Brother Is My Love

Brother Is My Love
BUKAN SURAT CINTA



Saat pagi hari, Ardelia terbangun dari tidurnya. Merasakan bagian kakinya terasa lebih sakit dari pada kemaren.


Disanalah Ardelia benar benar di manjakan oleh mamanya. Tidak pernah terlewatkan perhatian dari sang mama. Bahkan sekedar mandi pun mamanya ikut serta.


Papa Dion pun begitu, selalu memanggil dokter untuk mengecek keadaan putrinya. Tapi tidak dengan Jonathan, bahkan Ardelia tidak pernah melihatnya lagi, setelah kejadian di wijaya company.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


TIGA HARI BERLALU


Keadaan Ardelia sudah semakin membaik. Bahkan sekarang dia sudah memakai pakaiyan kantornya lagi. Model rambut yang baru, dan sedikit riasan di wajahnya, semakin menambah kecantikannya. Dengan senyuman yang mengembang, dia menghampiri keluarganya yang sedang menikmati sarapannya.


"Selamat pagi semuanya." Sapanya.


"Selamat pagi sayang." Saut kedua orang tuanya.


Jonathan hanya diam, sambil sekilas menatap adik tirinya


"Ma bagaimana.. apa Adel sudah rapi dan cantik maxsimal?" Tanyanya kepada mama tia.


Mamanya tertawa, merasa aneh dengan sikap anaknya yang sedikit centil hari ini.


"Haha kamu ini ada ada saja. Bukannya kamu memang cantik, kenapa harus bertanya seperi itu sih?"


"Hehe soalnya ada yang sepesial hari ini mah." Saut Ardelia sambil berjalan menuju meja makan untuk ikut sarapan.


"Nak apa kamu sudah sembuh? Jika belum tidak usah kekantor. Nanti papa akan urus semuanya." Kata papa Dion.


"Sudah kok pa. Lihat Adel sudah bisa berjalan lagi. Bahkan Adel kemarin jalan jalan dengan Rara." Saut Ardelia.


Iya kemaren Ardelia memang pergi dengan Rara. Dan melakukan perawatan dan sedikit mengubah penampilannya.


"Ya sudah jika seperi itu. Dan kamu Jonathan tolong jaga adik kamu, papa tidak mau kejadian tempo hari terulang lagi." Kata papa Dion tegas.


"Dia bukan anak kecil yang harus di jagain pa." Saut Jonathan dan langsung pergi kekamarnya untuk bersiap ke kantornya.


"Kadal ini memang tidak punya otak, di ajak ngomog malah pergi." Kata Ardelia dalam hati.


"Ma pa Adel berangkat yahh." Mamit Ardelia kepada orang tuanya.


"Iya hati hati." Begitulah pesan orang tua kepada anaknya.


Ardelia pun pergi dengan mobil yang di berikan oleh ayahnya. Dia menuju ke wijaya company.


Ardelia menemui rekan kerjanya yaitu mbak nita.


"Hehe iya mbak, aku ada sedikit masalah. Dan ini tolong berikan ke pada sekertaris tuan Jonathan." Jawab Ardelia sambil memberikan surat kepada mbak nita.


Mbak nita pun mengambilnya dan sedikit terkejut akan surat itu.


"Apa kamu yakin? Apa tidak bisa dibicarakan baik baik?" Kata mbak nita lagi.


"Seperti yang aku bilang mbak, aku sudah dapat pekerjaan yang lebih bagus. Jadi sekertaris seorang DIRECTOR." Katanya semangat.


"Wahhh kamu hebat. Ya sudah selamat yaa, semoga kamu nyaman bekerja disana."


"Iya mbak. Trimakasih untuk segalanya. Dan aku pamit ya mbak, jaga kesehatannya ya." Kata Ardelia.


"Iya kamu juga." Saut mbak nita.


Merekapun berpelukan dan berpisah.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jonathan sampai di wijaya company. Dia sempat melirik tempat kerja Ardelia. Tapi kosong, tempat itu masih kosong, lalu dimana Ardelia? Bukannya dia sudah pergi bekerja? Begitulah pikirnya.


"Selamat pagi bos." Sapa Yayan kepada bosnya.


"Hemm." Hanya itu yang keluar dari bibir Jonathan


"Bos ini ada surat dari nona Ardelia. Tadi diberikan oleh nona Nita." Kata yayan.


Jonathan mengambil surat itu. Dan membukanya setelah duduk di kursi kebesaranya.


Jonathan kaget, dengan isi surat tersebuat. Ardelia mengundurkan diri dari perusahaannya.


"Dia benar benar menepati janjinya." Katanya pelan hampir tidak terdengar.


"saya rasa pasti akan ada perang lagi dirumah nanti." Sambung Jonathan lagi


"Ahhh maksud bos?" Tanyanya Yayan bingung.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Lohhhh peranggg coyy... kira kira bagaimana kelanjutannya


JANGAN LUPA LIKENYA YAHHHπŸ˜—πŸ˜