Jawabnya senang.
DEGGGG..
Hening.... semuanya diam termasuk Jonathan.
"APAAAA?"
ππππππ