
Braaakkkk
Tepat sasaran!! Ardelia kaget dengan apa yang barusan terjadi. Sebuah berkas jatuh tepat di hadapannya. Dia mengambil berkas itu dan napak tidak hasing baginya. Iya itu laporan yang dia buat kemaren malam dengan penuh usaha sampai dia baru tidur jam 3 dini hari. Akibat mendapat telfon dari atasanya untuk menyelesaikan laporan keuangannya karna permintaan dari CEO wijaya company.
"Apa benar itu milikmu." Tanya Jonathan dengan masih bersikap cool.
"Iya tuan, ini memang laporan yang saya buat. Apa ada kesalahan?" Tanyanya balik.
Jonathan tersenyum mengejek keadaan saat ini, dia perfikir adik tirinya ini benar benar pandai berekting.
Jonathan mendekat dan terus mendekat, sambai Ardelia mundur beberapa langkah.
"Kamu benar benar sangat pintar. Memanfaatkan situasi ini, lalu bersandiwara. Apa kamu ingin mencoba membodohi saya? Seperti membodohi papa saya?" Tanya Jonathan dengan suara yang begitu lembut.
Ardelia benar benar gugup. Bagaimana tidak Jonathan sangat dekat denganya, jatungnya berdebar, kakak tirinya benar benar tampan. Ingin sekali dia menyentuh wajah kakak tirinya itu. Tapi kesadarannya mulai pulih.
"Aaa-ppaa maksud tuan? Saya tidak mengerti?" Tanya Ardelia gugup.
Dia memang tidak mengerti, dengan apa yang maksud kakak tirinya itu..
"Baca laporan yang kamu buat, dan jelaskan pada saya." Printahnya.
Ardelia membaca dengan teliti. Di sana dia sadar ada sesuatu yang salah, ini bukan milknya.
"Maaf saya memang mebuat laporan keuangan. Tapi ini bukan milik saya." Belanya
Jonathan tertawa tapi bukan karna bahagia. Melainkan tertawa akan pemakuan adik tirinya ini.
"HAHAHA.... Lalu siapa yang mebuat laporan ini? Orang mana yang kamu tuduh sekarang? AHHHHH JAWAB?" Bentak Jonathan
Dan itu benar benar membuat Ardelia kaget dan ketakutan. Kejadian dulu benar benar terulang lagi. Bentakan sang kakak benar benar mengiris hatinya.
"Apa kamu kekurangan uang? Apa papa saya tidak memberimu uang? Sampai Sampai kamu ingin korubsi di perusahaan ini?" Tanyanya lagi.
Jonathan merogoh saku celananya, dan mengeluarkan dompet. Jonathan mengambil uang tunai begitu banyak dan melemparkan tepat di hadapan Ardelia.
Sedangkan Ardelia, dia tidak bergerak sedikitpun. Marah, kecewa bercampur menjadi satu.
"Kenapa diam? Apa uangnya kurang?" Tanya Jonathan lagi.
Jonathan kembali melepar uang tunai kepada Ardelia.
"Dasar wanita tidak tau diri, parasit." Ejek Jonathan sambil tersenyum tipis.
"Kenapa papa bisa meperkerjakan kariawan seperi kamu? Bahkan kemampuanmu sangat redah. Mungkin dia hanya kasian kepadamu." Imbuhnya lagi.
"Kenapa kamu tidak seperti ibumu saja? Cari laki laki yang mempunyai uang banyak lalu menikahlah dengannya. Bukanya kamu pandai mengoda sama seperti ibumu itu?" Ejeknya lagi.
PLAKKKK..
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Jonathan. Kesabaran seorang Ardelia putri atmaja benar benar sudah ilang. Bahkan keinginan menyentuh pipi kakak tirinya itu sudah terkabulkan walaupun dengan sebuah tamparan (ππ)
"Anda boleh menghina saya tapi tidak dengan ibu saya. Ohh iya soal kemampuan mungkin saya tidak sehebat anda tapi saya juga tidak sesombong anda. Asal anda tau juga saya tidak kekurangan uang, hidup saya lebih dari kata cukup, dan saya tidak butuh belas kasihan dan juga uang anda jadi ambillah. Dan saya juga bisa hidup tanpa bantuan dari anda." Kata Ardelia panjang lebar sambil menahan airmatanya.
Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Jonathan.
"Iya hidupmu memang lebih dari kata cukup. Tapi apa kamu sadar tanpa keluarga wijaya apa kamu bisa seperi sekarang.. ohhh iya tadi katamu tidak butuh melas kasihan dan uang saya? Haha apa dirimu tidak sadar? Semua ini adalah milik saya JONATHAN WIJAYA putra dari DION WIJAYA." Jelas Jonathan penuh denga penekana, suapaya Ardelia sadar dengan situasi saat ini.
Ardelia bungkam, situasi saat ini memang sudah berbeda. Dia sekarang sadar apapun yang dimiliki papa tirinya itu adalah milik kakak tirinya yaitu Jonathan wijaya.
"Buktikan bahwa kamu bisa hidup tanpa kluarga saya." Tangtang Jonathan
Harga dirinya benar benar jatuh sekarang. Ardelia ingin sekali mencakar Jonathan tapi itu tidaklah mungkin.
"Ingat nona tanpa papa saya nona tidak bisa seperti sekarang, jadi jangan pernah macam macam dengan saya. Jika sampai itu terjadi saya akan bertidak diluar dugaan kamu. Dan saya akan membuat kamu dan ibu kamu menderita." Ancam Jonathan.
ππππππ
Huhu makin seru nihhh yukkk baca terus yaa. Jangan sampai ketinggalanππ