
Kebencian Jonathan benar benar mendarah daging. Tapi dia masih memikirkan kebahagian papanya.
"Iya saya sadar. Tanpa keluarga wijaya, saya dan ibu saya tidak bisa hidup layak. Tapi saya juga tau diri dan tidak mungkin memalsukan laporan keuangan itu apa lagi berniat untuk korubsi itu salah. Saya memang yang membuat laporan itu. Tapi ini bukan milik saya." Jelas Ardelia
"Kamu sama saja dengan ibumu pandai berekting dan mengharapan belas kasihan dari seorang pria!! Dasar jal**g."
PLAAAKKK..
Satu tamparan berhasil lagi mendarat. Ardelia tidak bisa lagi memendap air matanya. Butiran bening sudah mendarat dengan sempurna.
Jonathan ingin mebalas tamparan Ardelia, dia sudah mengangkat tangan kanannya tapi tidakannya dia urungkan. Dia melihat begitu jelas adik tirinya menangis. Hatinya sakit melihat itu, dia seperti melihat ibunya dalam diri Ardelia. Dia ingat bagaimana ibunya mengeluarkan airmata saat menahan rasa sakit akibat penyakit yang di deritanya.
"Kenapa diam Ahhh? Ingin memukul saya iya? pukul saya cepat." Tangtangan Ardelia.
Ardelia memaksa Jonathan memukulnya. Tapi Jonathan menepis tangan Ardelia dan Jonathan membalikan badannya. Sekarang Jonathan telah memunggungi Ardelia.
"Semoga tuhan menunjukan kebenarannya. Dan memberikan anda menglihatan yang tajam. Supaya bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Saya permisi." Lanjutnya.
Jonathan masih berdiam diri, dia hanya mendengar apa yang di ucapkan Ardelia tanpa menyaut. Sampai Ardelia berheti dan berkata lagi.
"Saya akan buktikan jika saya tidak bersalah. Jika memang saya terbukti salah saya akan menuruti perintah anda tanpa syarat. Jika nanti saya tidak terbukti salah, saya hanya minta tolong kepada anda, horbatilah ibu saya dan bersikaplah baik padanya. Dan sebagai gantinya saya akan berheti bekerja di sini dan tidak menjadi beban dalam hidup anda lagi. Saya sadar saya tidak pantas berada dalam keluarga wijaya. Jadi saya mohon jagalah ibu saya dengan baik, jika waktunya nanti tiba. Trimakasih atas waktunya dan saya permisi." Kata Ardelia penuh dengan keseriusan.
Jonathan diam. Hatinya merasa tidak karuan. Perkataan adik tirinya mebuat dia merasa bersalah apa lagi tadi dia melihat Ardelia menangis. Ingin sekali dia membawa adiknya itu dalam peluknya. Tapi dia sadar itu tidak mungkin.
ππππππ
"Nona apa anda baik baik saja?" Tanya Yayan sambil memberikan saput tangan kepada Ardelia.
Tapi Ardelia menolak
"Trimakasih mas, saya sudah punya." Jawannya sambil meperlihatkan saput tangannya.
"Mas pangil adel aja yahh." Katanya lagi.
"Iya nona.. ehh maksudnya adel." Kata yayan dan berhasil membuat Ardelia tertawa.
"Silakan adel." Saut Yayan sambil tersenyum ramah.
Setelah kepergian Ardelia Yayan berkata.
"Ahhh si bos cantik cantik di bikin nangis. Kualat baru tau rasa uhhhh." Katanya mengejek bosnya.
Ardelia pergi kekambar kecil. Dia membasuh mukaknya dan memasang sedikit make up supaya tidak kelihatan kusut apalagi ketahuan menangis.
"Kenapa harus aku lagi yang merasakan rasa ini? Rasa sakit karna hinaan yang dia berikan. Tidak bisakah karma berbalik kepadanya? Ooohhh tuhaan." Katanya sambil terus membasuh bukaknya.
ππππππ
FLASHBACK
"Kak bawalah syal ini supaya kakak tidak kedinginan." Kata anak kecil yang tidak lain lagi adalah Ardelia.
Saat sang kakak tirinya akan berangkat ke kota M. Dia memberikan sebuah syal yang sangat bagus untuk kakanya. Syal itu adalah sayl rajutan pemberian dari neneknya yang sudah meningal dunia. Takut kakaknya kedinginan dia memberikan barang berharganya itu. Tidak papa nanti dia bisa membeli lagi pikirnya.
"Kenapa? Kamu senangkan aku pergi dari rumah ini? Sampai kamu memberikan hadiah kepadaku cihhh." Kata Jonathan sambil mengabil sayal itu lalu membuangnya tidak lupa mengijak nginjak syal itu.
"KAKAK." Triyak adel, kaget syal pemberian neneknya di buang terlebih lagi diinjak oleh Jonathan. Dia ingin marah tapi tidak bisa.
"Jangan pernah memanggilku kakak, aku bukan kakakmu dan tidak akan pernah, mengerti? Dan satu lagi, jangan pernah berharap kamu bisa menguasai semua ini. Walaupun aku pergi bukan berarti tidak kembali." Kata Jonathan sambil mendorong adik tirinya.
Ardelia hanya menangis. Menangissi syal pemberian dari neneknya.
"Dasar wanita tidak tau diri, berpura pura baik tapi hanya sandiwara belakang." Ejek Jonathan.
"CUKUP, KAMU JAHAT JAHAT." triak Ardelia lalu berlari meninggalkan Jonathan sambil menangis.
ππππππ
Selamat membacaππ