Brother Is My Love

Brother Is My Love
PULANG BARENG.



"Trimakasih." Ucap Jonathan sambil mengusap puncak kepala Ardelia.


Ardelia hanya tersenyum canggung, sikap Jonathan yang seperti ini sangat mengetarkan hatinya.


Jonathan juga tidak lupa membalas senyum dari adik tirinya itu. Hatinya juga menjadi menghangat.


"Bekerjalah dengan baik." Ucap Jonathan lagi.


"Iya." Seketika tidak ada yang berbicara lagi.


Suasana jangkrik mulai terjadi. Ardelia tidak tau harus berkata apa lagi. Sebab Jonathan hanya menatapnya.


"Aaapa saya boleh duduk?" Tanya Ardelia sambil menggerakan tangannya mengarah ke tempat duduknya.


Jonathan yang sempat melamun jadi kaget di buat Ardelia.


"Ahhhhh iya iya silakan." Jawab Jonathan.


Jonathan pun menjauh dari Ardelia, dia masuk ke dalam ruangan pribadinya.


"Uhhhh jantungku kenapa dia berdebar debar seperti ini?" Ucap Jonathan sambil memegangi jantungnya.


"Apa aku sanggup meninggalkannya dengan waktu yang tidak di tentukan?" Ucapnya lagi.


Sedangkan di tempat lain, Ardelia sudah memegangi kakinya yang terasa lemas.


"Aduhhhh kakiku kenapa jadi seperti ini? Rasanya sudah tidak sanggup berdiri lagi." Katanya.


Perlakuan Jonathan yang tadi sangat berpengaruh bagi Ardelia. Kakinya bergemetar, jantungnya terus berdetak kencang.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hari pertama pindah kerja sungguh sangat melelahkan. Ternyata lebih susah menjadi CEO dari pada seorang sekertaris.


"Uhhhh otak dan badanku terasa lelah sekali." Ucapnya sambil meregangkan otot ototnya.


"Apa kamu lelah?" Tiba tiba Jonathan datang membawa sebotol minuman untuk dia berikan ke pada Ardelia.


"ASTAGA." Kaget Ardelia


"Maaf.. Ini minumlah." Ucapnya.


Ardelia tersenyum dan mengambil minuman dari tangan Jonathan.


"Trimakasih pak." Ucapnya.


Tidak ada yang bicara lagi, membuat Ardelia melirik Jonathan. Dan saat itu juga Jonathan juga sedang menatap Ardelia.


"Hemm maaf pak.. apa ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak."


"Lalu."? Tanya Ardelia bingung.


"Lalu? Apa kamu tidak lihat? Ini sudah jam pulang kerja bukan?"


"Ahhh iya pak.. sebentar saya selesaikan dulu merapikan meja saya." Ucap Ardelia.


Jonathan tidak menjawab malah duduk di atas meja Ardelia.


"Apa bapak tidak pulang?"


Jonathan melirik adik tirinya yang dia lihat semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta.


"Saya menunggumu."


"Ah Ahhh hahaha... tidak usah pak saya bawa kendaraan sendiri." Ardelia kaget tapi dengan cepat dia tertawa sopan.


"Saya ingin numpang denganmu."


Perkataan Jonathan tidak bisa Ardelia tolak. Dia ingin terik tapi tidak bisa.


"Lalu mobil bapak dimana?" Ardelia bertanya halus sambil tersenyum memaksa.


Jonathan ingin tertawa melihat Ardelia kesal. Dia senang membuat Ardelia kesal padanya.


"Sedang perbaikan." Ucapnya enteng.


Ardelia sungguh kesal harus pulang bersama kakak tirinya yang sangat dia benci ini.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Saat di parkiran Ardelia lagi di kejutkan oleh Jonathan yang sudah memakai helem di kepalanya. (IYALAHH DI KEPALA MASAK DI KAKIπŸ˜…).


"Apa hal ini sudah di rencanakan olehnya. Kenapa sudah ada helem di kepalanya?" Tanyanya dalam hati.


"Biar saya yang bawa." Ucap Jonathan pada Ardelia.


Ardelia sempat menolak tapi Jonathan tetap memaksa dan hasilnya Ardelia harus mengalah.


Saat sudah di atas motor, Jonathan menyuruh Ardelia untuk berpegangan.


"Kenapa kamu gak pegangan?"


"Tidak uasah."


Jonathan tidak sabar, dan langsung mengegas motornya, dan hasilnya Ardelia menabrak punggung Jonathan.


"Aaaaaa." Triak Ardelia.


"Tu kan.. makannya pegangan." Jonathan langsung menarik tangan Ardelia dan melingkarkannya di pinggangnya.


Jonathan tersenyum saat Ardelia tidak menolaknya sama sekali.


"Berhasil."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁*


AYOK DI LIKE DAN COMMENT YAHH. πŸ˜—πŸ˜—