
Ardelia yang mendengar pecakapan itu merasa ada yang salah. Atasan dan bawahan tidak sepantasnya sepeti ini. Ardelia langsung naik ke atas dan tidak lagi mau mendengar pecakapan Maora dan Jonathan.
Selepas kepergian Ardelia, Jonathan dengan cepat bangkit dari duduknya.
"Jo mau kemana?" Maora yang kaget dengan Jonathan yang tiba tiba berdiri.
"Pulanglah saya mau istirahat." Jonathan langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Disisi lain Ardelia yang merasa hatinya bermasalah. Dia menagis tak bersuara, entahlah apa yang membuat dirinya seperti orang yang sedang kehilangan.
"Ada apa denganku? Kenapa aku bisa menangis tanpa sebab begini?" Ucapnya sambil mengapus air matanya.
"Ahhhh sudahlah lebih baik aku mandi saja." Ardelia yang memutuskan untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan di kamar sebelah.. Jonathan sedang asik mengisap rokoknya.
"Kenapa dia tidak perduli sama sekali saat ada wanita lain menyentuh tubuhku? Apa dia memang tidak cinta padaku? Ahhhh rasanya kepalaku ingin pecah."
"Ardelia Putri seberapa keras hatimu ahh?" Jonathan yang sudah mulai bingung harus berbuat apa kepada adik tirinya itu.
ππππππ
"Bik apa Jonathan tidak ikut makan malam?" Ucap papa Dion.
"Iya Tuan.. tadi Tuan Jonathan bilang nanti saja." Jawab pelayan itu.
"Baiklah" ucap papa Dion lagi.
Suasana kembali hening, hanya ada suara sedok dan garpu yang saling beradau.
Setelah makan malam usai. Terlihat mama Tia yang sedang menyiapkan segelas susu dan juga roti panggang.
"Ma mama ngapain? Tanya Ardelia.
"Ohhh ini mama mau bawain buat kak Jonathan. Dia pasti sangat sibuk hingga tak sepat turun untuk makan malam." Jelas mama Tia
"Kok gak bawain nasi saja ma."
"Ini sudah malam pasti dia tidak akan mau memakannya." Jelas mama Tia.
"Ardelia apa kamu mau anterin ini ke ruang kerjanya, solanya mama mau mijetin papa."
"Iya dehh ma, biar Adel yang antar."
Tok tok tok
"Masuk." Terdengar suar dari dalam.
Ardelia pun masuk dengan namapan yang berisikan segelas susu dan roti di atasanya.
Jonathan yang mengetahui kehadiran Ardelia bukan menyamputnya tapi malah kembali fokus dengan kerjaannya.
"Kak ini mama suruh bawain ini untukmu." Ucap Ardelia yang begitu lembut terdengar, dan parahanya lagi Ardelia tanpa sadar mengucapakan kata kak pada Jonathan.
"Hem." Begitulah respon Jonathan.
Ardelia tidak bersuara lagi. Dia masih tetap di tempatnya, entah apa yang di tunggu oleh Ardelia putri.
Jonathan yang mengetahui Ardelia masih di sana, Jonathan pun membereskan pekerjaannya dan langsung pergi dari ruangan itu tanpa menyentuh susu atau pun roti yang di bawa Ardelia.
"Kenapa gak dimakan?" Tanya Ardelia saat melihat Jonathan pergi begitu saja.
"Ohh apa mau makan nasi dulu atau menu yang lainnya?" Tanya Ardelia
Jonathan diam seketika tidak melanjutkan langkahnya. Dan jangan tanyakan lagi bagimana perasaan Jonathan saat ini. Hatinya menghangat, tapi entah mengapa hanya sekedar menjawab pertanyaan Ardelia sangat susah keluar dari mulutnya.
"Apa biar saya buatkan." Tawar Ardelia lagi
Jonathan ingin sekali berlari dan memeluk wanita yang begitu dia rinduakan.
Tapi gengsinya gegitu tinggi. Jonathan malah terus melanjutkan langkahnya. Dan hal tidak terduga pun terjadi.
Brukkk
Tangan yang indah berhasil melingkar di pinggang seorang Jonathan Wijaya.
"Berbicaralah."
ππππππ
NAHHH LOOO PADA KENAP YAKK??
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENTNYA YAHH AUTHOR TUNGGU