
"Apa yang kalian lakukan?" Ardelia yang kaget melihat dimana terlihat Jonathan mersama seorang wanita seperti sedang berciuman.
"Nona anda sudah datang?" Ucap Yayan yang tiba " nongol di belakang Ardelia.
Tidak ada sautan dari siapa pun. Jonathan yang memilih duduk di kursinya dan wanita itu masih tetap di tempat yang sama..
"Hem hem... Nona." Yayan kembali bertanya.
"Ehhh iya mas."
Yayan yang mendapat respon seperti itu, seolah sadar dengan kebingungan Ardelia.
"Ohhh iya Nona.. perkenalkan ini Nona Maora sekertaris Bos Jonathan yang di kota M.
"Dan Nona Maora ini adalah Nona Ardelia adik dari Bos Jonathan." Ucap Yayan.
Ardelia kaget dengan ucapan Yayan. Tetapi Yayan tidak peduli dengan itu.
"Hallo Nona Ardelia senang bertemu dengan anda." Ucap Maora sambil mengulurkan tangannya.
Ardelia pun mejabat tangan Maora dengan senyuman memaksa.
"Yan saya minta atur tempat untuk Maora." Jelas Jonathan
"Baik bos."
Yayan pun menghampiri Ardelia yang masih tidak tau harus bersikap seperti apa. Kehadiran Jonathan pun sudah membuatnya kaget, dan sekarang di tambah seorang wanita yang tidak dia kenal.
"Nona Ardelia maaf sebelumnya. Mulai sekarang anda sudah meniliki ruangan sendiri. Dan tempat anda yang dulu akan di tempati oleh Nona Maora." Jelas Yayan.
Ardelia yang mendengar itu langsung melihat Yayan. Dia benar benar di kagetkan dengan banyak hal hari ini.
Ardelia tidak menjawab ucapan Yayan, yang membuat Yayan berbicara lagi.
"Nona mari ikut saya."
Ardelia hanya menurut dan mengikuti Yayan.
ππππππ
"Nona ini adalah ruangan anda. Dan sementara saya dan Nona harus berbagi ruangan." Ucap Yayan.
"Kenapa?" Tanya Ardelia.
"Maksud Nona apa?" Yayan balik bertanya.
"Kenapa Adel dipindahakn mas?" Tanya Adel.
"Nona ini printah dari Bos Jonathan. Dan bukannya Nona sendiri dulu yang memita supaya tidak satu ruangan dengan Bos Jonathan? Jadi sekarang yaaa si Bos mengabulkannya." Jelas Yayan.
Ardelia tidak bisa berkata apa apa lagi. Apa yang di katakan Yayan benar.
"Ohhh iya Nona.. bagaimana pertemuanya tadi?" Tanya Yayan.
"Semuanya lancar mas." Ucap Ardelia dan sambil menuju meja kerjanya.
"Baguslah jika begitu.. ohh iya Nona... Bos Jonathan tadi memita laporan tentang peroyek yang sedang berlangsung Nona." Kata Yayan
"Iyaa nanti saya akan menemuinya." Jawab Ardelia
"Baiklah.. kalau begitu saya lanjut kerja dulu ya Nona." Ucap Yayan dan di angguki oleh Ardelia.
ππππππ
Tok tok tok.
"Masuk." Ucap Jonathan dari dalam.
"Permis pak Jonathan saya mau memberi tau tentang proyek yang anda minta." Ucap Ardelia.
Jonathan yang di ajak bicara sama sekali tidak melihat Ardelia. Dia hanya sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
"Maaf pak jo..."
"MAORAAAA." Ucap Jonathan yang cukup kencang di tambah lagi dia memotong ucapan adik tirinya itu.
Maora yang di pangil pun buru buru mendekati meja Jonathan.
"Iya Tuan Jonathan." Ucap Maora.
"Kau urus pekerjaan yang ini, setelah itu laporan ke saya." Pintanya.
"Baik Tuan Jonathan. Nona Ardelia mari." Maora pun mengajak Ardelia ke tempat kerjanya.
Sedangkan dalam hati Ardelia begitu sakit saat Jonathan enggan berbicara padanya bahkan sekedar melihat pun tidak.
"Apa dia sangat marah pada ku? Hingga dia begitu dingin." Batin Ardelia.
Setelah memberikan laporan itu kepada Maora, Ardelia pun kembali ke ruanganya.
ππππππ
Hari yang melelahkan untuk Ardelia. Pekerjaan yang lumayan banyak dan sikap Jonathan yang berubah padanya membuat dirinya bertambah pusing.
"Mau minum kopi besama?"
ππππππ
**HALLO MAAF YAA AUTHOR LAMA UP'NYA.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAHHπππ**