
"Berhasil". Senang Jonathan dalam hatinya.
Keramaiyan jalan membuat laju kendaraan sedikit melambat. Langit sore yang indah, dan juga suara motor di sertai kelakson memberikan alunan musik di sore hari.
Hati Jonathan yang begitu bahagia, sangat terliaht dari raut wajahnya. Senyuman yang begitu menawan siap melelehkan setiap hati wanita yang melihatnya.
Kebahagian Jonathan membuat dia tidak sadar, bahwa wanita yang di boncengnya sedang tertidur sangat pulas.
"Turun." Ucap Jonathan saat sudah sampai di rumahnya.
Tidak ada gerakan sama sekali membuat Jonathan meliaht lewat sepion kaca. Jonathan tersenyum melihat Ardelia yang tertidur samgat pulas.
Jonathan melepaskan helemnya, lalu melepas helem Ardelia, walaupun sedikit kesusahan tapi semuanya berhasil.
Jonathan dengan senang hati mengangkat tubuh adiknya itu. Saat ada seorang pelayan ingin menyapa, Jonathan dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Saat memasuki rumah, Jonathan hanya fokus mengendong Ardelia, dia tidak menyadari kedua orang tuanaya sedang melihat kejadian itu.
"Pa apa mama gak salah lihat?" Tanya mama Tia kepada suaminya.
"Papa rasa rencananya berhasil." Papa Dion tersenyam senang.
"Iya mama berharap mereka bisa menerima satu sama lain."
ππππππ
Jonathan membaringkan Ardelia sangat hati hati, seperti takut jika singa betina ini terbangun dan mencakar mukanya.
Jonathan melepaskan kedua sepatu Ardelia dan menyelimutinya setengah badan.
"Ternyata kamu berat juga ya? Badan ku tersa sakit semua."
Jonathan memandang Ardelia dengan tatapan yang penuh sayang.
CUP
Jonathan mengecup sekilas kening Ardelia lalu pergi dari kamar adiknya.
ππππππ
Hari semakin sore, langit sudah mulai gelap. Lelah membuat sorang wanita tidur sangat lelap.
"Hemmm mmm." Ardelia menggeliat di atas kasur.
"Astaga jam berapa ini?"
Dia teringat bahwa dia tertidur di atas motor bersama Jonathan, tapi selanjutnya dia tidak ingat apa apa lagi.
Ardelia tidak ambil pusing dia langsung mandi dan sedikit berdandan, lalu dia pergi ke bawah.
Sesampainya di bawah dia tidak melihat ada mama dan papanya. Dia menuju meja makan, tapi semua sudah rapi.
"Non Adel." Sapa seorang pelayan.
"Apa nona ingin sesuat biar saya buatkan." Tawarnya.
"Tidak usah bik nanti biar saya yang bikin sendiri." Tolak Ardelia.
Pelayan itu tidak pergi malah menghampiri Ardelia.
"Nona saya tadi sangat bahagia melihat Nona dan Tuan Jonathan seperti tadi." Ucap pelayan antusias.
"Maksud bibik?" Tanya Ardelia bingung.
"Nona saat pulang kerja bareng Tuan, aplagi saat Nona ketiduran dan Tuan Jonathan langsung menggendong Nona. Saat saya ingin menyapa, Tuan Jonathan langsung menggelengkan kepalanya. Tuan pasti takut jika Nona tergangu tidurnya. Tuan Jonathan sangat kuat ya non? bisa menggendong Nona sampai kelantai dua, uhhh mantap." Ucapnya sambil membayangkan sesuatu.
Saat itu Jonathan masuk ke dalam dapur. Dengan cepat pelayan itu berpamitan ke pada majikannya.
"Nona saya permisi ke belakang dulu ya. Mari Tuan." Ucapnya dan langsung pergi dengan cepat.
Ardelia melirik Jonathan, lalu kembali mengambil cemilannya.
Tiba tiba mama Tia datang dan menyapa anaknya.
"Sayang apa kamu lapar?"
"Sedikit." Jawabnya.
"Kasian anak mama. Maaf ya mama kira kamu tidak makan lagi, jadinya mama kasi buat para pelayan makanannya. Apa mau mama bikinin sesuatu?" Tawar mama Tia.
"Tidak usah ma.. mama istirahat aja." Ucap anaknya.
"Baiklah."
Saat mama Tia berbalik Jonathan juga ada disana.
"Nak apa kamu juga lapar? Tunggu sebentar ya mama bikinin sesuatu untuk kalian makan."
"Tidak usah saya tidak lapar." Ucapnya dingin.
"Ohhh iya iya." Jawab mama Tia dan langsung tersenyum kepada anaknya Ardelia. Seperti mengatakan tidak papa.
Ardelia mengambil roti tawar dan langsung memakannya. Lalu dia mengambil alat masak dan siap membuat menu yang paling gampang. Ardelia sudah mulai memasak nasi goreng dengan roti yang masih setia di bibirnya.
Saat Ardelia ingin berbalik Jonathan sudah ada di belakangnya dan dengan cepat ikut memakan ujung roti yang sedang menempel di bibir Ardelia.
"Saya lapar."
ππππππ
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENTNYA YAHH πππ