
"Mau menikahimu." Jonathan menatap Ardelia, sedangkan Ardelia tersenyum miring.
"Apa kau tidak percaya?" Entah apa yang di pikirkan Jonathan saat ini. Tiba tiba dia mengatakan hal yang mungkin tidak masuk akal menurutnya. Tapi hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Apa anda baik baik saja Tuan Jonathan?" Tanya Ardelia.
Ardelia tidak habis pikir dengan kakak tirinya itu. Bagaimana dia bisa dengan gampangnya mengatakan cinta dan sekarang dia mengatakan ingin menikahinya? Sungguh dia tidak mengenal Jonathan yang sekarang.
"Apa saya terlihat seperti orang sakit?" Tanya Jonathan balik
"Iya.. tiba tiba anda mengatakan hal yang sangat bodoh dan tidak masuk akal sama sekali."
"Apa anda tidak sadar prilaku anda yang dulu sangat sangat membenci saya, bahkan anda rela melakukan apapun demi saya dan mama saya pergi dari rumah anda. Sekarang anda datang mengatakan kata cinta dan tadi anda ingin melamar saya begitu? apa itu masuk akal? Dan siapa yang akan mau percaya dengan perkataan anda jika pada dasarnya anda membenci saya lalu tiba tiba datang mengatakan kata cinta? ." Kata Ardelia panjang kali lebar.
"Apa saya salah mengatakan hal itu dengan wanita yang saya cintai?" Jonathan masih setia dengan sikapnya yang cool.
"Tidak.. Tapi anda mengatakan denagn orang yang salah." Jawab Ardelia.
"Dimana letak kesalahannya?"
Ardelia membuang nafas dengan kasar.
"Apa anda lupa, jika orang tua kita menikah dengan sah dan itu menyatakan jika kita saudara tiri." Ardelia emosi.
"Lalu kenapa kau mengatakan jika kau tidak memiliki kakak kepada atasanmu itu dan juga kau tidak masuk dalam kartu keluarga wijaya?" Jonathan mulai terpancing emosi jika dia mengingat saat Ardelia mengaku tidak memiliki saudara lagi.
"SEMUA ITU KARANA ANDA TUAN JONATHAN." Ardelia berteriak di hadapan Jonathan.
"Anda yang membuat hidup saya susah. Saya rela masih menggunakan nama keluarga Atmaja yang saya tidak tau di mana keluarga itu. Bahkan saya sangat susah mencari tanda tangan ayah saya hanya untuk bersekolah."
"Mama saya yang menikah dengan orang kaya tapi saya tidak pernah menikmatinya. Saya merasa seperti pengemis yang hidup penuh dengan belas kasihan."
"Jika bukan karana papa Dion dan mama saya, mungkin saya sudah pergi dari kehidupan keluarga Wijaya sejak dulu. Saya lelah dan capek harus menerima hinaan dan makian dari bibir anda Tuan, terlebih lagi dengan mama saya.. hiiiiihiiii."
CUP
Jonathan mendaratkan satu ciumannya di bibir Ardelia. Dia tidak kuat harus mendengar perkataan Ardelia lagi yang juga menusuk hatinya.
PLAKKKK.
Ardelia menapar Jonathan.
"Apa yang anda lakukan berng**k" teriak Ardelia marah.
"Maaf tidak untuk orang seperti anda." Ardelia mengelap air matanya, bibirnya bergetar menahan tangis tapi air matanya sudah keluar begitu saja.
"Berhentilah menggangu hidup saya Tuan Jonathan. Biarkan saya hidup dengan tenang. Saya pasti akan menepati janji saya yang dulu, pergi secara berlahan dari kehidupan keluarga Wijaya."
"TIDAK." Jonathan memeluk Ardelia dari belakang saat Ardelia mau menuju pintu keluar kamar.
"Lepasakn saya Tuan dan pergilah dari apartment saya." Kata Ardelia berusaha melepas pelukan Jonathan.
Tapi tidak ada respon dari Jonathan, dan Ardelia masih berusaha melepaskan diri.
BRUKKKKK
Jonathan ambruk kelantai apartment Ardelia. Seketika itu Ardelia melihat Jonathan dan dirinya langsung panik.
"Tuan bangun." Kata Ardelia sambil menepuk nepuk pipi Jonathan.
"Tuan jangan mati di sini. Tuan jangan membuat saya takut Tuan." Ardelia berusaha mengangkat tubuh Jonathan dan meletakanya di atas kasur.
"Astaga badannya panas sekali. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku telfun mas Yayan aja yahh." Ardelia langsung menghubungi Yayan.
Setelah beberapa menit akhirnya Yayan sampai di apartment Ardelia dan tidak lupa membawa dokter juga.
"Bagaimana ke adaannya dok?" Tanya Ardelia.
"Tuan Jonathan mengalami mag. Mungkin dia tidak makan dan minum dengan Cukup dan juga tidak teratur." Jelas dokter itu.
"Jika Tuan Jonathan sadar nanti, berikanlah bubur dulu dan ini resep obatnya yahh." Jelas dokter lagi.
"Trimakasih dokter." Kata Yayan dan mengambil resep obat itu.
"Sama sama.. jika seperti itu saya permisi dulu." Dokter pun pergi di ikuti oleh Yayan.
Setelah mengantar dokter itu Yayan kembali masuk kedalam kamar Ardelia.
"Maafkan saya."
ππππππ
IYA SAYA MAAFINπππ
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENTNYA πππ